Baby Genius Sang Pilot

Baby Genius Sang Pilot
MENUJU SWISS


__ADS_3

Kenan kala itu meminta Mila senyum, bahkan meminta Mila bersabar sedikit lagi ia akan pulang. Apalagi Kenan ingin membeli sesuatu, dimana ia pulang harus tepat di tanggal dan hari ulang tahun istrinya itu.


"Ayah, aku ingin terbang di samping ayah apa boleh?" ujar Bima.


"Kak Bima mau jadi pilot, kalau kak Bima pilot terus ayah gimana?" tanya Kanya.


"Eh, kakak mau jadi pilot di samping ayah. Kan nanti kalau kakak jadi pilot, Ayah di rumah. Iya kan ayah?"


Hahaha, tawa Mila dan Kenan, menatap wajah polos dan pertanyaan putra putrinya itu yang sedang beradu argumen.


"Tentu sayang, Bima dan Kanya sudah malam. Jangan lupa tidur ya! ayah sebentar lagi akan terbang, janji sama Ayah untuk jagain bunda ya."


"Siap Ayah." serentak dua bocah itu.


Beberapa saat kedua anak anaknya ke kamar mandi untuk bergosok gigi, dimana sambungan telepon mereka saat ini tidak lewat layar televisi lagi, melainkan ponsel saja. Mila menatap wajah suaminya, memintanya cepat pulang, karena rasa rindu yang Mila tak sanggup hidup tanpa melakukan apapun.


"Udaranya dingin." bisik Mila.


"Oh, lalu istriku ingin aku berbuat apa. Apakah ini kode?" melirik matanya, Kenan bahkan gemas melihat Mila yang senyum menggigit bibir bawahnya itu.


"Sayang, aku akan segera bersiap. Rekan ku mengabarkan, pesawat cukup baik dan selesai proses pengecekan. Delay kami berangkat, untungnya hanya beberapa jam saja. Jika lewat hari eum ..entahlah, mungkin bertemu dengan istriku, aku Akan menerkammu."


"Kamu benar benar buas." balas Mila.


"Aku buas pada istriku seorang. Sampaikan kecup salam pada Bima dan Kanya ya."


"Eum, selamat malam suamiku. Kabari aku, apakah kamu sudah makan?"


"Aku akan turun ke bawah, rest area untuk makan sebelum berangkat, tapi sepertinya ada yang tertinggal di gudang, tas kecilku tidak ada." jelas Kenan.


"Tas kecil, apa isinya penting?"

__ADS_1


"Sesuatu mainan, untuk kedua bocah."


"Oh, baiklah. Hanya mainan, apa tidak ada .. Ah, aku harus melihat Bima dan Kanya. Suamiku, hari hati dan fokus ya. Selamat bertugas sayang. Cup."


"Terimakasih sayang."


Mila mematikan ponselnya, ia lebih malu jika meminta sesuatu lebih dulu, jika ia juga ingin sesuatu dari Kenan. Tapi bagus saja, bibirnya sempat di rem sehingga ia mengakhiri dengan kata alasan anak anak.


Kenan sendiri tertawa gemas, dimana sebenarnya ia juga sudah membelikan sesuatu untuk Mila, kado ulang tahun untuk istrinya, hanya saja ia melupakan menaruhnya di koper satu lagi, dimana itu bersamaan dengan barang barang rekannya.


Kenan segera bersiap, memakai seragam pilotnya, lengkap dengan atribut dan segala hal yang menempel, mengambil ponsel lalu berjalan dengan gaya yang gagah pastinya. Menutup pintu dengan id cardnya, membuat Kenan sendiri menjadi mata mata nakal para waiters, dan kasir di loby.


Kenan hanya berjalan dan sesekali mengangguk sedikit, tanda rasa sopannya, pada mereka yang melihat ke arahnya.


Hingga sampai Kenan mengambil dessert box, ia menuju sebuah ruangan dimana disana adalah tempat yang akan Kenan tuju, namun langkahnya diam sebelum membuka gagang pintu.


“Sebenarnya kita yang harus latihan suami istri, lo jangan kaget kalau tiba-tiba gue gandeng atau peluk,” perintah Andri sambil terus menatap Nela. Wanita itu mengangguk tanpa memutuskan pandangannya.


“Iyah itu gampang.”


“Trus, jangan kaget kalau gue c-i-u-m lo tiba-tiba.”


Nela seketika terbelalak saat bibir pria itu sudah menyapu bibirnya dengan cepat.


Jemarinya meraih dagu, Nela dan Andri segera memperdalam ciu-man-nya setelah merasakan kalau pramugari itu tak menolak malah membalasnya.


Tangan wanita itu masuk menyusup ke punggung Andri dan memeluknya. Semua terasa alami dan Andri yang awalnya bermaksud bercanda kini ikut hilang dalam kecupan dengan Nela. Bibir Andri dengan cepat menyeruak masuk sehingga kini lidah mereka yang saling menyapa.


Nela merasa melayang. Kecupan dengan Andri kali ini benar- benar membuat Nela melupakan segalanya. Wanita itu tidak mau penyatuan itu berakhir. Sampai akhirnya mereka berdua kehabisan napas dan melepaskan mereka dengan enggan.


Brugh.

__ADS_1


"Ah, sial. Kalian ngapain disini?" tajam Kenan, yang saat itu mencoba ke gudang, tempat mereka menaruh barang barang sebelum menuju kepala awak pesawat. Bahkan barang barang mereka akan dibawa di bagasi khusus nantinya.


Dimana hal itu Kenan dapati, rekannya sedang bermain dengan seorang pramugari di ruang rahasia khusus karyawan.


"Kenan, kami sedang latihan. Bagus saja, kami masih memakai pakaian lengkap." ujar Andri, dimana Kenan menggeleng kepala.


"Jangan kotori tempat ini, ingat bencana dimulai karena sikap kalian. Kenapa tidak kau ajak ke kamar hotel, ruangan ini khusus dimana kita akan membawa penumpang." cercah Kenan, menatap tajam, sehingga Nela sendiri yang sanggulnya sedikit melorot ia pamit, merasa malu akan tingkahnya yang di lihat Captain.


Andri meminta maaf, dan memohon untuk tidak membocorkan kelakuannya, dimana Kenan sendiri sedang sibuk mencari cari apa yang ia cari.


"Ah ketemu." senyum Kenan.


"Sudahlah, jangan di ulangi. Maaf itu bukan untuk kapten, jangan lupa dua puluh menit lagi kita terbang. Segeralah bersihkan badan, isi perutmu. Satu lagi, nikahi pramugari baru itu. Ingat karma berlaku, jika kau punya anak perempuan kamu pasti ketakutan melakukan ini." bisik Kenan menunjuk da-da rekannya, lalu ia membuka gagang pintu.


Hingga tibalah, setelah selesai mengisi perut Kenan memakan dessert box, ia menuju tangga pesawat. Dimana ia bertemu FE, dan bertanya keamanan yang sempat tertunda.


"Lapor captain, semua sudah siap. Dua puluh menit lagi kita bisa take off."


"Go Around, bagaimana?"


"Semua aman, semua sudah di cek secara berkala."


"Baiklah, aku akan lihat lagi. Jangan sampai run away, kita mengulangi kesalahan. Dimana itu membahayakan kita semua, itu adalah hal terberat sebagai pilot memutuskan." jelas Kenan.


Kenan melangkah menuju kepala pesawat, dimana Kenan di bukakan pintu dan duduk, di sana di temani rekannya, bagian FE yakni bagian pengecekan mesin dengan sebuah catatan, bahkan Kenan ikut menyalakan beberapa tombol untuk tersambung pada pusat.


Tak lama, FO andri datang, ia duduk di samping Kenan, dimana Kenan menatap lurus dan profesional.


"FO, beri aba aba pada pramugari, sepuluh menit lagi kita akan take off. Dan beri aba aba pengamanan apa saja yang ada di kursi masing masing. Pastikan semua penumpang telah ada, tidak tertinggal."


"Siap Captain." senyum Andri sementara Kenan fokus, dimana ia membuka topi ia letakkan disampingnya, ada sebuah kotak untuk Mila tersayang.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2