
"Ada apa," pesan itu tampil begitu saja, membuat Kenan memeluk Mila. Dimana Mila tak percaya, dengan tangisan histeris.
"Enggak .. ini enggak mungkin kan?"
"Mila sayang, jangan seperti ini! kita akan datang pagi sekali, dokter pasti salah diagnosa. Semua sudah aku urus, untuk melanjutkan pemasangan dijari tetap dilanjut, kita berdoa saja!"
Mila dalam pelukan Kenan, masih mode menangis. Dimana kabar pesan bibi Roh dan pak Supra saat ini lebih kritis, dimana pasien yang secara fisiologis tidak stabil, sehingga mengalami respon hipermetabolik komplek.
"Kenan apa itu hipermetabolik?"
"Kita akan tahu besok pagi sekali ya, bibi dan pak Sup tetap dalam awasan suster, kita besok segera datang ke rumah sakit mengecek keadaannya sebenarnya ya! yang aku tau, itu adalah by trauma pasca terakhir yang membuat ikut ke dalam masa saat ini."
"Aku ga mau kehilangan mereka Ken."
"Aku tahu ini berat untukmu, aku pun berharap begitu karena kita banyak berjasa padanya, tapi kita harus percaya dan yakin. Semesta lebih sayang dari kita! sabar ya sayang!" pelukan hangat Kenan, perlahan membuat Mila tenang dan tak terasa Mila pun lelah menangis akhirnya tidur.
Pagi Harinya.
Saat Mila dan Kenan akan bersiap ke kantor polisi dimana kabar kasus Shela sudah diputuskan dan meminta Mila dan Kenan datang, hal ini membuat mereka mungkin akan sibuk. Dimana pada saat itu juga Mila merasakan kepalanya kembali pusing. Mila yakin, jika dirinya bukan hamil. Namun entah kenapa, saat Kenan memintanya bersiap ke rumah sakit sebelum menyambut anak anak dari tour dubai, ini membuat Mila tak kuasa dan ketakutan, belum lagi pikirannya terbagi pada keadaan sang bibi dan suaminya.
'Udah lama sakit kaya gini, kok sekarang muncul lagi ya?' deru batin Mila, penuh kekhawatiran memijit kening kanan, dan kepala belakang sedikit ditekan.
Tak lama Kenan datang, memastikan suhu tubuh istrinya namun Mila bicara ia baik baik saja, sehingga mereka keluar menuju kantor polisi lebih dulu sebelum ke rumah sakit.
"Ayo sayang, kita akan terlambat."
"Iya, aku sudah selesai." senyum Mila, nampak sekali menyembunyikan sakit vertigo nya yang sudah tidak kambuh, tapi muncul beberapa jam sekali.
__ADS_1
Hingga sampailah mereka di kantor polisi, dimana Mila hanya mendengarkan Kenan dan ketua polisi berbicara banyak hal, dimana rasa sakit kepala Mila kembali muncul, meski tidak sesakit berada di the duke suite Ridz.
"Jadi begitulah! terpidana di hukum penjara seumur hidup, akan tetapi kemungkinan hukuman mati karena dia terlibat cukup jauh Terpidana anggota barang terlarang dan mafia organ, penjual beli kulit manusia aktif, dan ini ada surat darinya, dia menitipkan ini."
Surat?
Kenan pun mengambilnya dan tertera disana untuk Mila Miranda Saputra. "Sayang ini untukmu, bacalah!"
Heuumh.
Nampak sekali Mila saat ini menatap diam, ketika bait demi bait sesak membuat Mila iba, namun keputusan Shela yang diluar batas, itu sudah jadi resiko yang harus ia pertanggung jawabkan.
Dear Mila, sepucuk surat permohonan maaf dari wanita berhati iblis sepertiku.
...Aku minta maaf atas perbuatan ku, jika kelak aku dihukum mati, semoga kamu bahagia selalu bersama Kenan, karena pria itu aku menjadi gila, karena kenyataannya kamu adalah putri kandung papa, aku merasa kecewa. Namun semua menyadarkan aku, sejauh apapun aku lakukan hasilnya kecewa, keberuntungan ada di pihak kamu Mila, atau ini sebuah karma dari hasil merebut yang bukan milikku....
Maaf ..
Maaf.
From : Shela.
Bukan tanpa alasan, mantan istri Kenan itu akhirnya seperti buah batu yang mendapatkan karma, karma dari merebut miliknya kembali ke pemilik aslinya. Sejauh ia membuat rencana memisahkan, tetap saja Mila dan Kenan tetap bersatu, membuat Shela iri saja dan menyesal dilahirkan ke dunia.
"Oh, malang sekali. Bibi pasti hancur." lirih Mila, kembali menangis menutup matanya.
Dimana Kenan meraih tubuh remuk Mila, setelah membaca surat itu. Setah tenang dan menandatangani proses untuk terpidana dalam proses sidang, maka Kenan dan Mila menandatanganinya, hidupnya kini harus berlalu dari masa lalu yang pernah membuat Mila sakit.
__ADS_1
"Sayang, udah siap? kita ke rumah sakit sekarang." bisik Kenan.
"Iya, maaf ya! aku sudah jauh lebih baik." senyumannya, sehingga Kenan dan Mila pamit pada pihak kantor polisi.
"Tunggu pak Kenan!" ujar polisi, yang baru saja menerima telefon, dimana Mila dan Kenan akan beranjak pergi.
"Ada apa pak?" tanya kembali Kenan, karena ia rasa sudah selesai.
"Terpidana melakukan bunuh diri, dia dilarikan ke rumah sakit namun .." ujar polisi yang masih memegang gagang telepon dan menutupnya.
Mila dan Kenan saling terdiam, kaki Mila bahkan lemas atas kata kata polisi terakhir, untuk bisa menjenguknya.
"Tidak Kenan, kita ke rumah sakit. Bibi membutuhkan kita, biarkan orang papa yang membawa jasadnya!"
Deg.
Mila pamit, memutar tubuhnya berjalan. Kakinya terasa lemas, serasa dirinya kesepian ketakutan ditinggal orang yang ia sayangi.
'Kenapa bibi dan pak Supra ikut kritis harus dinyatakan tiada, jika Shela juga akan ikut dengan cara menyedihkan?' batin Mila penuh sesak.
Sementara Kenan meraih tangan Mila dan pergi menuju rumah sakit, seolah menguatkan hati Mila, karena ia tahu bagaimana perasaan istrinya saat ini.
TBC.
Judul New Author mampir Yuk!
-- Menantu Kecil Seperti Dewa -- .. pengganti End Baby Genius Sang Pilot.
__ADS_1