Baby Genius Sang Pilot

Baby Genius Sang Pilot
MILA BAHAGIA


__ADS_3

Mila baru saja sampai rumah, ia kebetulan naik taksi. Hingga beberapa saat Mila duduk di tepi toko etalase kue jualannya, nampak bibi Roh, membawakan minum.


"Pakai taksi non, mobilnya kemana?"


"Kebengkel bi, bibi tahu kan. Mila penat deh, hari ini kue tutup setengah hari aja bi. Kue yang ada, mau di borong sama bu Rt kan. Kayaknya Deva juga telat, dia itu katanya ada interview kerjaan."


"Oh, iya tadi ada orang dari mas Deva, yang bantu itu, pesanannya pas kok ini. Seribu pcs, apa kita ga buat kue lagi Non. Sayang kan masih ada waktu setengah hari?"


"Bibi udah capek, lagi pula Mila belum cek bahan makanan di dalam. Bibi sama pak Supra, jadi mau ke pasar?"


"Jadi non, ini mau beberes dulu."


"Ya udah, nanti bareng aja di taksi sama Mila, kebetulan Mila mau keluar, sehabis dari jemput anak anak." jelasnya, membuat bibi Roh mengangguk.


"Tu-Tunggu non. Ini tadi ada surat, dari pak Heru. Katanya nitip buat non Mila."


Mila pun mengambil surat itu, sehingga bukan tanpa alasan, ia masuk sambil menyobek surat yang entah Mila juga tidak tahu.


'Mila, maaf jika saya lancang! tapi, bisakah anda jenguk siang ini ke rumah sakit. Saya mohon! Tuan Kenan, saat ini amnesia Global, bersifat sementara dan ingatannya itu, hanya ada pada nama anda. Bisakah anda ke rumah sakit medika ruang melati 11. Saya mohon! saya mengirim pesan ini, karena saya tahu anda gadis yang baik, yang mungkin masa lalu dengan Tuan Kenan sangat indah. Karena dia hanya bisa ingat, nama dan memanggil anda saja. Saya mohon kedatangan anda, sudah pasti akan membuat ingatan tuan Kenan kembali.'


Deg.


Mila terdiam, dimana ia duduk lemas. Kenapa takdir terus saja membuat hidupnya sulit, Mila hanya ingin hidup tanpa masa lalu, bahkan kedatangan Kenan, membuat Mila ketakutan sebuah ancaman besar. Sekalipun ia tidak kembali pada Kenan, nasab anak anaknya ada padanya, bukan pada Kenan. Sehingga tidak perlu lagi, Mila mengemis agar Kenan bisa bertanggung jawab seperti dulu, ia masih bodoh.


"Aku mana bisa menemuinya bi?" lirihnya, saat bibi Roh mendekat.


"Non. Maaf kalau bibi lancang, tapi bukannya menolong itu sifatnya mulia. Apa non Mila masih dendam, saran bibi lupain semua dendam itu non. Biar lega semuanya."


"Karena Kenan, Mila ga dianggap sama ibu. Apa karena ibu udah cukup sama anaknya yang disekolahkan di amerika, hingga dia enggak mau anggap Mila, bahkan waktu ketemu soal Bima hilang, Bima sama ibu. Mila cuma punya ibu, tapi ibu milih hidup sama suami dan anaknya yang baru, hanya karena Mila membuat kesalahan. Apakah Mila ga pantas dapat maaf, bi? sampai sampai bertemu Mila, ibu asing sama Mila."


"Sabar non. Jangan di ingat sedih itu!" lirih bibi.

__ADS_1


"Mila harap, bibi Roh dan pak Supra jangan tinggalin Mila ya. Sampai kapanpun, bibi sama pak Supra udah bagian keluarga Mila." tangis Mila, terisak.


"Iya non. Bibi janji ga akan tinggalin non. Udah non Mila jangan nangis lagi ya! maafin bibi udah buat ingat soal itu." Bibi Roh menepuk bahu Mila, dalam pelukan hangat yang masih terasa menyedihkan.


Beberapa jam kemudian, Mila telah mendrop bibi Roh dan pak Supra yang akan belanja bulanan kebutuhan di rumah yang hampir habis, saat ini Mila juga menyempatkan dirinya ke bank. Dimana ia harus mencairkan rekening berjangkanya yang sudah terpendam selama lima belas tahun, dulu selagi Mila masih bekerja pramugari, ia menyisihkan keuangannya untuk suatu hari nanti, pasti ia butuhkan.


Mila yang sudah sempat mengambil nomor antrian, ia segera menunggu panggilan. Kebetulan juga, nama petugas banknya adalah Dirga, teman baik Deva.


"Atas nama bu Mila, silahkan bu!"


Spontan Mila senyum, hanya karena Dirga yang kali ini sedang bekerja, maka ia sempatkan bersapa dengan ramah.


"Jadi kamu cairin nih Mil, enggak di perpanjang?" lirik Dirga.


"Kamu kan tahu Dir, aku lagi butuh banyak pengeluaran. Kondisi keuangan aku yang terpuruk, aku ga mau sampai bibi dan pak Supra cari kerjaan baru."


"Ya ampun, segitunya kamu sampai ga mau kehilangan. Kamu bisa bilang sama aku dan Deva, kalau butuh sesuatu."


Mila hanya membalas senyum dan tidak mau merepotkan orang terdekat, pantang bagi Mila berhutang. Ia takut teman baiknya malah pergi selamanya karena di susahkan, apalagi menyangkut soal materi yang sifatnya sensitif, Mila takut tidak bisa mengembalikan tepat waktu.


"Lancar sih, tapi ya gitu deh Dirga. Kue lebih banyak kita makanin dan di bagiin kalau ga habis. Tapi syukur sih, rame terus setiap hari. Cuma aku kayaknya harus kerja deh, apa aku lamar kerja aja ya, di bank kaya kamu?" goda Mila.


"Jenuh Mil, aku punya kenalan tuh. Jadi! bos nya manager kacab aku ini, punya temen. Perusahaan Berlian, kamu mau aku kenalin. Tapi masih banyak sih sebenarnya, kayak perusahaan Kontraktor, tambang, sama Jewerly gitu. Coba kamu buka blognya, nanti aku japri ya Mil."


"Iya, makasih ya Dirga."


Dirga pun meminta Mila menunggu sebentar, hingga beberapa waktu Mila memutar waktu dan jam, semoga ia tidak terlambat menjemput kedua anak anaknya itu.


"Nih, saldo tabungan berjangkanya udah di kirim ke rekening umum kamu. Silahkan di cek ya Mil! ada tambahan bunga 0,8 % perbulan, selama lima belas tahun, keuntungan dan pencairannya di kertas ini! nanti kamu hitung lagi di rumah, kalau ada kesalahan kamu kontak aku lagi ya Mil."


"Thanks Dirga, atas bantuannya." pamit Mila.

__ADS_1


"Sama sama, sampaikan sama si kembar ya. Salam dari Om Dirga." di anggukan Mila.


Mila kembali naik taksi, sehingga saat sampai disekolah, tepat waktu kedua anak anaknya tiba melihat, mencoba berlari ke arahnya. Hingga beberapa saat, nampak di belakang Mila terlihat seseorang. Membuat Bima dan Kanya menghentikan pelukannya.


"Bunda itu dibelakang siapa?'


"Anda bu Mila kan, saya supir tuan Kenan, di minta pak Heru, menitipkan surat ini. Di rumah sakit tepatnya akan aman, jika bu Mila menjenguknya sebentar."


"Bunda, om ini supir paman Kenan ya bun. Bunda, bunda ayo kita jenguk paman Kenan!" teriak manja Kanya.


"Pak, begini jika saya jenguk di rumah sakit. Tidak baik untuk kedua anak anak saya, saya janji akan datang! bisakah Heru datang menemui saya, saya sudah membalas surat ini ke surel Heru, tolong sampaikan. Bagaimana pun juga, saya tidak ingin kedatangan saya yang menjenguk Kenan, disalah artikan oleh orang yang sudah pasti Heru tahu, saya tidak dibutuhkan."


"Baik. Kalau begitu saya permisi bu Mila, segera saya sampaikan pada pak Heru."


Mila kembali menoleh pada kedua anaknya yang tampak murung, kali ini Mila mensejajarkan berjongkok menatap kedua anak anaknya.


"Sayang, bunda janji. Kita akan jenguk paman Kenan, tapi jika ia sudah di tempatkan di ruangan khusus. Yang pastinya aman, aman dari bakteri. Kalaupun kita paksa, anak kecil tidak boleh masuk sayang, di rumah sakit."


"Begitu ya bun .. iya deh, Bima ngerti."


"Maafin Kanya juga ya bunda, udah pakca pakca bunda sedih." tutur Kanya.


"Enggak sayang, kamu ga paksa bunda. Sekarang kita pulang, tapi kita kebengkel dulu, mobil bunda habis jajan nih, jadi enaknya kita mampir kemana dulu ya, biar nunggunya enggak lama?" lirih Mila.


"Mixue .. Hot pot! boleh bunda?"


"Bo-boleh dong sayang." senyum Mila, satu tangan kiri menggenggam Bima, sebelah tangan kanannya menggenggam tangan Kanya. Dengan rasa bahagia. Seolah Mila berharap, hidup mereka selalu damai bertiga seperti saat ini, hingga kelak dewasa anak anaknya sudah remaja.


Rasanya, Mila ingin Kanya dan Bima selalu kecil, agar Mila selalu bersamanya tak pernah di tinggalkan.


TBC.

__ADS_1


Happy Reading All!


Yuks jejak lagi, biar review lancar jaya.


__ADS_2