
Akhirnya Tania pun berhasil menetralkan perasaan nya yang mulai melow,
"Baiklah....aku duluan ya..."Ucap Tania seraya mengulas senyumannya,
"Kak Tania baik-baik saja kan...?maaf..karena aku kakak jadi sedih gitu"Ucap Indah
"Bukan salah mu, kau gadis periang, tetaplah menjadi gadis seperti itu"Ucap Tania seraya membelai lembut kepala Indah, seperti seorang kakak pada adiknya,
"Baiklah... kakak hati-hati ya"Ucap indah dengan penuh senyuman,
"Kau juga"Ucap Tania seraya melangkah kan kakinya,
Akhirnya perbincangan yang penuh drama itupun berakhir saat mobil Tania sudah terlihat menjauh dari hadapan Indah, Begitupun dengan indah, ia segera melajukan mobilnya menuju ke perusahaan nya,
*****
"Ara sebaiknya kau duduk santai, biar aku dan Arion saja yang melakukan ini"Ucap Daniel seraya mengambil alih Sutil yang Ara pegang,
"Iss...kalian kenapa jadi begini, biar aku saja"Ucap Ara dengan masih memegang Sutil yang Daniel pegang juga, namun tiba-tiba, Daniel merasa mual kembali seperti semalam,
"Kamu tidak apa-apa kan Nil...jangan buat aku panik ah...gak lucu"Ucap Ara seraya memijit tengkuk Daniel, Arion yang melihat itu segera mendekati mereka dan menggantikan Ara untuk memijit Danial,
"Sebaiknya kamu periksa deh nil... ini udah dari semalam kamu mual kayak gini"ucap Arion
"Jadi ini Daniel beneran mual? dia lagi tidak bercanda...?"Ucap Ara tidak percaya,
"Iya...udah dari semalam Daniel kayak gini, "ucap Arion yang kini telah membuatkan Daniel segelas air gula,
"Kau tau dari mana buat kayak gini?" tanya Daniel setelah meneguk habis air gula yang Arion buatkan,
Bukannya berterima kasih malah bertanya " sungut Arion,
__ADS_1
"Cih... cuma nanya doang kan...tapi kau benar saja, akhir-akhir ini aku merasa ada perubahan dari diri aku, kenapa ya...? sering ngantuk, gampang lelah, sekarang malah mual-mual, "Ucap Daniel seraya duduk di kursi yang ada di dapur Ara, menyandarkan tubuhnya seraya menatap langit-langit atap dapur Ara,
"Sebaiknya kau diam saja, biar aku dan Arion yang melakukan, nanti minum obat lalu istirahat"Ucap Ara seraya menata makanan di meja makan,yang terletak tidak jauh dari dapur Ara,
"Maaf sudah merepotkan kalian"Ucap serius Daniel yang wajahnya sudah berubah serius tidak se tengil tadi,
"Kau tamu kami, sudah seharusnya kami yang melayani kamu, "Ucap serius Arion seraya menuangkan air putih di gelas masing-masing yang ada di meja makan,
Saat Ara dan Arion masih berkutat dengan beberapa masakan yang belum tersaji di tempat nya, Daniel membuat Vidio mereka, seraya tersenyum, membayangkan jika dirinya dan Wita yang melakukan apakah se senang yang Ara dan Arion lakukan,
"Arion... apakah kau senang melakukan hal itu....?" Tanya Daniel
"Tentu" jawab Arion singkat,
"Kau tidak merasa bahwa ini tidak pantas untuk seorang Arion lakukan?" Ucap Daniel lagi,
"Kenapa kau berkata seperti itu Daniel... apa salah jika suami melakukan hal seperti ini, apalagi sang istri sedang hamil besar, lagian, melakukan hal berdua itu bisa menambah waktu kebersamaan kita lohh"Ucap Arion yang berhasil membuat Ara tersenyum,
"Ahh... kalian adalah orang-orang hebat, orang-orang berkarir, malah lebih memilih hidup sederhana seperti ini, dan kau Ara, apakah kau tidak mau hidup seperti wanita lain diluar sana" kini malah Ara yang mendapat pertanyaan itu,
"Iya sih... tapi kau wanita hebat Ra... Eman loh.. kehebatan mu"
"Memang nya kenapa, kalau dia ingin kerja di perusahaan aku, tidak pernah melarang nya, hanya saja, untuk saat ini ,Ara tidak ingin ke perusahaan, karena ingin merawat sendiri anak kami"Ucap Arion seraya mengelus perut besar Ara,
"Kau kapan menyusul ?" tanya Arion,
"Kami sudah mengikuti program nya, entah kapak di kasihnya, ya kami hanya bisa menunggu nya"ucap daniel
"Oh iya... Troy dan Tania mereka tinggal di apartemen itu kan....?"Tanya Daniel
"Mereka sudah pindah ke Apartemen Grand Dharmahusada Lagoon"Ucap Arion,
__ADS_1
"Kau kan tahu sendiri, mama nya Troy masih tidak bisa menerima Tania, bukan hanya.mama nya saja sih, tali seluruh keluarnya tidak menerima Tania, kecuali papa dan Reza, hanya mereka yang merestui pernikahan itu"Lanjut Arion,
"Aku tidak bisa menyalahkan Tante dan mama mertuaku, kematian Mega masih teringat jelas, ini mungkin cobaan buat Tania, ya semoga saja, mereka kuat"Ucap Daniel yang tidak tahu harus berkata apa,
"Kasihan sekali Tania, "ucap Ara,
"huffttt... baiklah... kalau begitu, kita mulai sarapan paginya"Ucao Arion memecah keheningan,
"Oya Daniel, kamu tidak lupa kan menyuruh pak Rudi untuk mampir ke papa?"
"Sudah aku bilang tadi sebelum ia berangkat, dia kan memberi kabar kalau sudah sampai di rumah Om"Ucap Daniel,
Saat berkata itu, Daniel teringat kalau neneknya ada di rumah Om nya, apakah ada drama....?, bagaimana perasaan Tante ... bagaimana perasaan kak Andin...? begitulah isi fikiran Daniel, mengingat semua wajah yang tidak di sukai oleh neneknya itu,
"Arion...apakah...kau...?"
"Kedatangan Nenek?, aku sudah tahu dari awal, biarkan nenek menyelesaikan semuanya sendiri, dia ingin memberi ku kejutan dengan kedatangan nya, sebelum ia sampai di tempatmu aku sudah tahu, paman kedua berbuat ulah, sehingga semua kebencian nenek pada mama hilang,paman mengakui semua yang tante Wanda katakan adalah kebenaran, karena.paman ikut andil dalam rencana itu, karena ingin menyingkirkan papa, paman tega mendukung rencana Tante dan Antony, "Ucap Arion mengatakan semua yang ia ketahui dalam rumah besarnya,
"Daniel... biarlah... aku sudah lelah dengan masalah perusahaan kakek, aku sudah menyerahkan sepenuhnya pada Afina dan juga kedua anak Tante Wanda, aku ingin hidup sederhana seperti ini, bersamanya dan anak kami"Ucap Arion seraya menatap Ara,
"Aku tahu itu, sangat berat bagimu mengurusnya sendiri, ah baiklah... aku sudah selesai sarapan, aku ke kamar dulu ya, "Ucap Daniel yang tiba-tiba merasa mual kembali,
*****
"Kau benar-benar tidak apa-apa kan, atau mungkin kau salah makan?"Tanya seseorang yang Daniel hubungi,
"Tidak sayang, aku tidak salah makan, aku akan menyusahkan mu lagi, tidak apa-apa kan...?"Ucap Daniel,
"Tidak apa-apa, kau istirahat lah... apa perlu aku menyusul mu?"
"Jangan....lalu siapa yang jaga Kei, aku cuma tidak ingin kau khawatir, karena pak rudi kembali sendiri"
__ADS_1
"Jadi kau menghubungi ku hanya karena ingin memberi tahu itu, tidakkah kau merindukanku?"Ucap Wita dengan bibir cemberut, kalau saja Daniel ada di dekatnya, mungkin saja, Daniel tidak akan melepaskan bibir itu, Daniel hanya bisa menatap dari layar ponselnya yang mana istrinya masih mengerucutkan bibirnya,
"Aku sangat merindukanmu, sangat dan sangat...kau jaga diri baik-baik, "Ucap--- Daniel seraya membelai layar ponselnya, membayangkan kalau dirinya sedang membelai wajah istrinya itu,