
Mila kali ini beranjak ke toilet, dimana kedua anak anak Mila sedang bercerita panjang, Kenan juga menyanjung lukisan Bima, dimana impian Kenan terhempas dan kini berada di salah satu anak darah dagingnya yang menurunkan impiannya.
Melihat tertawa mereka bertiga akrab, membuat Mila mencuci muka. Menatap cermin. Dimana, ketika mereka berempat harus jalan bersama dan menjadi keluarga utuh. Bahkan hal yang membuat Mila jauh dari kata menyakitkan adalah, tamparan kata kata bu Inggrid dan Shela, beberapa tahun silam membuat kebakaran usaha fotocopy ibunda dan ayah tirinya terjadi, ditambah dirinya dinyatakan hamil, Kenan menikah oleh pilihan orangtuanya.
'Andai kedua anak anak tahu, ia dilahirkan tampa pernikahan, apakah akan baik baik saja. Oh Tuhan, rasanya aku tidak sanggup melewati semua ini, jika Bima dan Kanya tahu bagaimana jika mereka bertanya, apakah ada sesi photo bundanya mengabadikan dirinya di dalam perut, dan photo pernikahan layaknya pasangan keluarga bahagia, jika kehamilannya di tunggu tunggu.' batin Mila, ia segera menyadarkan diri dan bergegas ke ruang Kenan.
Mila mencipratkan kedua tangan, mengelap dengan mesin pengering setelah mengambil tissue kering. Bahkan bukan lagi hal yang baik, jika ia terus berlama lama di rumah sakit. Tetapi langkah Mila menuju ruangan kenan, terhenti ketika ada seorang wanita yang tajam ke arahnya, meski Mila berusaha slow berjalan, Shela menubruknya hingga terkena gigi tiang.
Brugh!
"Auuw."
"Jadi kau berani menjenguk Kenan, kau lupa kejadian itu?"
"Shela, ini tidak seperti yang kamu pikirkan."
"Hah! hei, wanita murahan yang hamil di luar nikah, apa karena tidak ada laki laki lain yang menerima masa lalu mu, dan menerima kedua anak anak mu itu, hingga kau melupakan janji untuk menjauh dari Kenan, Hah ..?"
"Jangan pernah melibatkan dan panggil nama anak anakku seperti itu ya! aku tidak segan padamu Shel.."
"Cih! rasanya ingin meludah, kau jilat lagi Mila. Jika kedua anak anakmu disini, akan aku panggil dia anak haram. Hey anak .. haram .. " gema Shela semakin gila.
Batin Mila, rasanya tidak tahan melihat Shela semena mena. Semakin diam Shela semakin saja menyudutkannya hingga Mila ingin lepas kendali.
"Hey anak kembar yang manis, kamu tahu. Jika ibumu itu nakal, dia banyak sekali pacarnya. Lalu mengandung kamu, dimana kamu itu tidak jelas ayahnya. Hahaha .." gelak tawa Shela, yang saat itu menertawakan Mila masih berdiri.
"Oh, masih ada lagi. Bahkan kamu tidak bertemu nenek kamu yang asli, karena ibumu di usir. Dan kalian berdua .. tidak di a-kui. Hahaha."
__ADS_1
Plak!
"Cukup Shela!" tamparan reflek Mila yang sedikit menyesal.
"Kau berani menamparku, hei .." Shela berteriak, ketika Mila sudah pergi melewatinya.
Mila sendiri yang terkejut kedatangan Shela, rasanya ingin cepat membawa Bima dan Kanya pergi dari tempat yang tak ingin, kedua anak anaknya bertemu Shela. Sungguh! ada rasa kesal ketika ia menjenguk semalam ini, tetapi nyatanya ada yang datang, membuat Mila rumit di kemudian hari.
"Kanya Ayo sayang, Bima Ayo nak! kita pulang sekarang!"
"Bunda .. tapi ... Bima dan Kanya."
"Pulang .. sekarang!" tegas Mila, yang membuat Kenan berdiri.
"Mila, jangan pernah bentak anak anak. Karena dia ... "
Mila membawa Bima dan Kanya, hal itu membuat Heru yang baru masuk ruangan, sedikit tercengang, dan bertanya pada Kenan.
"Ken, ada apa. Kalian bertengkar dipertemuan pertama ini?"
Kenan menggeleng kepala, ia melepas selang infus di tangannya keras, akan tetapi Heru menahannya, agar Kenan tidak pergi kemana mana. Karena saat ini, Kenan masih menjalani perawatan yang sangat rentan, jika sampai mencopotnya.
"Lepas Her, gue ga bisa buat Mila jauh lagi. Dia datang tiba tiba kaya kerasukan, pasti ada sesuatu lagi yang terjadi sama dia. Gue mau susul."
"Ken, tapi Kenan." Heru tak bisa menahan, ia membawa beberapa selang jarum yang dicopot paksa, dengan tiangnya. Mengikuti Kenan yang berjalan lemas, dan darah berceceran begitu saja di lantai.
Sementara kedua anak anak Mila di lorong, rasanya berbalik arah tidak mungkin. Karena jalan keluar satu arah, dimana Shela senyum bagai iblis mendekati Mila yang menatap ke arahnya, tidak membuat Shela berhenti, dimana kedua anak anak Mila kebingungan, sesekali menatap lurus, sesekali menatap keatas melihat bundanya.
__ADS_1
"Bunda kenapa nangis." lirih Kanya sambil berjalan.
"Bunda ga kenapa kenapa sayang. Ayo kita cepat naik taksi, dari sini!"
Bruugh.
"Mau kemana kau Mila." Shela memegang leher Mila, melepas eratan kedua tangan anaknya.
"Tante lepasin bunda!" gigit Bima dengan kencang.
"Aw. Anak sialan. Kalian itu dasar anak .." membuat Bima hampir terjatuh, beruntung Kenan menahannya.
"Kau tidak apa apa sayang?"
"Cukup Shela hentikan!" teriak Kenan, dimana ia melihat aksi Mila di perlakukan kasar oleh mantan istrinya, hal itu membuat Mila menghapus air mata, dan segera mungkin meraih peluk Bima dan Kanya.
"Ken, ini enggak seperti yang kamu lihat loh. Aku begini karena tadi Mila nampar aku duluan, jadi aku tadi .."
"Jangan pernah sentuh ibu dari kedua anak anakku. Menjauhlah, singkirkan tangan kotormu. Karena mereka begitu berarti, melebih permata." tegas Kenan menatap tajam pada Shela.
Sementara Kanya dan Bima, melihat pertengkaran orang dewasa, terasa ketakutan dan menangis.
"Hei, hentikan ocehan kau Kenan. Kau tidak berhak berkata seperti itu, pada putriku!" tegasnya dari arah belakang, membuat semua mata menoleh.
"Papa, semua bukan salah Kenan. Tapi wanita beranak ini, yang menyebabkan rumah tanggaku hancur, bahkan dia penyebab Kenan kecelakaan, dan Kenan tidak bisa beraktifitas di perusahaan papa." jelas Shela, membuat Mila menggelengkan kepala, masih memegang kedua telinga kedua anak anaknya.
'Dasar wanita jahat.' lirih Mila saat itu.
__ADS_1
TBC.