
Inggrid yang di hubungi Shela, ia segera menuju taman kanak kanak sekolah persada, terlihat pintu mobil bergeser membuat Shela terlihat sumringah dan menyapa.
"Heum! kenapa kamu mendadak hubungi tante?"
"Hah! tante ga salah, eh iya aku lupa. Kalau sekarang itu, mama mertuaku ini udah dukung anaknya menceraikan istri yang kaya raya, otomatis aku ga panggil ibu mertua lagi. Kenapa bisa di dukung, apa udah bosen hidup bergelimang harta tante?"
Inggrid tidak percaya wanita seperti Shela bisa jadi menantunya, jika bukan karena dia anak orang kaya sudah pasti ia juga tidak akan merestui. Inggrid juga tahu betul, bagaimana anaknya menahan tidak seperti suami istri umumnya, entah putranya itu apakah ia jajan di luar sana. Bahkan setelah perjanjian lima tahun, sah sah saja bagi putranya menceraikan.
"Tidak ada waktu berdebat! kenapa bisa bercerai, kamu harusnya berkaca kenapa bisa diceraikan? jika hubungan tante dan suami tante berselisih, apa kamu bisa ikut campur?"
Shela benar benar kesal, terlebih ia memberikan sebuah map! dimana jika mau membantunya, maka bukan hanya dirinya saja yang di untungkan.
"Sakiti Mila! atau anak anaknya, agar Kenan tidak ada satupun yang miliki Kenan saat ini, hanya aku tante! untung buat tante itu, saham setengah milikku, akan untuk tante juga!"
Inggrid yang memang tidak mau miskin seperti zaman dulu, ia sedikit tergoda. Jika mungkin ia culik saja kedua anak anak Mila, menaruhnya di lostmen dan dijaga seseorang. Mungkin bisa menjadi peringatan keras untuk Mila saat itu.
"Heeh! sebenarnya sih cukup mudah. Dan .." terdiam Inggrid, ketika melihat putranya sedang bermain dengan dua anak anak disana. Tak lama melihat gadis miskin yang Inggrid benci sejak dulu.
"Tu-tunggu. Mila ada disini, jadi mereka kembali lagi?"
"Heuuumph! Lihat saja. Video akrab mereka akan Shela sebar. Jika Kenan, putra tante menceraikan istri sahnya karena pelakor, dengan anak haram disana. Bukankah papa Shela akan menarik aset perusahaan suami tante. Tante jadi gembel lagi dong. Hahaha." tawa Shela pecah.
Menyebalkan bagi Inggrid, beginilah dia jika tidak kaya. Kekuasaan tidak akan melekat dalam diri orang susah, hanya orang kaya real yang bisa mengatur dan memerintah. Tapi bukan berarti Inggrid ada di pihak Shela, hanya saja ia membenci Mila seumur hidup ia tidak akan pernah merestui putra satu satunya, menikahi si miskin itu.
Di tempat lain, Mila tidak bisa berkutik ketika Kenan mengajak kedua bocah menggemaskan antusias, humble padanya. Ini pertama kalinya Kenan merasakan kebahagian yang tak pernah Kenan rasakan sebelumnya. Ia masih diam tak berkata apapun, apalagi berbicara serius dengan Mila, mengajak Bima dan Kanya adalah momen dirinya bisa membuat Mila membuka hati lagi.
"Non! tidak ada yang salah, jika kedua anak anak tahu mereka itu sedarah kan?"
"Bi! bibi tau kan, perasaan Mila saat itu. Bagaimana Mila saat itu, bibi taukan. Mila sampai saat ini belum mendapat maaf dari bapak dan ibu. Mila bahkan membenci kebodohan Mila, hingga Mila saja tidak tahu keberadaan ibu saat ini dimana."
__ADS_1
"Bibi paham non! tapi apa Kenan sudah tahu mereka anak anaknya?" tanya bibi Roh.
"Mila tidak tahu bi! Mila juga tidak yakin dia anak anak Kenan. Sebab Mila saat itu juga samar mengingat kejadian itu."
Apalagi Mila sadar saat malam itu, seharusnya Mila tidak ikut party. Mila samar samar, tapi saat Mila di ruangan itu Mila yakin Kenan bersama terakhir dengannya. Mila yang kala itu sudah tanpa busana, karena Mila dapatkan sapu tangan Kenan yang masih menempel. Tapi orangnya tidak ada. Mila dan Kenan sama sama mengagumi belum berniat berkomitmen, tapi entah bagaimana saat itu ia hanya sendiri dan memungut pakaian, pulang dengan perasaan sakit yang berbeda.
"Bunda, Kanya mau pup."
"Bima juga bunda, mau pepsi."
"Ah! kalau gitu kita ke toilet sana ya nak! Ayo bunda temani."
"Perlu paman temani Bima?" bisik nya, seolah caper agar bisa berdua dengan Mila, menatap bibi Roh sendiri hanya senyum senyum saja.
"No paman. Bima bisa jaga Bunda, dan adik Kanya. Aku kan gentle."
Mila sendiri saat itu, entah kenapa perasaannya berdebar. Tapi jika ingat dirinya yang terbuang, mustahil ia mendekatkan anak anaknya dengan Kenan, lagi pula bisa saja dia bukan anak Kenan.
Sesaat dalam toilet, Kanya yang sudah Mila bersihkan, ia menunggu di depan pintu untuk menunggu Bima. Terlihat Kenan ada di luar seolah menunggu, hanya saja ia sedang menghubungi seseorang entah pada siapa. Lagi pula Mila tak berniat tahu urusan Kenan dengan siapapun.
"Bunda, kok Kak Bima belum kelual ya?" cadel Kanya.
"Antri kali sayang, kita tunggu saja ya disini."
"Kenapa ga minta bantuan paman! paman kan Towo?" cadel Kanya, yang berkata Cowo.
"Hey! kalian sudah keluar, Bima mana?" ujar Kenan yang mendekat keberadaan Mila saat itu.
"Dia di dalam, aku ga bisa masuk karena pasti cowok semua." malu Mila, yang sekali meminta tolong tapi terlihat segan.
__ADS_1
"Biar aku masuk ya!"
Mila pun memegang tangan Kanya, entah kenapa matanya mengelilingi sekitar. Perasaan Mila juga seolah tidak enak, entah ada perasaan apa yang membuat Mila seperti ini. Mila berharap firasatnya ini bukan apa apa, tak lama Kenan keluar dengan wajah berbeda.
"Mila, di dalam kosong. Satu persatu tidak ada orang. Bahkan ada satu orang yang bersih bersih katanya anak kecil udah keluar dari tadi."
"Ais ..." tanpa aba aba, Mila meninggalkan Kenan yang berdiri kaku, sambil menggendong Kanya, menuju bibi Roh, yang kala itu ikut terkejut karena Mila berlarian.
"Non, kenapa lari larian? loh kok den Bima nya mana?"
"Bibi, Bima ga sama bibi. Soalnya di toilet Bima ga ada, Mila pikir sama bibi."
"Ga ada non! malah bibi disini nunggu terus! kita pencar ya non." di anggukan Mila.
"Enggak mungkin kalau Bima ...?" lemah Mila.
Mila yang sudah memerah air mata, ia terkejut bukan main kala Kenan juga bergetar hebat. Ia melihat sosok Mila yang seperti kehilangan nyawanya. Kenan juga syok, jika Bima benar benar sampai hilang. Kenan sendiri meminta pertolongan pada pengurus taman, dan satpam di tempat yang ia lihat untuk mencari anak hilang.
Bahkan Mila yang tak jauh dari sekolah anak anak, ia menemui pengurus sekolah apakah Bima ke kelasnya, dan memberitakan jika Bima hilang saat ia pergi ke toilet. Kenan sendiri bahkan kembali ke toilet itu, dan mencari sekeliling apakah Bima masih disana.
Bima ... teriak Mila.
Kak Bima ... teriak Kanya, yang ikut menangis melihat kakaknya tak ada.
Den .. Bima ... teriak bibi Roh!
Bima ku! tidak mungkin hilang, hingga Kenan menghubungi seseorang, harap meminta bantuan.
TBC.
__ADS_1