Baby Genius Sang Pilot

Baby Genius Sang Pilot
HARUSKAN BERTEMU


__ADS_3

Gila .. adalah hal yang membuat Kenan geram. Dimana ia mendapat informasi dari seseorang yang ia percaya, jika Shela berniat mengunjungi Swiss, dan berniat hadir di acara resepsi pernikahannya.


"Ken, apa yang membuat kamu terlihat gusar?"


"Sayang, aku dapat informasi dari Rio, jika Shela akan hadir di resepsi kita minggu depan."


"Rio, itu .. adik Heru, yang bekerja di Teller."


"Benar sayang, kamu masih ingat?"


"Aku tidak masalah jika Shela hadir, sekaligus aku ingin tahu. Apakah papa mengundangnya, bagaimanapun dia pasti .."


"Aku ingin kamu tetap berhati hati, setidaknya kita harus waspada sayang. Entah kenapa firasat ku tidak enak. Karena aku tahu betul papamu, juga tahu seperti apa Shela."


"Maksudmu .. kenapa dengan papaku, bahkan aku mengira dia masih saudara beda ayah kan?"


"Dia tidak hangat, seperti anak dan ayah pada umumnya. Shela dan papamu tidak seperti yang kamu bayangkan."


Deg.


Mila terdiam, dan pucat dimana entah mengapa bisa seorang papa tidak sedekat itu pada anaknya sendiri.


"Baiklah, segeralah bersiap. Kamu sudah mengecek ponselku, tolong masuk kan ipad ke dalam tas mu sayang, kita akan bersiap. Menemui ibumu, lagi pula ayah Saputra pasti sudah akan meluncur bersama kedua anak anak bukan?"

__ADS_1


"Oke suami tampan. Aku akan bersiap, apalagi besok kamu akan pergi bertugas. Aku harap, kamu jangan lupakan aku, untuk sering menelepon ya."


"Tentu, mana bisa aku melupakan istri cantik ku ini."


Beberapa kali perasaan Kenan, sedikit tidak enak. Dimana rasa ketakutan, dan ia amat tahu sikap kelicikan Shela. Dimana melihat Mila, yang sedang bersiap siap. Bahkan kali ini Kenan sedikit takut, jika Shela datang ingin mengacau resepsi yang akan ia lakukan nanti.


Hingga beberapa kali, Mila nampak sendu memikirkan, mengapa Shela dan papanya tidak hangat. Ah, penat rasanya ingin sekali menanyakan dan mendapat jawaban suaminya sekarang juga.


"Ken, kenapa Shela dan papa tidak hangat? apa kamu tahu, jujur aku merasa terganggu."


"Kamu lebih berhak menanyakan langsung pada papamu Mila, aku tidak berhak memberitahumu, karena itu di luar skenario kehidupan kelahiranku bukan jadi anak Saputra."


Menyebalkan, deru nafas Mila saat ini, yang mengekor Kenan dengan tatapan menggoda. Ada rasa kecewa. Alhasil, mereka menuju lokasi dimana kejutan untuk istrinya nanti malam, tepat pukul pergantian hari, Mila berulang tahun di usia 28 di tahun. Hal itu membuat Kenan nampak tak sabar, dimana pertemuan ibu mertuanya dan Saputra yang kini jadi ayah mertuanya akan hadir.


"Loh kenapa?" tanya Kenan, yang masih fokus menyetir.


"Ayah Dave, itu terlalu over protektif sama ibu, aneh rasanya. Sempat aku bertemu adikku, tapi saat bertemu di swalayan ibu tertekan sangat, apalagi aku benar seperti anak pembawa sial dan penuh dosa, karena aku .. di begitu membenciku sejak kejadian aku hamil."


"Mil, bahkan jika aku menemui papa sambung kamu, aku yang harusnya di cambuk, di marahi. Maaf kan semua karena aku yang buat kamu menderita selama lima tahun lamanya, kamu benar benar asing. Maaf!"


"Itu sudah berlalu dan cukup aku rasakan, hanya saja aku benar benar ingin bertemu ibu. Kenapa kata ayah, aku telah mati, dan saat aku menanyakan tentang ayah, ibu bilang telah mati."


"Wafat .. Meninggal sayang! rasanya aneh saat kamu bilang mati."

__ADS_1


Eh.


Mila meminta maaf, sehingga perbincangan mereka semakin serius, dimana sudah hampir setengah jam mereka menempuh perjalanan, dimana dekat tapi karena week and, jadi sedikit macet.


Hingga sampailah mereka di gedung Rose, dimana nampak megah saat memasuki gedung tersebut. Di tambah perlakuan saat mereka tiba, layaknya sultan penuh sambutan. Padahal jadi Kenan itu amat mengganggu, dimana ia lebih suka yang terlihat sepi dan tidak bising, dimana awal pesawat dan baling baling tuntutan pekerjaan, membuat mereka brutal dan jarang jika sedang bucin.


Tuk.


Tuk.


Sampailah Mila di meja nomor 14, di mana seseorang sedang duduk setengah berdiri, membuat Kenan lari ke arah Mila dengan wajah malu, karena mereka di kelilingi banyak orang, yang sedang antri juga.


Di mana seorang ibu paruh baya, nampak hadir dan baru tiba.


"Entah, dia disana!" unjuk Kenan, membuat Mila terdiam pasi.


TBC.


Maafkan delay Update, tugas Author banyak sekali sampe lupa alur Mila, semoga besok on jaya lagi, author juga buat karya berjudul di karya pijo alias paijo, di ganti huruf depannya F.


Judul : Granat My Osis.


Judul : Derit Ranjang Maduku, napen adalah Pena Bali, akan crazy Up setelah lolos kontrak ya all.

__ADS_1


Happy Reading All.


__ADS_2