
Mila sudah putus asa, sudah empat jam mereka berpencar tak bisa ia dapatkan keberadaan Bima. Bahkan Mila sudah histeris, memeluk Kanya berharap sang pencipta, mempertemukannya.
Bibi Roh pun, segera hampiri Mila ketika ia sudah kembali dari musholla. Memegang Kanya, yang di genggam erat oleh Mila.
"Non! sabar, kita pasrahkan sama Tuhan. Bima pasti baik baik saja."
"Bima masih berusia 4, 5 tahun bi. Si kecil itu, mana bisa melawan orang dewasa." isak tangisan Mila, yang masih merengkuh Kanya.
"Mil, saya sudah lapor teman saya yang di polisi, mereka segera membuat laporan. Kita akan segera menemukannya."
Mila terdiam, ia menoleh menatap Kenan yang berdiri sejajar duduk dengannya. Mila memiringkan senyuman, yang sedari tadi yakin jika kehilangan Bima adalah dari keluarga Kenan.
"Bisa kau jelaskan, apa semua ini karena kamu Kenan! Harusnya kamu jangan pernah datang lagi pada kehidupanku. Semua ini pasti ulah orang terdekatmu. Jika Bima putraku tidak kembali dengan baik baik! maka aku pastikan, kamu akan menyesal."
"A-aku pastikan Bima akan baik baik saja." lirih Kenan mendekat ke arah Mila, yang tangannya sedari tadi di pegang pun Mila tak mau di sentuh.
Sementara Kanya, dibawa oleh Bibi Roh, dan pak Supra, yang pulang lebih dulu.
"Bi, jaga Kanya di rumah baik baik. Kalau perlu pintu semua ditutup, jangan buka pintu sebelum aku pulang bi. Mila harus ke kantor polisi."
"Iya non. Hati hati ya Non! Kanya pasti baik sama bibi."
Mila mengecup kening Kanya, meminta menunggunya di rumah dengan bibi, beruntungnya Kanya, yang ikut menangis pun bisa tenang kali ini. Sehingga Mila pergi di susul Kenan.
"Aku yang setir! naik mobil aku aja Mila."
"Aku ga mau, pergilah Kenan. Aku bisa sendiri, aku tidak sudi kamu masih berada disini dekat aku. Tolong berhentilah! kamu penyebab kekacauan ini." teriak Mila mengusir Kenan.
Mila yakin, entah Tante Inggrid atau Shela. Ia yakin semua ini ulahnya. Sehingga ia berinisiatif ingin mencari mereka, kalau pun nyawa Mila taruhannya ia pun bersedia asalkan anak anaknya tidak terluka.
__ADS_1
Sreet!
"Mila, aku juga takut kehilanganmu dan anak anak kita! Jangan menghindar dariku, bahkan aku hidup tanpa milik keluargaku pun! aku siap melewatinya, kita hadapi semua ini bersama. Jangan hindar lagi, tes dna anak anakmu adalah anak anakku juga!"
"Tes Dna?" Mila menghapus air matanya, melepas eratan tangan Kenan yang memeluknya kilat begitu saja dari belakang.
Mila merasa pria di depannya ini benar benar gila, tes dna dengan cara diam diam bagai pencuri.
"Aku tidak yakin dia anakmu. Ken! ayolah realistis. Kamu itu terlahir harus dengan wanita yang kaya, bukan aku yang seorang ..."
Cup!
Kilat telunjuk Kenan, menyentuh bibir Mila. Menarik tangannya dan begitu saja Mila masuk ke dalam mobil. Kenan tanpa aba aba, melaju pedal gas menuju kantor polisi. Sepanjang perjalanan Kenan bicara, tentang dirinya dan Shela seperti apa, bahkan ibunya melarang pun Kenan tak peduli.
"Bagaimana jika dalang semua ini itu ibumu? atau Shela.. istrimu?"
"Dia bukan istriku, jika masih istri pun kita hanya casing Mil. Aku sudah katakan padamu, dan jika ibuku terlibat. Aku akan tetap menyerahkannya pada yang berwajib. Bahkan jika aku putra satu satunya dibuang oleh keluarga, aku ikhlas. Rela demi hidup bersama dengan anak anak kita."
Deg.
Sampailah mereka di kantor polisi, di sana sudah ada Heru. Heru sudah memberikan laporan lebih dulu, namun bisa dicari 1x24 jam. Sia sia yang ada Mila kesal, pergi begitu saja tanpa Kenan. Kenan yang meminta Heru untuk memastikan gerik Shela dan ibunya. Ia pun mengejar Mila.
"Mila kamu mau cari kemana, ini sudah hampir malam!"
"Aku ga peduli, aku akan kembali ke taman dan susuri setiap sudut jalan. Aku takut Bima kenapa kenapa, firasat ku Bima masih disana."
"Aku antar!"
"Ga usah! kamu harusnya temui mantan istrimu dan ibumu. Karena terakhir mereka ancam aku, jika aku mendekatimu." tajam Mila.
__ADS_1
"Fine! tapi saat ini aku yang kejar kamu, bukan salah kamu. Ayo kita susuri jalan taman sekolah anak kita, setelah itu kita temui Shela dan ibuku bersama. Sekaligus aku umumkan diriku akan menikahimu!"
Deg.
Kenan yang bersabar, ia juga tersulit emosi menarik Mila paksa. Hingga di dalam mobil hening tanpa sepatah katapun, Kenan benar benar ngebut membuat Mila memegang erat gagang mobil.
"Kau ingin kita mati Hah?"
Sreeeeeth. Mobil berhenti di suatu tempat.
"Lima tahun lalu, aku benar benar tidak tahu wanita yang aku tiduri adalah kamu Mil. Aku benar benar mencari cctv yang Heru dapatkan adalah Shela, aku tidak tahu jika rekaman itu sudah di rekayasa. Bahkan saat itu aku ingin menyatakan cinta dan serius padamu. Percayalah padaku! beri aku kesempatan lagi Mil. Apapun itu, beritahu aku! kita hadapai bersama sama. Please!"
Kenan menyatakan semua perasaan itu, dengan mengeluarkan air mata yang merah dan sembab. Membuat Mila terdiam tak bisa berkata kata sepatah katapun.
Mencari keberadaan Bima pun, hingga beberapa jam lelah terlihat adzan magrib pun Mila berhenti di sebuah mesjid.
"Kamu pasti tidak sanggup! di buang orangtua itu sangat menyakitkan! Jangan jadi anak durhaka, hanya karena aku. Jadi pulanglah setelah ini!"
Mila turun dari mobil, menuju mesjid. Namun Kenan yang sudah mengejar Mila mengucap sepatah kata membuat Mila menangis.
"Bukankah sama! kamu kehilangan keluargamu, aku juga! aku hanya ingin bertanggung jawab, dan perasaanku tidak pernah pudar mencarimu Mila. Bahkan aku masih menjadi pilot, karena tujuan kita bekerja di swiss. Aku mengelilingi sudah sekian lama, mencari keberadaan mu. Jadi jangan larang aku menemui orang yang aku cintai. Dan kamu pantas aku perjuangkan."
Deg! tidak peduli, Mila meninggalkan Kenan meski ucapan Kenan membuat dirinya terharu dan takut.
Mila melangkah menuju mesjid, namun saat masuk ke dalam pelataran mesjid, setelah Mila membuka sandal. Matanya lemas senyum, ia merentangkan kedua tangannya saat itu juga membungkuk setengah duduk.
'Bundaaa ...' teriak Bima, dari pelukan seorang wanita.
"Bima .. kamu disini nak! Bima .. Bima .. bunda begitu khawatir. Cup .. Cup." peluk menciuminya, membuat Kenan, mengucap syukur dan berlinang air mata.
__ADS_1
"Syukurlah! anak ku baik baik saja." lirih Kenan, ikut mendekat.
TBC.