
Mila membawa kedua anaknya ke ruang tamu, memperlihatkan mainan dan kue kesukaan mereka. Hingga terkejut Mila, di saat kedua anak anaknya bertanya soal pertemuannya dengan sosok Dady.
"Bunda! Kanya boleh tanya sesuatu ga bun?"
"Boleh dong! emang apa yang mau kamu tanyain cantik." menyuap cupcake.
"Ada tugas mengarang di sekolah! Kanya dan kak Bima boleh tanya gak? pertemuan Bunda dan Dady yang happy, sehingga kami ada di dunia ini." senyum Kanya, membuat Mila menyempitkan senyuman.
Deg.
"Dulu ... Bunda, ..." terdiam sejenak, menghela nafas sambil melirik bibi Roh.
Impian masa muda Mila, saat ke rumah Kenan! Hal yang tak pernah di duganya saat ini, melihat pernikahan Kenan di saat ia ingin menyatakan dirinya Hamil, tapi di tengah sana sepasang sedang menggenggam erat tangannya dan menyanyikan lagu cinta pernikahan.
Mulai saat ini selama aku hidup.
Aku akan mencintaimu.
Aku berjanji ini.
Tidak ada yang tidak akan kuberikan.
Mulai saat ini.
Aku akan mencintaimu selama aku hidup.
Mulai saat ini.
Kenan membawa Shela menghadap pemimpin pernikahan.
"Saudara Kenan saya bertanya kepada anda, apakah anda mengambil saudara dengan Shela sebagai pendamping hidupmu? Selalu setia dalam suka maupun duka, dalam untung maupun malang, tak terpisahkan sampai akhir hayat? Jika iya katakan ya saya sangat bersedia!" ucap pria paruh baya di hadapan keduanya.
"Ya, saya mengatakan bersedia!" ucap Kenan, dengan suara lantangnya dan mantap.
"Saudara Shela saya bertanya kepada anda, apakah anda senang menerima Kenan sebagai pendamping hidupmu, selalu setia suka maupun duka, dalam untung maupun malang, tak terpisahkan sampai akhir hayat? Jika iya katakan Ya saya bersedia!" ucap pria paruh baya di hadapan keduanya.
"Ya, saya bersedia menerima Kenan sebagai suami saya," ucap Shela, terdengar lembut dan sedikit malu.
"Dengan ini saya nyatakan anda berdua sah sebagai pasangan hidup sampai maut memisahkan!"
__ADS_1
Ucapkan pemimpin pernikahan tersebut begitu lantang, dan memberikan sebuah cincin pernikahan.
Suara tepuk tangan para tamu undangan dan sahabat serta kerabat keduanya, mungkin terdengar bergemuruh di seluruh penjuru taman cantik tersebut.
Kenan mengecup lembut jari manis berhiaskan cincin putih pernikahan mereka tersebut, membawa rona indah wajah manis Shela.
Shela menunduk untuk meraup bibir merekah di depannya itu.
Chuuup.
Kecupan lembut mendarat di bibir seksi Shela, menciptakan rona merah samar di wajah manis berfitur feminin tersebut.
Saatnya pelemparan buket bunga.
Ini adalah saat yang ditunggu-tunggu oleh orang-orang yang belum menikah, maupun belum menemukan jodohnya sampai detik ini, kedua pengantin yang baru menikah berdiri memunggungi para tamu yang hadir hari ini dan di sebuah taman begitu indah.
Tiga.
Dua.
Satu.
Horeeeeeeeeee.
Yahhhhhhhhhhhh.
Kyaaaaaaaaaaaa.
Mila saat itu terdiam, terpaku saat buket bunga berada di dalam pelukannya dan di pandang begitu banyak ekspresi, membuat pipinya melempar bunga itu, pergi setelah memberikan bucket pengantin ke seseorang pelayan di sampingnya, seketika pelayan baru datang itu kebingungan, dan mungkin pengantin belum melihatnya. Mila pun pergi dengan berlari menahan sakit, aksi Kenan yang mungkin tidak ingin Mila maafkan.
Konon kata orang zaman dulu, jika kau mendapatkan satu buket bunga dari pengantin pesta pernikahan ini dan maka orang selanjutnya yang akan menikah adalah kau. Tak perduli kau itu single ataupun memiliki pasangan, yang terpenting kau adalah orang selanjutnya menikah secepatnya!
Tapi bagaimana bisa, Mila menikah selanjutnya. Sementara pengantin pria di sana, sudah menikah lebih dulu meninggalkannya tanpa satu kata pun.
Mila menatap dalam diam, dari kejauhan tanpa menghampirinya. Ia masih berdiri di samping dekor luar, dengan tidak banyak orang berlalu lalang, karena semua berkumpul di ruangan sana! hanya ada pelayan menjaga makanan saja. Mila pun mengusap air mata, rasanya bagaimana bisa ia menjadi wanita sangat bodoh.
Sehari sebelumnya, Mila merasakan mual. Masih menimang acara party setengah sadarnya! hingga bangun tidur terasa perih di bagian itu, membuat Mila mengurung diri dari hari ke hari. Hingga dimana ia yang sakit mual, setelah beberapa minggu kemudian.
Pekerjaannya saat itu pun masih sama, menjadi pramugari, namun semakin hari Mila semakin tidak bisa mengontrol di mana asupan makanan tidak sering ia telan, malah ia muntahkan kembali, hingga ia lepas landas menuju rumah, izin tidak bekerja karena sakit ke kantor pusat untuk pulang.
__ADS_1
Mila mencoba mengontrol dirinya ke rumah sakit seorang diri, di bagian dokter umum. Setelah antrian panjang, hal begitu mengejutkan jika dirinya hamil. Mila tak percaya hidupnya akan hancur karena dirinya yang terlalu bucin, bodoh dan mau saja menerima pesta kantor yang mereka bilang! Jika acara ini tidak setahun sekali, dikucilkan jika tidak datang! Kenan merayu agar Mila datang, tapi saat di party entah kenapa dirinya berpisah pada temannya. Bodohnya lagi, Kenan pergi setelah kejadian itu, seperti pria yang tidak punya tanggung jawab.
"Huhuhu! bibi yakin, kalau non bicara baik baik. Orangtua Non, pasti mengerti!" ucap bibi.
"Mila tidak mungkin menerima lamaran Rey! dia kekasih sahabat Mila bi, juga Mila harus katakan jika Mila hamil. Apa Mila gugurkan saja ya bi..?"
"Astaga non! itu bukan hal baik, bibi janji akan temani non Mila! Jangan lagi bicara seperti itu ya non." ucapan bibi Roh, membuat Mila berterus terang, dan saat itulah semua keluarga murka, sebuah koper di minta untuk membawa pakaian Mila, keluar dari rumah ini beserta daftar nama dari keluarga, namanya bahkan di coret bukan lagi bagian dari keluarga, bahkan orangtua nya mati pun Mila tidak diperkenankan datang.
Bibi Roh, senantiasa menemani Mila yang histeris setiap hari. Hingga sampailah esok pagi, Mila berniat mengunjungi kediaman Kenan! tidak di sangka, jika yang ia temui adalah pernikahan Kenan. Kenan telah menikah, dan putus harapan Mila untuk meminta tanggung jawabnya.
Mila yang berencana pulang, ia di kejutkan dengan seorang wanita paruh baya! wanita itu membawa Mila dengan paksa, di ruangan bawah tanah yang masih terlihat ada acara pernikahan di atasnya.
Byuuur!
Seukuran gayung, di siram tepat ke wajah Mila. Mila rasa dia adalah keluarga Kenan, atau Mila yang salah datang dengan pakaian biasa, membuat mereka murka. Tapi apakah harus seperti ini mereka memperlakukan?!
"Kau tahu, aku nyonya inggrid. Aku kira kau gelandangan yang nyasar pada acara kami. Ternyata selang satu jam kau berdiri di sana! kau itu perusak hama, racun mematikan yang bisa merusak segalanya!"
"Apa maksud ibu, saya hanya ingin bertemu Kenan! karena saya hanya ingin ..." Mila memegang perutnya, membuat perhatian pada wanita paruh baya itu.
"Kau itu Mila Miranda, pramugari salah satu teman putraku kan! aku peringatkan padamu, jika kamu sekali saja datang, dan muncul di depan putraku. Aku bisa saja membuat hidup keluargamu hancur! dan membuat kau mati bersama di dalam perutmu! ingat ya, Mi-La. Dengar perkataanku! kau pergi dari kehidupan putraku, jika tidak kamu dan janin itu akan lenyap. Ingat keluarga kamu dan putraku itu, tidak se-ta-ra!" bisik Inggrid, membuat Mila tak sampai hati.
'Jadi dia ibu Kenan?' Mila saat itu di lepaskan, di beri waktu sampai pagi hari untuk pergi dari ibu kota. Bahkan Mila yang tak punya kendali, dirinya yang sudah terusir malah bernasib menyedihkan, bagaimanapun Mila harus menyelamatkan janinnya! ia tidak mau menjadi seorang pembunuh, dan bibi Roh seperti ibunya lah. Membuat Mila kuat, dan pergi dari ibu kota.
Mila mengajukan pemberhentian kerja, melalui surel. Membuang semua kartu lamanya dan berharap ia hidup bahagia dan benci dengan pernikahan. Ia benci dengan pasangan yang bisa saja tidak bertanggung jawab.
Dan itulah ingatan Mila saat ini, hal pahit yang tak bisa mendekatkan lagi kedua anak anaknya dengan Kenan.
"Bun- kok bunda nangis sih? Bunda, Kanya dan Bima salah bicara ya? maafin kami ya Bun, karena kita udah tanyain soal dady kita, habis Kanya denger dari temen soal bahagia bunda dan dady bertemu bahagia ... sekali ... jadi kita tanya sama bunda, pengen denger." ucapnya.
"Iy bunda, maafin Bima juga ya Bunda. Bunda kan pernah bilang, kalau dady kita sudah di surga. Dia meninggalkan kita saat bekerja di hongkong." menunduk Bima.
Mila menatap bibi Roh di sampingnya! membuat pelukan hangat, dan rasa kasian pada kedua anaknya itu. Sampai sampai Mila tak bisa menjawab, dan membohongi mereka.
'Maafin Bunda nak! semoga besar nanti kamu tidak kecewa sama bunda.'
"Kita masuk ke kamar ya nak! nanti bunda ceritain. Bunda juga ga nangis sayang, ini hanya terharu ... karena anak anak Bunda, benar benar pintar." gemas Mila, yang kala itu mengarang menutupi masa lalunya.
TBC.
__ADS_1