
Tidak bisa Kenan bayangkan, jika Mila kembali itu adalah intrik Shela, bagaimanapun Kenan lebih tahu sikap Mila dan perangai Shela, sekalipun Shela bertukar wajah, tetap saja tanda Mila dan Shela itu banyak perbedaan dari segi sikap dan kebiasaan, bahkan bertutur kata.
Mila mempunyai tanda lahir di tangan, dan suara Mila serta Shela pasti berbeda, apalagi jika wajah berubah sekalipun mirip, Kenan bisa yakin itu adalah istrinya atau bukan. Akan tetapi setelah semua kejadian ini terungkap, Kenan bersyukur dimana tidak terjadi apa apa pada Mila dan hal yang tak di inginkan tidak terjadi.
Dimana Kenan memegang erat tangan sang istri, meminta dirinya bersabar dari banyak kemungkinan. Apalagi Kenan meminta maaf atas kecerobohannya ini.
"Maafkan aku sayang, bagus semua rencana Shela tidak terjadi, harusnya aku tidak meninggalkan kamu di butik."
"Bukan salahmu, semua ini karena ketampanan suami pilotku, apa yang membuat Shela sakit hati, dan itu karena tidak ingin ada yang memiliki kamu sayang."
"Obsesi yang menggila, di atas ketampananku masih banyak yang tampan, cinta tidak bisa dipaksakan. Atau memang aku yang salah, aku memang bersalah sayang, sejak mama menjodohkan memaksa aku menikahi. Aku tidak pernah menganggap keberadaan Shela ada, sehari harinya ia hanya sibuk berbelanja bersama mama. Dan aku sibuk terbang di negara ini, kembali dan lebih sering tidur di hotel atau kantor papamu."
"Papa .. maksud kamu ayah Saputra?"
"Ah, iya ayah Saputra. Aku sudah terbiasa memanggil ayahmu dengan sebutan papa, papa mertua."
"Hahaha, bagaimana rasanya kamu menikahi kakak beradik sayang, anak dari tuan Saputra?"
"Heis, itu hanya nama saja. Kamu bukan kakak beradik dengan Shela, jangan sebut dia. Kita bahas yang lain saja sayang!"
Mila terkekeh tawa, saat menggoda Kenan. Dimana kemungkinan pikiran Mila, jika Shela anak dari bibi Roh, yang sudah ia anggap sebagai orangtuanya, meski ibu asuh. Tetap saja Mila memikirkan Shela, bagaimana dengan kondisinya sekarang.
"Sayang, Aku kira soal Shela .."
"Sayang, jangan bahas dia lagi. Dia sudah terlalu jahat."
"Sayang, hanya karena mencintaimu dia bisa bersikap seperti itu, tapi aku mohon dengarkan aku dulu!"
__ADS_1
"Baiklah, apa sayang."
Kenan menatap dalam mendekat ke wajah Mila, dimana kini mereka menatap saling intens, ada rasa rindu yang membuat Kenan ketakutan jika Mila sampai terjadi sesuatu yang lebih buruk.
"Saat aku berpura pura pingsan, dokter itu membicarakan nama Shel, yang aku yakini Shela. Lalu saat di atap lorong, ada celah garis aku melihat wajah Shela yang terbaring sedang di kikis separuh bagian wajah, tolong minta papa cari keadaannya bagaimana?"
Kenan menarik nafas, entah bagaimana sikap istrinya ini. Terlalu baik yang akan dikira orang naif, jika salah seorang telah berbuat jahat. Tapi Mila masih mengkhawatirkan keadaan Shela.
"Kenan, bagaimanapun setiap orang punya salah dan akan ada penyesalan."
"Aku akan coba bicara dengan papamu sayang, hanya saja aku tahu karakternya. Sekali kecewa, dia tidak akan memaafkan. Apalagi soal sekali ia kecewa pada Shela, membuat nama baiknya malu. Ia akan ada dan terlihat, tapi lebih sering tidak akan terlihat di mata ayahmu."
"Hah, benarkah?"
Tak lama Saputra datang, dengan Heru dimana beberapa pria berseragam abu abu pekat membuat pertanyaan saat Kenan dan Mila sedang berpegangan tangan, terlepas sesaat orang penting memanggil Kenan.
"Saya jauh lebih baik pak, saya ingin segera pulang saat ini rasanya, saya kangen anak anak."
"Semoga cepat pulih bu Mila, saya minta waktunya akan ada pertanyaan dari orang kami terkait apa saja yang bu Mila alami, apa bu Mila tidak keberatan?"
"Ya pak, saya akan jelaskan dan sudah jauh lebih baik."
Kenan memajukan posisi duduk Mila lebih nyaman, hingga dimana saat itu commander itu meminta Kenan dan pak Saputra keluar untuk perihal penting.
"Pak Saputra, pak Kenan. Saya boleh minta waktunya diluar?"
"Baik."
__ADS_1
Kenan pamit pada Mila, dimana Mila saat ini ditemani Heru dan seorang wanita tomboy, dengan banyak pertanyaan mirip seorang analis trauma dalam penyekapan, dimana info Mila benar benar akurat, dimana kejadian Mila itu menimbulkan banyak kontroversi, dokter yang hilang lima tahun kemudian, adalah kemungkinan orang yang dilihat Mila saat itu.
Sementara beberapa jam kemudian setelah Mila di wawancarai, terlihat Kenan dan pak Saputra belum kembali, sehingga Heru masih saja berdiri dengan aksi canggungnya menemani Mila.
"Heru, boleh saya tanya?"
"Jika saya tahu, saya tidak keberatan akan menjawab nona."
"Panggil Mila saja, rasanya aneh."
"Tidak bisa nona. Karena saya bekerja sebagai asisten tuan Saputra, jadi itu sudah hal semestinya."
"Soal Shela, apa yang kamu tahu. Apakah Kenan tidak pernah seperti suami istri, dan apa kesalahan Shela sehingga ayah. Eum .. maksud saya tuan Saputra marah hingga tidak menganggap Shela?"
"Eem, soal itu saya rasa anda bisa tanya langsung pada Kenan nona."
"Andai saja, tapi Kenan tidak mau bahas." lesu Mila.
"Haiz, begini nona Mila. Kenan tidak pernah mencintai Shela, dimana saat itu ia terpaksa menikah karena sebuah hutang bu Inggrid terlalu besar pada Saputra, dan Shela yang sering berganti pasangan, apalagi mempunyai penyakit kelamin saat itu. Dimana tuan adalah orang pemerintahan, dan dengan menikah hanya sebuah nama, saling menguntungkan. Hanya itu saja pendapat saya tahu Nona, soal layaknya suami istri saya tidak tahu karena tidak melihat langsung." jelas Heru, hal itu membuat Mila terdiam begitu saja.
'Hutang .. dan sebuah nama?' penat Mila, dimana Mila tak bisa bertanya lagi, karena Ayah dan suaminya kembali datang.
TBC.
Sambil Tunggu Up Mila, yuks mampir guys ke judul temen litersi Author.
__ADS_1