
Mila nampak sedih, tak percaya dimana tuan Saputra adalah ayah kandungnya, dimana Kenan membujuk dan memperlihatkan bukti bukti agar Mila percaya.
'Sudah selama ini, apa kamu tidak rindu? bukankah kamu ingin melihatnya dan tahu sayang. Setidaknya terimalah mereka jauh jauh datang, kita pastikan akan temui ibumu di waktu yang tepat. Agar semuanya benar benar terungkap." jelas Kenan.
Dimana Mila memeluk Kenan, dalam beberapa saat. Nampak kedua anak anak ikut menghampiri dan menanyakan.
"Ayah bikin bunda nangis ya?" ujar Bima dengan sorot mata tajam.
"Oh. Tidak sayang, mari kita bujuk bunda turun ke bawah ya."
Hal surprise kedua anak anak saat itu gagal, karena Bima dan Kanya sudah lebih tahu, dan Kenan saat itu mengejar Mila yang berlari, dimana aksi anak anak senang, dan beberapa saat meminta kedua anak anak jangan pergi kemanapun.
Hingga turunlah mereka ke bawah, dimana Saputra sudah senyum di ruang tamu. Mila nampak melangkah dengan haru dan perasaan bercampur aduk.
"Nak, maafkan Ayah. Selama ini ayah telat mencarimu, karena ayah sudah lelah dan tahu kalau kamu telah meninggal, dimana itulah yang ibu katakan."
"Aku telah meninggal, tapi kenapa. Mila juga tahu dari ibu, jika ayah Mila telah meninggal."
Deg.
Terdiam mereka beberapa saat, dimana akhirnya Saputra merentangkan kedua tangan. Dan Mila memeluk sang ayah, dengan penuh hormat. Mila mengutarakan kesedihannya selama ini, bukan berarti ia senang ketika ia tahu dirinya anak dari seorang ayah yang mempunyai bisnis besar. Namun sedih, kenapa waktu memori saat kecil tak ada padanya dalam kebersamaan.
"Kita akan tahu, dan menemui ibumu. Biarkan ayah membalas apa yang selama ini kamu alami nak."
Dalam beberapa saat penuh haru, hingga lamanya membuat mereka berbincang dan makan. Mila juga memperkenalkan Kanya dan Bima, dimana ia adalah anak anaknya dengan Kenan.
Saputra mendengarkan kisah asmara putrinya, dan tak lupa Kanya serta Bima sopan pada pria paruh bayanya itu.
"Ayo panggil Kakek, karena bapak adalah ayah bunda kalian, yang intinya kakek Kanya dan Bima." ujar Saputra dengan berkaca kaca.
"Kakek." peluk Bima dan Kanya.
Hingga Saputra berencana membuat resepsi pernikahan Mila dan Kenan, dimana Mila nampak malu, hingga Saputra meminta izin, jika ia akan mengajak kedua cucunya di dampingi Heru.
__ADS_1
"Ayah ajak cucu gak apa kan, Mila?"
"Iya boleh Ayah, anak anak jangan repotin kakek ya. Bunda bakalan masak sesuatu yang enak. Oke?"
"Oke bunda."
***
Beberapa Jam Kemudian. Saat Mila dan Kenan memasak, berdua saja di villa. Nampak mereka berdebat bagai kucing merebut ikan, dimana Kenan mendapat telepon dari rekan kerjanya, di loudspeaker dengan nada suara manja, membuat Mila berhenti memotong ikan salmon, dimana ia menatap Kenan sedikit kesal.
Mila nampak membuka pakaian, dimana ia memasak menggunakan singlet bertali satu, dan setengah perut saja, apalagi ia memakai rok mengembang di atas lutut.
“Kamu berusaha keras untuk menggodaku ya,” ucap Kenan dengan tatapan mencela, setelah menutup telepon, dan melihat istrinya berganti pakaian.
Tatapan itu sangat menusuk hati. Namun, Mila menolak kalah. Sekuat tenaga ia berdiri tegak dan tak gentar. Lalu mencuci tangan, dan menyalakan ace full, dimana makanan sedang di oven dengan memasak menggunakan alat canggih tanpa takut gosong pastinya.
“Menggodamu? Yang benar saja,” ujarnya sambil tertawa pelan Mila.
Kenan melepas jaket, lalu disusul dengan kancing kemeja putihnya satu per satu. Mila dapat melihat jelas bahwa pria itu berusaha keras untuk tidak menatap ke arahnya.
“Tapi suka atau tidak, kamu harus menerima kenyataan bahwa mulai sekarang kita akan terus bersama-sama, apalagi kedua anak kita yang membuat erat bukan?” ujar Kenan lagi, tapi Mila hanya diam.
“Jangan cemburu, dia hanya rekan kerja. Apalagi jika datang ke resepsi rekan kerjaku nanti kita akan, selesai satu jam an, jadi berhenti protes, karena kita benar benar adalah pasangan yang paling bahagia,” tambah Kenan.
“Aku tidak mengekorimu. Tidur di kamar suami adalah hak seorang istri. Tapi, kenapa setiap aku melihat kamu memakai seragam kebesaranmu, aku ingin nakal pada suamiku ini ya?"
“Jangan nakal, jika di bandara nanti, aku berhak mengusirmu dengan kecupan, little girl,” desis Kenan, dimana nampak Mila cemburu.
“Dan aku juga berhak menolak, hubby. Jika nanti, aku lihat ada seseorang yang panggil kamu honey." balas Mila.
Keduanya saling tatap dalam jarak kurang dari satu meter. Mila berusaha duduk santai di tepi tempat tidur, meski ada Kenan dengan tubuh polos dan celana boxer di hadapannya.
Kini Mila merasa sama persis dengan perempuan-perempuan pemuja Kenan. Ia mulai gelisah melihat pria itu melepas pakaian, padahal sudah jadi suami sah. Bohong jika ia mengaku sama sekali tidak tertarik menyentuh pria bernama Kenan lebih dulu.
__ADS_1
“Oke, jika itu mau mu, lagi pula tidak ada di tempat kerja yang memanggil aku honey, untuk apa aku takut sayang." ujar Kenan yang akhirnya memutus aksi tatap-tatapan mereka.
“Karena kamu sudah berusaha keras menggodaku, akan kuberikan apa yang kamu mau.”
Mila terkejut ketika Kenan tiba-tiba bergerak maju dan mendorong tubuhnya hingga jatuh ke sofa.
Demi menutupi rasa kagetnya, Mila seketika tertawa. Kenan menautkan alis ketika Mila melingkarkan kedua lengannya ke leher pria itu.
“Oke, coba lihat sekarang, siapa yang pada akhirnya merasa tidak tahan,” ujar Mila dengan senyuman.
Kenan tersenyum miring di atasnya.
“Aku hanya memberikan apa yang kamu inginkan, karena kamu sudah bersusah payah untuk menggodaku. Pada akhirnya memang akan begini, tak ada perempuan yang tidak menginginkanku.”
"Cih, jangan terlalu sombong hubby. Bisa bisa nanti ada yang lebih tampan, dan benar dia mengejar ngejarku terang terangan bagaimana?" goda Mila
"Dasar istri nakal!"
Mila hendak mencibir ketika tanpa aba-aba Kenan langsung menyatukan bibir mereka. Mila terkesiap, namun Kenan tidak memberinya ruang untuk menolak.
Kecupannya benar-benar ahli. Kenan benar-benar player handal. Tangan pria itu bergerak menelusuri tubuh Mila. Menyentuh hal yang sensitif, lalu turun ke bawah menuju bagian lain.
Dengan napas memburu, Kenan kembali merunduk dan menyatukan kecupan mereka. Mila membalas, menikmati kecupan suaminya itu sambil membenamkan jemarinya di rambut pria itu. Hingga akhirnya saat ia mulai terlena, Mila buru-buru menyadarkan diri ketika ingat suara gerbang di luar. Dan memakai jaket dengan cepat.
Saat Kenan mulai menciumi lehernya, Mila mendorong pria itu hingga posisi mereka kini berbalik.
'Nanti kita lanjutkan, aku lupa. Ini pasti anak anak sudah pulang!' senyumnya, merapihkan pakaian. Mila segera berlari, tak lupa mencuci tangan di wastafel.
Benar saja, kedua anak anak datang. Bersama Heru, juga pak Saputra. Dimana Mila, mau tidak mau harus legowo, jika sebenarnya ia bertemu ayah kandung aslinya. Tapi ia merasa bingung, dengan Shela siapa dirinya, apakah Shela anak dari istri muda ayahnya.
"Bunda .." teriak Kanya dan Bima, memeluk Mila bersamaan. Dimana nampak Kenan, berjalan dengan tatapan gusar dan rambut berantakan, yang seolah Heru melirik Kenan, sudah tahu apa yang terjadi pada pria tinggi di balik tangga, di tinggal berduan beberapa jam saja, sudah bertingkah heboh .
TBC.
__ADS_1