Baby Genius Sang Pilot

Baby Genius Sang Pilot
S3 Shi Sombong


__ADS_3

Di Tempat Lain :


Masih dengan setianya Heru, demi memastikan Reina anak kandung tuannya, ia mengikuti Shi yang kali ini tampilan dengan semrawut.


"Nona, tidak baik pergi dengan baju minim, apa nona ingin berlibur lagi. Jika terus begini ..?"


"Cih, diam kamu. Jika tidak .. apa papa akan memblokir semua akses kartu Ku kan? Aku hanya ingin terakhir kalinya bertemu teman teman sosialita ku, setelah itu aku akan pergi dari mansion bos mu, aku juga berhak tahu dimana aku lahir, dan mencari jejak orangtuaku. Puas kau."


"Ada baiknya, hiduplah sederhana Nona Shi, agar kebahagiaan itu hadir!" ujar Heru, melangkah pergi.


Sepanjang perjalanan Heru, mengikuti Shi. Dimana ia masih ber chat status pada Azam, meski sedikit alot dibalas. Heru tahu, jika Azam sedang bekerja, maka dari itu keinginan untuk bertemu membicarakan soal Reina belum direspon, sehingga ia pergi lebih dulu melangkah, melewati Shi dengan suara bas nya.


Heru tidak memedulikan protes dari Shi, laki-laki itu masuk lebih dulu ke dalam warung mie ayam, dengan bangunan yang tidak begitu besar tapi cukup ramai. Meski tahu, Shi pasti akan mengikutinya, terkait dirinya menelepon Azam kala itu, wanita itu selalu kepo jika dengar pembicaraan nama Azam.


“Ah sial!” umpat Shi kemudian melepaskan tali sabuk pengamannya. Mau tidak mau dia tetap harus ikut masuk dengan Heru.


Shi tidak dapat menahan rasa laparnya karena nanti bisa menyebabkan kepala pusing. Sudah menjadi kebiasaan Shi yang tidak bisa menahan rasa laparnya, matanya tertuju pada warung mie di pinggir jalan, karena ia melatih dirinya yang mungkin tidak dengan kemewahan lagi.


Heru melambaikan tangan kepada Shi agar perempuan itu menghampirinya yang duduk di pojok ruangan. Dengan ragu Shi melangkahkan kakinya, sembari melirik ke kanan dan ke kiri. Dia melihat semua pengunjung warung itu makan dengan lahapnya, hingga dia berpikir seenak apakah warung yang sekarang dia datangi itu.


Shi merasa seperti datang ke tempat asing, ke tempat yang sama sekali memang belum pernah dia kunjungi.


Shi duduk tepat di depan Heru, dengan wajah yang cemberut, karena mungkin duduk paling aman adalah dekat si kacung papanya.


“Aku udah pesan untuk kamu, bentar lagi datang,” ucap Heru.


“Memangnya kamu tahu aku mau pesan apa?" celetuk Shi, dia masih merasa tidak nyaman berada di tempat itu.


“Heran deh, pada betah banget di tempat panas kaya gini,” gerutu Shi sembari mengipas - ngipas wajahnya dengan tangan, baru beberapa menit Shi sudah merasa kepanasan.

__ADS_1


Setelah menunggu beberapa menit, pelayan datang dengan membawa dua mangkuk mie ayam bakso.


Heru dengan antusias menyambar botol saus dan menuangkannya ke dalam mangkuk mienya, di tambah sambal dan tidak lupa sesendok acar mentimun. Terlihat sangat enak tapi tidak bagi Shi, dia bahkan tidak mau menyentuh sama sekali makanannya. Padahal melatih makan seperti ini tidaklah mudah, tapi perkataan Heru memang benar, dia harus mencoba dari yang paling rendah, jika kemungkinan kedua orangtua aslinya sangat miskin.


“Yakin ini higienis? Tempatnya aja kaya gini. Lihat! Semua pegawainya tidak memakai sarung tangan.” Shi terus menggerutu.


Namun, Heru sama sekali tidak menggubrisnya dan terus menikmati makannya.


Shi pun jengkel, karena Heru sama sekali tidak menanggapinya.


“Aku enggak mau makan ini!” seru Shi.


“Makanan di sini itu enak, kamu nyesel kalau enggak mau coba, enggak kalah sama restoran, kok,” ucap Heru kemudian menusuk satu bakso berukuran besar dengan garpu nya.


“Pokoknya aku mau makan di restoran aja!” Shi melipat kedua tangannya, sembari mengentakkan kakinya.


Dengan bodoh nya, Shi pun membuka mulutnya dengan lebar. Heru menggunakan kesempatan itu untuk menyuapi Shi dengan bakso yang tadi dia tusuk.


Shi pun merasa ditipu, tapi satu bakso sudah masuk ke dalam mulutnya dan dia terpaksa mengunyahnya. Awalnya memang ragu, tapi setelah mengunyah beberapa lama, Shi menyadari kalau bakso di warung itu memang enak.


“Enak, kan?”


Shi terpaksa mengunyah bakso yang terlanjur masuk ke dalam mulutnya.


Tara .. tak sengaja ada perempuan yang menyapa Shi, dan ternyata teman semasa SMA.


“Kamu beneran Shi? Shela anak IPA 4?” perempuan bernama Sen itu seperti tidak percaya bertemu dengan Shi, di warung mie ayam, dia tahu betul bagaimana selera Shi waktu sekolah dulu.


Shi ingin berpura-pura tidak kenal tapi sudah terlanjur menjawab sapaannya.

__ADS_1


“Ini, kok. Aku nemenin ....”


“Pengawal kamu? Pasti pengawal kamu, kan?” tanya Sen, dengan asal.


Bodohnya, Shi berbohong kalau Heru adalah pengawal pribadinya.


“Ha. Iya pengawal pribadi aku,” jawab Shi, Dia menatap Heru, memberi kode kepada lelaki itu agar diam saja.


“Jadi ini, pengawal yang kamu ceritakan itu?” tanya Sen lagi. Perempuan itu dengan santainya ikut duduk bersama dengan Shi.


Seketika, Heru selesai makan. Ia mengelap mulut dengan tissue, lalu meninggalkan tanpa kata kata, mencoba mengangkat telepon yang berdering, setelah membayar pecahan uang biru dua lembar.


"Kembaliannya pak."


"Ambil saja, sekaligus bayar di meja wanita dibelakang!" jelas Heru, menoleh pada Shi dan kembali pergi.


'Ya, Azam, ayo kita bertemu!' ujarnya, terdengar oleh Shi.


"Eh, kamu mau kemana Shi. Kita ngobrol dulu, tapi kok pengawal kamu cuek sih. Enggak kaya pengawal semestinya hormat sama kamu." celah Sen.


Shi merasa kesal, ingin memanggil Heru, tapi pria itu sudah pergi dengan mobil papanya, hampir saja lupa. Kata kata Heru adalah, mencoba adaptasi untuk hidup paling rendah. Melupakan teman di sampingnya, yang masih saja mengoceh, sungguh Shi tidak biasa hidup seperti ini.


'Ah, sial. Apapun itu gue ga bisa hidup sulit, gue harus ikutin Heru, dia pasti udah tahu siapa anak kandung papa, biar gue beresin.' batin Shi, beranjak mengambil tasnya.


"Gue cabut dulu, sorry gue sibuk." ketusnya, membuat Sen menohok, sepertinya Shi kembali ke setelan pabrik.


"Ojek, ikutin mobil di depan sana ya!" teriak Shi, yang pertama kalinya naik ojek pangkalan, membuat nya serasa mual mual.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2