
Tania terdiam menatap mimik wajah Indah,
"Kau, bagaiamana kau tahu kalau priamu itu punya istri"ucap Tania tertarik akan cerita Indah
"Kau kepo sekali Tan?ucap Wita.
"Aku dan keluarga mya sudah kenal lama, butik calmer yang tidak jadi itu adalah sahabat bunda ku, dan juga langganan butik juga, kami bertemu lagi setelah beberapa tahun tidak bertemu, dan dia bilang kalau anaknya itu ingin dia jodoh kan dengan ku,tentu aku mau, karena aku tahu kalau kedua anaknya adalah pangeran bagi kotaku, ah, tapi ternyata yang ingin ia jodoh kan denganku sudah punya istri"ucap Indah seraya mewek ingin menangis namun tidak ada air mata yang keluar,
"Aku menyesal, karena itu aku sudah menyakiti hati wanita lain, kak, aku bukan wanita seperti itu, aku tidak tahu kalau dia sudah punya istri sumpah!!"ucap Indah pada Tania
"Itu bukan salah mu, itu salah Calmer mu yang gak jadi itu, minta di cubit ginjalnya tuh Calmer gak jadimu itu"ucap Wita yang ikut mendengarkan cerita Indah,
"Kisahmu sama dengan yang ku alami, sayang nya aku menjadi menantu yang tidak di inginkan"ucap pelan Tania namun, masih bisa di dengar oleh indah dan Wita.
Tentu itu membuat Indah semakin merasa bersalah,
"Setidaknya suami Kakak sangatlah mencintai kakak"ucap Indah yang membuat bibir Tania tersenyum kembali,
"Kau sangat benar, aku tidak tahu bagaimana kehidupan ku jika aku kehilangan suamiku, karena bagiku dialah kehidupan ku dan duniaku"ucap Tania pada Indah dan juga Wita, membuat Wita menepuk bahu Tania,
Wita mengerti perasaan Tania, ia berusaha menahan kesedihannya di hadapan nya dan di hadapan gadis kecil yang ada di depannya saat ini,
"Sudahlah, jangan bahas itu, hanya bikin sesak di hati"ucap Tania dengan senyum di bibirnya,
Di saat Tania, Wita dan juga indah menikmati roti buatan Wita, bunyi dering ponsel Tania mengalihkan pandangan mereka,
"Hallo Tris"ucap Tania pada seseorang yang telah menelfon nya,
.
.
.
"Aku baik-baik saja, kau jangan mencemaskan ku terus"ucap Tania di sertai dengan senyumannya.
.
.
.
"Aku sedang bersama temanku di apartemen, kenapa? kau mau kesini, kesinilah"ucap Tania
.
.
.
"OK, I'm waiting for you" ucap akhir Tania seraya meletakkan ponselnya kembali ke meja yang ada di depannya,
__ADS_1
"Siapa?"tanya Wita,
"Teman, dia akan kesini, sudah ada di bawah orangnya"ucap Tania,
Dan benar saja, suara ketukan pintu sudah terdengar, dengan segera Tania bangkit dan membukakan pintu.
"Hai, selamat datang, hai juga untukmu"ucap Tania pada seseorang yang sudah berdiri di belakang Tristan, dia adalah Intan, wanita yang selama ini Tania kenal dekat dengan sahabat nya itu.
"Hai juga mbak"ucap intan pada Tania,
"Mari masuk"Tania mempersilahkan Tristan dan Indah masuk dan bergabung dengan Wita dan Indah,
Betapa terkejutnya Indah saat melihat Tristan, laki-laki yang kemaren sudah menolong nya, mayanya melotot tidak percaya,
"Apakah dunia sesempit ini"gumam Indah dalam hatinya.
Sedangkan Tristan hanya tersenyum melihat indah di situ, ,
"Hai, pertemuan kita yang ke dua"ucap Tristan pada indah, dan itu membuat Intan melihat kearah Tristan, seolah ia berkata,
"Kapan kalian bertemu, "
Mungkin itulah yang ingin Intan katakan namun, ia pendam,
"Kapan kalian bertemu"tanya tania mewakili isi hati Intan,
"Malam dimana dia menjadi seorang gadis yang terlihat menyedihkan"ucap Tristan yang makin membuat wajah Intan terfokus menatap nya,
"Hai, sudah hentikan, jangan ceritakan itu disini"ucap Indah yang gelisah,
"Biar ku ambilkan kalian minuman dulu"ucap Wita,
Kebetulan tempat duduk hanya ada di dekat Indah, Tristan duduk tepat di sebelah Indah, sedangkan Intan duduk di dekat Tristan namun, Intan mencoba memberi jarak antara dirinya dan Tristan,
Intan hanya diam, mood nya kini benar jelek saat ada wanita cantik yang terlihat kikuk berhadapan dengan Tristan,
"Intan, makanlah, kau sedari tadi hanya diam"ucap Tania
Intan hanya tersenyum seraya melihat kearah Tania, kenapa ada rasa sesak tiba-tiba yang ia rasa,
Tristan menyadari akan kediaman Intan, Tristan menoleh kearah Intan dan tersenyum padanya,
"Minumlah"ucap Tristan seraya tersenyum padanya intan, tangan nya yang ada di samping tubuhnya diam-diam menyentuh tangan Intan, membuat intan melihat kearahnya, Tristan tersenyum kembali saat pandangan mereka bertemu,
Dengan rasa gugup Intan mengambil gelas yang sudah terisi dengan minuman yang berwarna Kuning, yang ia yakini adalah jus jeruk.
Tanpa berkata Intan meminum nya, Tristan tersenyum lalu melihat kearah Tania,
"Ini obatmu, kalau habis langsung katakan padaku, aku tak mau diomelin lagi oleh suamimu itu"ucap Tristan seraya menyerahkan plastik yang berisi obatnya.
"Terimakasih Tris"ucap Tania seraya mengambil plastik yang Tristan serahkan.
__ADS_1
Indah mengangguk-angguk kan kepala nya, seraya berkata dalam hati.
"Jadi namanya Tristan"
"Baiklah, Aku dan Intan pamit dulu"ucap Tristan yang sudah berdiri,
"Eh Dokter Tristan tumben terburu-buru"Ucap Tania,
"Jam istirahat sudah mau habis, lain kali aku alan mampir lagi"ucap Tristan seraya melihat kearah intan yang masih terdiam.
"Baiklah kalau begitu, hati-hati di jalan"ucap Tania yang mengantarkan Tristan dan Intan keluar dari apartemen nya.
Di saat pintu itu tertutup kembali, Intan berjalan mendahului Tristan, dengan sengaja Tristan menarik tangan Intan dan membawanya dalam pelukan nya,
"Kau kenapa? cemburu kah?"ucap Tristan saat sudah mendekap tubuh Intan,
Intan menggeleng kan kepalanya yang menahan kepalanya terus Tristan pegang dalam dekapan.
"Aku hanya sekali bertemu dengannya, dan itu tanpa sengaja, percayalah"ucap Tristan kembali seraya meletakkan dagunya di atas kepala Intan, sedangkan intan masih diam mendengarkan penjelasan Tristan yang memang sangat ia harapkan,
"Aku tidak mengenalnya"ucap lagi Tristan seraya melepaskan pelukannya dan menatap wajah Intan.
"Jangan diam begini lagi"ucap lagi Tristan seraya memegang kedua pipi Intan, lalu mencium bibirnya dengan begitu lembut,
*****
"Dia Dokter?"tanya Indah
"Iya, kalian saling kenal?"tanya Tania
"Tidak, hanya tidak sengaja bertemu"ucap indah
"Ternyata Dunia ini sempit ya"ucap Tania
Sedangkan Wita yang sedari yadi sedang membaringkan tubuhnya sudah terlelap tidur,
"Kak, aku pamit ke kamar ku ya, terimakasih loh kak"ucap Indah,
"Tidak perlu berterima kasih, sering-sering lah datang kesini, aku malah senang ada temannya"ucap Tania,
Saat Indah berdiri Tania juga ikut berdiri mengantarkan Indah hingga keluar pintu,
Dering ponsel Tania membuat Tania mempercepat langkahnya dan meraih ponselnya
"Hallo, "
"Kau sedang banyak kedatangan tamu ya"ucap Troy dari sebrang sana,
"Tristan yang bilang"tebal Tania,
"Jangan terlalu lelah, istirahat setelah ini, Dan bilangkan ke Wita, kalau Daniel masih istirahat di kantor"ucap Troy,
__ADS_1
"Baiklah, Aku mencintaimu"ucap Tania mengakhiri pembicaraan mereka,
"Aku lebih dan lebih mencintai mu"ucap Troy setelah layar ponselnya mati.