Baby Genius Sang Pilot

Baby Genius Sang Pilot
KECELAKAAN


__ADS_3

"Cari siapa bu?" ujarnya, seorang ibu ibu.


"Saya yang ngontrak disini bu, dan masih ada yang tinggal kok bibi saya disini, ibu ..?"


"Saya kakak bu Mira, selaku bu Rt setempat, apakah neng ini Mila Miranda ya?"


"Ah, iya bu saya Mila."


"Kuncinya ini neng, nanti kita cerita lanjut di dalam aja."


"Oh iya bu, boleh kok."


Mila dan Saputra terlihat diam, dimana anak anak juga ikut menatap ibu tetangga yang baru mereka lihat. Akan tetapi Saputra meminta membawa anak anak pergi ke minimarket sekedar jajan dalam hitungan menit hingga belasan menit.


Hingga beberapa saat Mila mendapat surat dari ibu paruh baya itu, dengan tatapan tak kuasa Mila seolah ketakutan saat ini.


'Enggak mungkin kan?'


"Ayah, enggak mungkin ini terjadi. Aaargh .. bibi, kenapa harus bibi..."


"Kenapa Mila .."


Saputra terlihat membaca saat Mila menyodorkan satu surat, beberapa kata membuat pria berambut putih itu pun sesak.


"Begitulah pak, mbak. Dua minggu lalu rumah ini kemalingan, dan tepat malam sekali, bu Rt cuma denger teriakan saja, kami pikir ribut ribut pasutri karena kami kan di belakang posisi rumahnya dempetan. Tapi pas pagi, kami syok mau beli kue taunya kondisi rumah berantakan dan Roh sama suaminya .." terdiam tak melanjutkan.


"Mereka semua dimana bu?"


"Di rumah sakit Pelita Bakti, mungkin pak Rt menunggu pak, udah lapor polisi juga."


"Terimakasih infonya ya bu, kami akan segera ke sana."


"Iya pak, mbak."

__ADS_1


Tanpa menunggu lama, Mila dan Ayahnya langsung ke rumah sakit dituju, pantas akhir akhir ini ponsel sang bibi sulit tersambung, rupanya sang bibi dan sang suami musibah, harusnya Mila tak meninggalkannya, dan terus memaksa.


"Semua salah Mila ayah, coba saat itu Mila tetap paksa mereka ikut. Huhuhu ..." rintih tangisannya menggema.


"Kita sama sama berdoa, Ayah akan bantu agar naik kasus ini, karena mereka sangat berarti bagi keluarga kita." di anggukan Mila.


Hingga beberapa puluh menit, Mila dan kedua anak anak saling memegang erat, akan tetapi bocah itu hanya kebingungan, mengapa bundanya menangis. Apalagi Uncle Heru terlihat menelpon seseorang, dan kakeknya ke administrasi bersama suster yang memberikan sambutan luar biasa hangatnya, mereka ditunjukan pada sebuah ruangan.


"Melati nomor kamar 37AB ya pak, di sana sudah ada yang menunggu juga."


"Terimakasih dokter."


Benar saja saat belok, Mila semakin menangis tak kuasa, terlihat bu Rt menoleh dan syok jika Mila baru tiba.


"Mila .. ya ampun, kamu baru datang neng?"


"Bu, bibi dan paman saya gimana di dalam?"


"Yang saya tanyakan di dalam bu, gimana pasien?"


"Eh .. maaf! masih kritis non Mila, bahkan setiap hari ibu dan pak Rt bergantian, jaga. Terus memantau, kami juga kehilangan kontak nomor kamu, karena ke reset salah pencet, ibu cari ponsel bibi Roh, tetap enggak ada jadi kami hanya bisa tunggu kamu datang ..."


"Pak Rt, saya Ayah nya Mila terimakasih sudah banyak membantu keluarga putri saya, saya akan mengganti biaya yang dikeluarkan apalagi tenaga ibu bapak direpotkan, saya sebelumnya minta maaf dan berterimakasih. Boleh saya tahu kronologinya, apa kasus ini sudah ditangani polisi atau belum?"


Pak Rt pun menceritakan banyak hal, hingga dimana Heru langsung menelpon seseorang, agar tidak alot begitu saja, tentu saja dengan kekuatan materi dan nama Saputra, aksi perampokan langsung kilat masuk berita, pak Rt dan ibu Rt sendiri langsung syok, siapa sebenarnya di depannya ini. Belum dua jam, sudah banyak berita tentang kontrakannya dan dari rekaman cctv warga, hal itu membuat kasus naik begitu cepat.


"Mila, kamu pulang dulu ke rumah. Biar anak buah Ayah yang akan menjaga, kamu perlu pikirkan Kanya dan Bima."


"Tapi .. baik Ayah, tolong beritahu Mila soal perkembangan bibi Roh dan suami di dalam, Mila ingin mereka selamat."


"Itu pasti sayang."


Tentunya bu Rt dan Pak Rt di ajak Mila dan Saputra ke mansion Ayahnya, dimana Mila juga untuk pertama kalinya. Hal itu karena mereka juga saksi, maka Saputra membutuhkannya.

__ADS_1


Dalam puluhan menit, maka sampailah Mila dan anak anak turun dari mobil, nampak rumah itu megah, membuat Mila menoleh ke anak anaknya yang lesu.


"Bunda .. ini rumah kakek?"


"Besar banget bunda .."


"Ini rumah Kanya dan Bima, dari kakek sayang. Rumah bunda juga, kalian saat ini dan selamanya akan tinggal disini ya."


"Heuum."


Bu Rt dan Pak Rt nampak bergetar melangkah, seolah kaget dan syok beda tipis. Bahkan beberapa anak buah berseragam jas abu pekat, nampak menyambut mereka bak custumer hotel vvip.


Trdeeedth ...


Tredeeth ...


Nampak Mila mengambil ponselnya dari saku jaket, hingga terdiam dan menoleh ke arah Ayahnya.


"Kenan, disana pagi sayang. Angkat saja dulu!"


"Enggak Ayah, kita kesamping Kenan dulu. Sebab saat ini bibi Roh dan pak Saputra lebih penting." lirih Mila.


"Mila .. setiap masalah renungkan dengan baik, Kenan tidak salah. Ah, meski Ayah tidak semestinya ikut campur, tapi setidaknya Kanya dan Bima. Soal kasus Bima saat itu, serahkan pada Ayah. Ayah tahu apa yang harus Ayah lakukan demi kalian."


Deg.


Perkataan Ayahnya, entah apakah Mila harus senang atau tidak, yang jelas pikirannya saat ini bercabang.


TBC.


Sambil Tunggu Up, yuk mampir kak


__ADS_1


__ADS_2