
Perjalanan waktu pun dimulai, melupakan semalam pelukan hangat Kenan secara tiba tiba.
Mila merasa debaran cinta itu kembali, benar demi kedua anak anaknya melihat mereka utuh bersama, adalah memaafkan masa lalu yang dimana jika Mila tidak ikut minum di acara party, mungkin dirinya tidak akan hamil bahkan dijebak sekalipun, bodoh memang dasarnya begitu murahan, karena cintanya dahulu yang bucin.
Acara pagi ini adalah kebersamaan, dan kini Kenan sudah menyisir rambut Bima, tak lupa di sebelahnya Mila sedang menjepit rambut Kanya, yang terlihat di kuncir kelinci, dengan kepangan kecil di sisi rambut.
"Handsome. Kaya ayah Kenan dong."
"Tantik, kaya bunda dong." ikut meledek Kanya pada Bima, dengan jahil memanyunkan.
Kenan dan Mila saling menatap, dan mulai merasa gemas, dua tingkah anak anaknya begitu tidak karuan.
"Ayo nak, kita siap siap. Nanti kamu terlambat."
"Ayah, apa surprise kita nanti?" tanya Bima.
"Pulang sekolah, kalian akan senang dan menyukainya."
"Pasti mainan .." ujar Kanya, yang memegang tangan Mila, yang saat itu turun ke anak tangga.
"Surprise dong sayang, kalau sekarang tahu. Bukan surprise dong namanya."
"Hihihi.. Iya deh bunda. Bima dan adik harus tunggu enam jam lagi, pyuuh." kerucut bibir Bima.
"Good boy, anak pintar ayah. Ayo turun kita sarapan, pasti bibi dan pak Sup udah nunggu." jelas Kenan, yang ikut melirik senyum ke arah Mila.
Mereka makan bersama, dimana semua baik baik saja. Setelah mobil jemputan sekolah datang pun, terlihat Mila melambai tangan pada kedua anak anaknya, dalam jemputan bus, sementara Kenan terlihat masuk ke dalam garasi, berniat mengambil sesuatu untuk Mila.
Dan saat Mila berbalik, terlihat tetangga datang hampiri Mila, ia pikir itu adalah Kenan, ternyata bukan.
"Ini yang katanya nikah dadakan?" tetangga.
"Udah pulang dari kantor polisi ya Mil, emang udah pasti kamu bener bener enggak salah, jangan jangan kamu kabur. Jadi buronan lagi." tambah tetangga satu lagi.
Terdiam Mila, ketika itu pun dirinya benar benar tidak bisa menjawab, namun Kenan sudah lebih dulu datang, merangkul Mila yang kali ini dikerumuni beberapa ibu kompleks.
"Bu, ibu. Maaf jika saya ikut campur, tapi apapun di luar sana, Tidak benar jika istri saya membuat kriminal, saya juga sudah menyelidiki dan berniat membuat laporan balik, tapi Mila istri saya ini terlalu baik. Tidak mau membalas dengan kejahatan lagi, kesimpulannya. Istri saya tidak bersalah, saya ada di tempat kejadian. Saya akan menuntut siapapun yang mengusik Mila, dan pasang badan untuk dirinya."
"Wuh, terus bu Sel itu katanya istri pak Kenan. Bener dong, bu Mila itu perebut ..."
"Tidak benar bu ibu, dia hanya mantan saya. Yang ingin saya kembali, dia juga yang merusak hubungan saya dengan Mila, sebelum mengenal Shela, saya dan Mila sudah bersama lama, namun dihancurkan oleh kesalahpahaman. Jadi permisi ya bu ibu, jika kami telah membuat kegaduhan. Kami minta maaf, dan pastinya bu Rt sudah mengusir kami jika ada tetangganya yang bertindak kriminal."
__ADS_1
Tetangga mengangguk, tapi ada beberapa yang tak bisa kedip, karena terhanyut tampannya suami bu Mila. Hingga Kenan dan Mila lebih dulu pamit, sudah masuk ke dalam rumah.
"Kok ngelamun, masih marah omongan tetangga?" duduk Mila di sofa.
"Aku jadi males keluar. Ken .. Gimana kita batalin aja acara hari ini?"
"Aku ingin kita resepsi berjalan semestinya Mila, aku ingin meminta restu ibumu. Sekarang kita datang sebelum terlambat."
"Tunggu, Kenan. Memangnya kamu tahu tempat tinggal ibuku saat ini?"
"Aku tahu, tapi saat ini kita temui mamaku dan ibumu, di suatu tempat!"
Gleuk.
Mila tidak sangka, Kenan sejauh ini. Artinya dia memang serius untuknya, atau hanya batas tanggung jawab saja.
"Bi, titip rumah ya." ujar Mila, dan Kenan bersamaan.
"Benar benar kompak. Baik bu bos, pak bos." senyum bibi Roh, yang melihat aura Mila lebih baik dan tidak terlihat banyak beban dari sebelumnya, apalagi di goda, membuat pipi Mila merona pink malu.
Mila meraih jaket untuk Kenan, juga untuknya. Tak lupa meraih tas, dan ponselnya saat itu juga ia masukan ke dalam tas.
Saat ini Mila benar benar tidak berdaya, masih berdegub semalam Kenan yang terlihat manis.
"Ken, baiknya kita putar balik saja, a-aku .." gugup Mila.
"Kita sudah hampir sampai Mil, aku ingin mereka merestui hubungan kita. Aku ingin membawamu kemanapun aku pergi, dengan anak anak kita. Kalau perlu kita tetap ajak bi Roh dan suaminya, agar kamu pun tidak melupakan kebaikannya."
"Kamu yakin Kenan?"
Kenan senyum, ia memarkir mobilnya sejenak. Membukakan seat belt Mila kala itu, membuka pintu mobil layaknya Mila saat ini benar benar di ratukan.
Cafe Luxury.
"Kamu yakin kita ketemu disini?"
"Ya, kalau dari pesan nomor ini. Ibumu memastikan akan datang, tapi aku tidak pasti mamaku sudah di nomor yang telah aku pesankan. Ibumu melarang kita ke kediaman rumahnya. Maaf ya, semua karena aku."
Meja 889 terlihat dengan jelas mama Inggrid sudah duduk, bahkan jus dan camilan sudah habis di meja hampir setengahnya kosong.
Mila sopan dengan hormat mengulurkan tangan, dimana bertemu bu Inggrid, yang kini sudah resmi jadi mertuanya.
__ADS_1
"Mah, Mila ingin mencium tangan mama. Kenapa tidak di izinkan?"
"Kenan, mama datang kesini menentang hubungan kalian, eh ini bisa bisanya sudah menikah."
"Mah, Kenan sudah ceritakan semuanya. Bisakah mama melembutkan hati mama, ini kehidupan Kenan, bahkan Ken, sudah menuruti pilihan mama dan ayah, dimana keluarga Shela meminta mengganti rugi dan Kenan tidak bahagia mah. Bahkan semua yang mereka beri sama mama, mereka meminta mama kembalikan bukan? Apa itu arti dari besan dan menantu yang mama idamkan. Bahkan memfitnah ibu dari anak anak Kenan."
"Kamu berani bicara gitu sama mama ya .. ?"
"Kenan, sudahi! Malu di dengar orang lain." bisik Mila menenangkan.
Halah, wanita penuh muslihat kamu Mila. Dengus Inggrid kesal.
Mila di minta duduk di tempat, dimana Kenan meminta sang mama pindah ke tempat lain.
"Mil, tunggu sebentar ya! Kamu pesan minum atau makan duluan, aku mau bicara sebentar sama mama di ujung sana."
Senyum Mila, mengangguk. Rasanya terasa tidak sehat jika ibu dan anak bertengkar karenanya.
Di Meja Lain.
"Mah, restui pernikahan Kenan. Dalam beberapa bulan, Kenan akan mengadakan resepsi. Tentunya meminta mama lembut, dan meminta maaf atas pembakaran ruko fotocopy milik bu Rini."
"Apa, .. kamu gila ya Kenan. Kamu tega berlaku seperti itu pada mama?"
"Mama, meski Kenan tidak bisa memberikan kartu hitam pada mama, karena tidak sekaya tuan Saputra, tapi Kenan masih bisa bekerja mencukupi kebutuhan mama, setidaknya Kenan tidak lepas tanggung jawab. Mama bisa tetap tinggal bersama aunty Carien, Kenan akan mengirim uang bulanan yang cukup untuk hidup mama, itu jika mama tidak mau ikut dengan Kenan."
"Kalau mama ga mau gimana?"
"Kenan lepas tangan, soal hutang dua miliar mama tanpa Kenan tahu, pada Tuan Saputra. Kenan akan mengikuti prosedur. Setelah bu Rini memperlihatkan bukti yang jelas, jika mama adalah pelaku lima tahun lalu atas ruko usaha miliknya, yang mama hancurkan. Mama juga menyakiti Mila dan menyabotase party itu, membuat Kenan dan Mila dalam jebakan, seolah Kenan meniduri Shela bukan?"
Deg.
Terdiam inggrid, dimana saat itu juga, terlihat di meja Lain mereka menatap.
Dimana Mila berdiri menatap seorang ibu paruh baya yang ikut gemetar gugup, seolah memeluk tak bisa, hanya bisa memandang dalam hitungan jengkal.
TBC.
Yuks Dukung Mila, jejaknya ya all.
Happy Reading.
__ADS_1
Sambil Tunggu Up, mampir ke judul yang udah end.
Duri Pernikahan end.