
Suasana menjadi canggung saat perdebatan antara Troy dan Tristan terhenti,
"Baiklah.. kalian lanjutkan bercandanya, aku akan mengambilkan kalian minumam"Ucap Tania seraya berdiri dari duduknya,
"Mana ada aku bercanda dengannya sayang"Ucap Troy,
"Siapa juga yang sudi bercanda denganmu"ucap Tristan yang kini mau mulai lagi, berdebat dalam ronde ke dua,
"jika.kalian begini, aku merasa kalian sangatlah lucu dan cocok antar satu dengan yang lainnya"Ucap Tania dengan penuh senyuman, tapi malah membuat keduanya bergidik ngeri,
"Baiklah... kalau begitu, aku tinggal sebentar,"Ucap tania dan benar saja, kini Tania sudah keluar dari ruangan melukis mereka,
Saat Tania keluar, ruangan itu menjadi hening, suasana ramai menjadi serius, Tristan yang awalnya suka bercanda, kini menatap Troy dengan serius, begitupun dengan Troy,
"Apa yang kau ketahui tentang Tania?"Ucap Troy langsung,
"dia mengalami tekanan, tekanan dalam hatinya, membuat ia akan kehilangan kesadarannya, Troy, aku ingin ingin bertanya serius denganmu,apakah kau menginginkan seorang anak dalam waktu dekat?"Ucap Tristan, seraya menatap lekat wajah Troy,
"Apakah Tania membahas masalah anak denganmu?"Jawab Troy dengan pertanyaan balik,
"Tidak, dia hanya berkata, apakah ada resiko jika wanita yang sedang ada gangguan mental, lalu hamil saat itu, aku berkata, tidak terlalu bahaya, aku fikir kau yang memintanya agar segera hamil"
"Tristan..., aku tidak peduli, apakah aku dan Tania akan di karunia anak atau tidak, yang paling penting bagiku,adalah, Tania akan terus ada di sisiku, aku tidak peduli, jika Tania tidak bisa memberiku anak, yang paling penting bagiku, dua tetap ada di sisiku, bersama ku sampai aku tua nanti, jika Tania membahas masalah anak lagi dengan mu, maka katakanlah apa yang aku katakan ini, Aku hanya peduli dengan nya, hanya dirinya"Ucap serius Troy, yang mampu membuat Tristan menelan saliva nya, sebesar itukah cinta Troy pada Tania?, masih adakah cinta yang seperti itu?
begitulah isi fikiran Tristan terhadap Troy,
"Mmmmm... baiklah, buatlah Tania sibuk dengan hobinya, itu bisa membuat Fikirannya, dan hatinya tenang, kau sudah tepat membuatkan dia ruangan untuk melukis, mengingat itu adalah hobi dan cita-cita nya, ini akan sangat membantu dirinya"Ucap Tristan,
__ADS_1
"Meski begitu, aku belum sepenuhnya tenang Tristan, masih banyak hal yang harus aku pastikan, terutama masalah keluargaku, aku bukannya tidak tahu, dengan apa yang mama ku lakukan, dia diam-diam ingin menjodohkan ku dengan wanita lain, aku tidak tahu, rencana apa yang akan mama lakukan saat ini, tapi... jika mama ku melewati batas, aku tidak tahu, apakah aku masih bisa menahan semua ini apa tidak, Tristan... jika kau ada waktu, temani lah istriku, jangan biarkan dia sendiri, atau...kau buatlah wanita mu itu berteman dengan istriku, setidaknya,a kan ada seseorang yang akan melapor kan setiap tindakan dan aktifitas Tania padaku"Ucap Troy serius dan tulus,
"Wanitaku... maksudmu intan....?"
"Ya...siapa lagi, apa kau punya wanita lain, mengingat kau hanya dekat dengan istriku dan wanita itu"Ucap Troy yang kini mulai lagi dengan kecemburuan nya,
"Ckkkk .... aku dan Intan hanya kenal dari sosmed, dan itupun aku membantunya karena naluri manusia ku, "
"Lalu... kau masih ingin mengincar istriku begitu ...!" Ucap Troy... dengan menahan kesal,
"Aisss .. Troy, bisa tidak kau tidak cemburu padaku, meski di dunia ini tidak ada lagi Wanita selain istri tercinta mu itu, aku tidak mungkin akan merebutnya darimu, aku hanya menganggap nya sahabat, jadi cukup kau mencurigai ku lagi"Ucap Tristan
"Maka segeralah kau menikah, kalau kau tidak ingin aku men cemburui mu"ucap Troy santai, seolah menikah adalah hal yabg mudah di lakukan,
Saat Tristan ingin membalas ucapan Troy, terlihat Tania yang masuk kedalam ruangan itu, dengan membawa nampan di tangannya,
"Udah berdebatnya?"Ucap Tania seraya meletakkan nampan yang ia bawa, terlihat, dua gelas kopi susu yang masih terlihat asap nya,
"Baiklah...Aku malas mengobrol dengannya, sayang.. apakah kau membutuhkan seorang asisten,?"Ucap Troy seraya menarik tangan Tania agar ia duduk di sampingnya,
"Asisten...? asisten..untuk apa, kan sudah ada Revi?"tanya Tania
"Revi bertugas agar mengurus hotel, asisten barumu, bertugas agar menemanimu saat kau melukis, atau bisa di bilang sebagai temanmu,"
"Apakah harus...?" tanya Tania,
"Ya... setidaknya kau bisa membantu wanitanya Tristan agar bisa mempunyai pekerjaan"Ucap Troy seraya melihat kearah Tristan, memberi kode agar dia ikut bicara masalah rencana yang tadi ia bicarakan dengan Tristan,
__ADS_1
"Troy benar Tania, setidaknya wanita itu bisa ada tempat tinggal dan pekerjaan di sini, "Ucap Tristan seraya melihat kearah Troy, seolah berkata, "apakah kata-kata ku sudah benar"
"Tapi... apakah wanita itu mau...?"Tanya Tania,
"Masalah itu, urusan Tristan, dia yang akan bicara dengan wanita nya, kau hanya menerima beresnya saja" ucap Troy percaya diri
"Cih... kau benar-benar bisa berbuat sesuka mu Troy, "Ucap Tristan dengan senyum mengejek nya,
"Baiklah... pembicara kita sudah selesai, Tristan kau kembalilah ke tempat kerjamu, aku dah istriku akan makan bersama"Ucap Troy tanpa perasaan,
"Hei... kau kejam sekali Troy, tidak kah kau bisa mengajak ku juga untuk makan siang?!"Ucap Tristan kesal,
"Ssstttt... ini acara makan siang suami istri, kau pergilah... atau kau ingin melihat ku dan istriku bermesraan..."Ucap Troy, yang mana membuat Tristan semakin kesal,
"Baiklah... kalian memang pasangan ter mesra yang aku kenal, baiklah kalau begitu aku permisi Tania"ucap Tristan seraya berdiri dari duduknya,
"Baguslah... terimakasih atas pengertian nya tuan Tristan"Ucap Troy yang juga ikut berdiri,
Tania pun mengantarkan Tristan hingga ke depan pintu,
"Maafkan perkataan Troy ya .. sebenarnya dia baik"Ucap Tania,
"Aku tahu...tidak masalah, masuklah, aku akan pergi"Ucap Tristan seraya memegang pucuk kepala Tania, Tania pun tersenyum dan menunggu hingga Tristan benar-benar pergi dari ruangan nya,
*****
"Tidak Dokter, biarkan saya menemani istri saya disini, ia tidak akan bisa Tania saya dokter"Ucap Arion seraya masih menggenggam tangan Ara, yang mana Ara sudah terlihat pucat, tangannya terus memegang tangan Arion,
__ADS_1
"Tapi tuan... kepanikan anda akan membuat dokter disini gugup"Ucap salah satu perawat,
"Tidak...saya tidak akan membuat pekerjaan kalian terganggu, saya akan diam tak bersuara, cepatlah dokter, tangani istri saya"Ucap Arion, seraya masih menggenggam tangan istrinya, sekali-kali mencium punggung tangan Ara, memberinya semangat agar ia bisa melewati rasa sakitnya.