Baby Genius Sang Pilot

Baby Genius Sang Pilot
GAGAL DONG


__ADS_3

Mila saat ini memeluk si kembar, dimana Bima dan Kanya menghapus air matanya ketika memeluk.


"Bunda kok nangis?" tanya Bima.


"Iya nih, bunda dari rumah sakit ya. Bunda sakit apa?" tambah Kanya.


Mila menatap bibi Roh, dimana tidak seharusnya mengajarkan anak anaknya berbohong. Atau mungkin hanya itu saja, yang ada di pikiran sang bibi. Mila berjanji, tidak akan sekali lagi berbohong pada kedua anak anaknya itu, hanya saja Mila bingung mengatakan kebenarannya hari ini ia hilang, karena seusia kedua anak anaknya, belum sampai dan akan sedih jika mereka tahu, bundanya ke kantor polisi dan sempat jadi tontonan tetangga.


"Bunda hanya jenguk temen sayang, bunda Rindu sama kalian. Kita bobo bareng ya malam ini!" elus pipi kedua anaknya itu.


"Bi, makasih ya. Mila ke atas dulu!"


Dalam kamar, setelah beberapa saat kedua anak anak ada di kamar bundanya, Mila bertanya apakah anak anak akan memakai kamar mandi, tapi jawaban mereka diam. Mila meminta anak anak menonton kartun di kamar, bahkan AC dinyalakan dan membuat kedua anak anak Mila senyaman mungkin.


"Bunda, ayah Kenan kapan pulang?"


Deg.


Pertanyaan Kanya, membuat Mila lupa dirinya sudah bersuami. Ah! Rasanya, Mila memang harus berinteraksi lebih dekat, melupakan dendam meski pahit.


"Ayah Kenan, bekerja sayang. Lain kali kita ke tempat Ayah bekerja mau, kita menginap?"


"Bener ya bun. Mau ... Mau banget Kanya."


"Iya bunda. Bima juga." memeluk.


"Ya udah, kalian diam disini. Bunda bersih bersih dulu ya."


Kedua anak anak mengangguk, dimana Mila meletakkan ponsel dan tas sekecil dompet di meja rias. Bahkan mencopot anting, cincin pernikahan kilatnya dengan Kenan.


"Bunda kenapa di lepas?" telisik Kanya, yang kepo, membuat Mila di meja rias diam mematung.


"Iya, bukannya cincin pernikahan itu sakral, pamali kalau di copot gitu. Bunda lagi enggak marahan kan sama Ayah Kenan?" tambah Bima, mendekat seolah Mila sedang diceramahi.


"Bunda suka lepas, karena kalau mandi, tangan bunda, jadi licin sayang takut mental. Bunda bakal pakai ini di kalung, mirip liontin. Boleh kan,?" senyum Mila, yang mana kedua anak anaknya benar benar pintar, atau mungkin Mila tidak sadar tontonan sang anak tidak di sortir olehnya, atau kecolongan efek menonton drakor tempo lalu, saat Mila tidak bisa tidur, dan kedua anak anaknya bangun ikut menemani.


"Heumph." di anggukan si kembar, membantu sang Bunda mengangkat rambut Mila, saat Mila memasang kalungnya kembali.


"Sudah bunda. Cantik." kecup Kanya.

__ADS_1


Hingga beberapa saat, dimana tanpa sepengetahuan Mila. Kanya dan Bima mengambil gadget sang bunda.


Setelah memastikan, cincin berada di lehernya. Mila bergegas ke kamar kecil, meninggalkan kedua anak anaknya.


'Dik, kamu awasin bunda di kamar mandi ya! Pastiin bunda lama di sana. Biar kakak cek, kayaknya ada yang sakiti bunda deh.' bisik Bima.


'Iya kak Bima.' senyum Kanya.


Kedua bocah itu satu mengecek ponsel sang bunda, dan mencatatnya. Sementara tugas Kanya, benar benar memastikan sang Bunda tidak melihat aksi mereka yang seperti detektif genius.


'Ih, kayaknya tante ini suka bikin bunda sedih deh. Masa bilang bunda rebut suaminya. Kan bunda nikah sama Ayah Kenan.' intrik Bima, seolah berfikir keras, dimana Kanya mengintip meminta sang kakak cepat menyudahi.


Beberapa puluh menit, mereka pun kembali menonton, Mila membuatkan makanan kecil dan bercerita. Hingga menjelang malam kedua anak anak seperti biasa ia ceria, bahkan dimana kedua anak anaknya kini sudah terlelap tidur, pukul sembilan malam.


"Kali ini kalian tidur di kamar bunda ya?" kecup Mila, bergantian pada kening Bima dan Kanya, lalu menyelimuti dengan pembatas masing masing bantal guling.


Mila yang sedikit lapar, ia turun ke bawah membuat mie instan, dimana saat itu bibi Roh dan pak Supra pergi izin, ke suatu tempat.


"Ehm, baunya enak ini." memotong bagian cabe, dimana ia masukan ke dalam mangkuk.


Namun sesaat Mila memindahkan wajan berisi mie yang sudah matang, ke dalam mangkok. Tiba saja suara langkah, dan koper begitu saja terdengar.


"Ken, ka- kamu. Jangan seperti ini!"


"Jangan menolak Mila! Aku tahu kamu rapuh, jangan menghindar dariku! Jangan sembunyikan apapun, jika Dirga tidak menelpon dan bibi angkat telepon, aku bahkan merasa bersalah. Bagaimana apa kamu ada yang terluka?"


"Ken, kamu meninggalkan tugasmu. Jika kamu kebanyakan absen, bagaimana jika atasan memecatmu tidak hormat, karena kamu terlihat malas, melupakan tugasmu?"


Mila menoleh, dimana menatap Kenan dengan mata yang dalam. Mila amat bersalah, dimana dirinya di cemburui wanita manapun. Bahkan rasa sakit Mila dahulu, memudar karena kedua anak anaknya, yang tak ingin Mila sampai merasakan dirinya di bully tidak punya sosok ayah.


"Apa aku harus bergantung padamu?"


"Aku suamimu Mila, aku berhak tahu dan melindungi mu. Apakah kamu ingin aku balas sesuatu pada Shela?"


"Untuk apa, dendam tidak akan menjadi baik kan?"


"Kalau begitu, kita pindah. Ke rumah dekat danau Jenawa, atau sekitarnya kalau perlu. Agar aku bisa menetap di sana, dan membuat kalian bahagia. Kita temui ibumu, meminta restu untuk resepsi dan ijab ulang. Gimana?"


"Kenan, itu terlalu berlebihan." mencoba melepas eratan.

__ADS_1


"Tidak ada yang berlebihan, sekalipun Ibuku melarang. Hidupku adalah kebahagianku, aku pastikan ibuku dan ibumu merestui hubungan pernikahan kita. Aku berjanji, sampai seabad pun, aku berjuang untuk memintamu dari keluargamu. Maafkan sikap ibuku padamu Mila, aku akan meminta maaf pada keluargamu, atas perlakukan ibuku di masa lalu."


Deg.


Mila merasa banyak bermimpi, apakah keputusan ini benar benar terbaik. Dimana tatapan Kenan adalah janjinya dahulu.


Ehm.


Terlihat Mila mengambil mangkuk mie, mengambil sendok dan garpu.


"Mau makan bersama?"


Di Anggukan Kenan, mereka pun makan mie instan berdua. Dimana setelah itu, Mila berusaha mencoba memberi kesempatan pada pria yang ia cintai.


Kenan begitu takjub, ketika Mila sudah dipeluk dari belakang, saat menutup pintu kamar. Kenan bagai pria yang ingin mengeluarkan sebuah dari sangkarnya, menyentuh jenjang leher Mila yang seputih susu dengan erat dan lembut.


"Kamu mau apa?"


"Aku ingin ..."


Ehm.


"Ayah .. Bunda." teriak Bima, saat Kenan menoleh sang anak sedang berdiri mengucek ngucek matanya yang amat kantuk.


Hahaha ... Tawa renyah Mila, menertawakan Kenan tapi ditutup oleh tangannya sendiri. Ia tahu karena saat ini, Mood Kenan yang tadi naik, pasti sudah meredup.


"Anak anak..?" lirik Kenan, menatap Mila.


"Heuump. Mereka di kamar karena lelah, kita tidur bersama." ucap Mila, mendorong koper Kenan, berniat merapihkan.


"Ayah ... " tambah teriakan Kanya, yang ikut terbangun.


"Oh, sayang peri dan raja Ayah. Kemari kita peluk!"


Dimana Kenan merentangkan kedua tangannya, di saat bersamaan Bima dan Kanya meraih tubuh sosok ayah yang tampan.


"Yeay. Ayah kita pulang." sorak kedua anak anak saat itu, terlihat gembira membuat wajah Mila ikut bahagia melihatnya.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2