
"Bu. Mila minta maaf. Apakah ibu masih marah dengan Mila?"
"Heum. Ini kalinya ibu mendapat telepon dari seorang pria, yang katanya telah menikah dengan putri ibu. Pertama kesalahan kamu hamil di luar nikah, sekarang kamu nikah karena di grebek. Mau taro dimana muka ibumu Mila."
"Bu, semua itu .."
Mila sesenggukan, dimana sang ibu benar benar kecewa. Bahkan mendapat maaf saja rasanya mustahil.
"Apa sesulit itu, ibu merestui pernikahan Mila. Mila harus bersujud di depan orang banyak pun mau, asal ibu mau memaafkan khilaf Mila."
Bu Rini yang tiba saja menoleh, melihat Inggrid di meja lain, ia segera meraih tas. Setelah melemparkan beberapa kertas map merah.
Prak.
"Apa ini bu?"
"Kamu lihat saja!"
Mila perlahan melihat Kenan dan inggrid mendekat, ia lalu membaca berkas bukti laporan pembakaran ruko fotocopy terbesar milik keluarga, beberapa tahun lalu.
Mila bahkan gugup sadar, ia melihat Kenan dengan memegang cubit bibirnya. Berharap ini adalah kebohongan.
"Kenan. Ingat kata kata ibu ya! Kamu adalah perusak kehidupan anak perempuan. Kenan kamu adalah perusak hubungan antara ibu dan anak. Lalu kini menikah, dan kamu punya seorang ibu yang benar benar tersangka harusnya dia itu buronan. Miris, apa kamu sebagai pria bisa bahagia, dengan memiliki ibu seperti iblis, membakar ruko usaha keluarga istrimu. Hidup mereka hancur berkeping. Apa kamu masih bisa menjadi Imam untuk Mila. Sementara ibumu bebas berkeliaran, sosialita tanpa hukuman. Hah?" jelas Rini.
Kenan terdiam, ia juga melihat map merah dimana Mila memberikannya. Di sana ada beberapa fotocopy bukti bukti Inggrid menyiram drigen ke seluruh ruko. Dan meninggalkan jejak anting sesuai foto di depan ruko setelah hangus terbakar.
Inggrid sendiri masih mengelak, dimana ia gugup dan ketakutan ingin pergi jauh.
__ADS_1
"Bu, jelaskan semua ini bu!"
"Kenan, itu pasti akal akalan si Rini saja. Dia bohong!"
"Cih. Maaf saja sulit, selain mempertanggung jawabkannya Inggrid. Kamu masih bisa bebas, tapi sedikit lagi karma akan menimpamu. Sadarlah!" ucapan Rini bak sumpah.
Mila dan Kenan merasa lemas, niat hati meminta restu. Alhasil mereka melihat perdebatan kedua ibunya. Dimana dengan bukti kongkrit, Mila syok kala ibu mertuanya, yang menyebabkan ayah tiri Mila marah besar kepadanya.
Ayah Dave, meminta bu Rini mengusir Mila, karena dampak sial Mila yang hamil di luar nikah, berdampak pada usahanya kebakaran. Maka Rini harus mengusir Mila, agar bala nya tidak berkelanjutan.
"Bu, apakah ayah Mila yang asli masih ada?" lirih Mila celos begitu saja.
"Cih, untuk apa kamu tanya begitu Mila?"
"Setidaknya Mila datang hanya meminta restu ibu, karena sebesar kesalahan Mila. Ibu mengusir Mila pun, tidak ada bekas anak untuk seorang ibu. Mila ingin meminta restu pada ayah Mila."
"Kenapa harus Mila bu?" celos Mila.
"Maaf, itulah permintaan maaf. Ayah Dave pasti akan luluh menerima kamu kembali."
"Tapi dia bukan ayah Mila. Mila hanya meminta restu pada ibu kandung yang melahirkan Mila."
"Dasar anak durhaka kamu Mila. Kamu pikir kamu bisa sekolah dihidupi oleh siapa?" kesal Rini pada putrinya itu.
Melihat keras kepala putrinya, Rini menarik tas dan pergi begitu saja. Bahkan Inggrid pun ikut pergi, setelah pamit pada Kenan. Kenan yang mengejar sang mama, meminta Kenan berlaku semaunya dan tidak akan pernah hadir, ia akan tinggal di singapore menetap di sana.
"Mah, mama mau kemana?"
__ADS_1
"Kenan, istrimu pasti akan bawa mama ke kantor polisikan. Lakukanlah semau mu hidup dimanapun, ingat transfer bulanan 30 juta, tiap bulan. Baktimu pada ibu!"
Melihat ibunya pergi, Kenan merasa gila. Bahkan kata maaf pada bu Rini, jika salah saja sulit untuk ibunya utarakan. Kenan pun kembali ke meja Mila, dimana Mila saat itu menangis disana.
"Mila. Aku minta maaf!"
"Aku harus bagaimana Kenan, aku tidak bisa melaporkan ibumu. Ibu mertuaku sama seperti ibuku juga, aku akan berusaha keras untuk mendapat restu agar ibumu tidak benci denganku."
"Aku akan berjuang untuk memulihkan keadaan, kita pasti akan menjadi keluarga bahagia, dimana menyatukan dua keluarga tidak berselisih. Maafkan atas sikap ibuku Mila, sudah membuat kamu dan keluarga menderita."
Mila terdiam, dimana mereka memesan makan. Meski kala nafsu makan kala itu, menipis akibat pertentangan kedua ibu.
Kenan dengan sabar, menyuapi dan menghibur Mila saat itu juga. Meski senyum Mila kala itu, tidak selebar senyum bahagia.
"Kenan, aku tahu. Aku sepertinya ingat rumah bibi Ani, bibi Ani adalah kakak dari ibuku. Dia pasti tahu, sosok ayahku bukan?"
"Kamu tahu dia dimana tinggal?"
"Terakhir di medan. Tapi aku lupa jalan menuju kesana, tapi sepertinya buku catatan tersimpan di gudang, siapa tahu berhasil ditemukan."
"Good."
Kenan mengusap pipi Mila, dimana ia meminta Mila makan lebih dulu. Sebelum membuat kejutan untuk kedua anak anaknya.
Hingga tak lama, dering ponsel Kenan berdering. Dimana raut wajah Mila berubah ketika Kenan menampakan wajah rumit.
TBC.
__ADS_1