
Detak jantung Mila, benar benar sangat kencang. Dimana hal itu membuat Mila takut, jika Shela datang, atau bahkan ibu Kenan melihatnya dan kedua anak anaknya memergoki Mila.
'Tunggu, aku ingat ibu inggrid, bagaimana nasibnya ya. Bukankah dibawa mobil beberapa jam lalu.' batin Mila.
"Bu Mila, silahkan bu!" Heru dan seorang dua bodyguard menjaga, membuat Mila menatap Kanya dan Bima.
"Tapi anak anak saya bagaimana?"
"Saya akan menjaganya! iya kan ganteng, dan cantik."
"Iy om. Bunda duluan aja, soalnya Bima dan Kanya, mau bungkus kado dulu. Iya kan om?"
"Betul tuh bunda." tambah kedua anak anak Mila, menatap Heru.
Hah.
"Baiklah, kalian jangan nakal ya. Heru saya titip kedua anak anak saya! jangan sampai lecet, atau terjatuh." ketus Mila, dan senyum pada kedua anak anak Mila, yang kala itu Bima dan Kanya tertawa renyah.
"Baik bu." senyum Heru.
Mila membuka pintu, dimana ia melangkah dan melihat ranjang Kenan, disana terlilit perban. Dimana Kenan sedang tertidur, ada rasa kasihan Mila saat itu. Ia mendekat dan meletakkan buah di atas meja. Ia duduk dan menatap Kenan yang terlihat monitor berjalan begitu saja.
"Kenan aku datang! maaf, jika aku baru menjenguk Mu, selama beberapa minggu kamu di rawat. Bagaimana keadaan mu, semoga membaik dan semakin membaik. Semoga kamu juga cepat siuman." lirih Mila, kala itu melihat Kenan.
Mila menatap sekeliling, dimana ia memberanikan diri memegang tangan Kenan, meski sempat dan amat ragu ragu.
"Ken, sebaiknya kamu lekas sembuh. Agar semua semakin baik baik saja, aku harap kamu juga sembuh, dan tidak pernah lagi melakukan hal yang bukan bukan." jelas kembali Mila."
Mila kembali bersedih, ingat hal yang mungkin membuatnya sakit. Sehingga Mila kembali menghapus rasa sedihnya, mencoba tetap tenang. Bagaimanapun Mila bahagia, kini bisa menjenguk Kenan dan selamat dari kecelakaan.
__ADS_1
"Kenan, aku dengar kamu kecelakaan selepas kamu bekerja, dengan seragam pilot mu berlumuran darah, semoga kamu cepat sehat dan pulih, sehingga bisa kembali beraktifitas. Karena ada banyak orang yang menyayangi kamu, ingin kesembuhan kamu segera mungkin, aku mendoakan mu untuk kamu segera sembuh, dan membuka mata."
"Apa kamu termasuk menyayangi ku." lirihnya, tanpa Mila sadar Jika Kenan membuka mata.
"Semua pasti menyayangi Mu, aku pun berharap dan masih sama seperti dulu, berharap kamu segera sembuh. Huhuhu." tangis Mila, celos begitu saja. Dan terdiam, kala ada suara yang membalasnya.
"Serius, kamu masih seperti dulu?"
Deg.
Mila mendongak, dan melihat wajah Kenan yang telah membuka mata, jadi tadi yang menjawab hal tadi, itu Kenan.
"Benarkah, kamu masih seperti dulu?" Kenan senyum, melirik tangannya yang masih dipegang Mila.
Mila refleks menjauhkan tangannya, bibirnya beku seolah ia terjebak, atas apa yang ia lihat. Dan yang Heru katakan jika Kenan masih kritis dan belum sadar.
"Hah, jadi kamu tidak kritis?" lirih Mila sedikit geram.
"Aku sudah mendingan, rasanya mendengar curhatan kamu tadi Mil, aku bahagia."
"Apa .."
"Heum, dan rasanya mendengar ada yang mengatakan aku sama seperti dulu, aku jadi penasaran. Apakah cinta itu masih ada, dan nyatanya benar. Ah! rasanya aku akan semakin membaik."
Kenan yang menatap Mila, ia pun segera merapatkan wajahnya ke arah Mila, meski Mila mencoba melepas eratan itu. Itu membuat dirinya semakin berontak, tapi Kenan tidak ada tanda tanda orang sakit, bahkan pegangannya terkunci keras.
Duar.
Pintu terbuka, hal itu membuat Kenan melemas, dan berpura pura lesu, ketika kedua anak anak Mila datang berlarian.
__ADS_1
"Kau.." kesal Mila, yang berdiri dan sedikit gugup.
"Bunda .. Bunda udah potongin apel?" tanya Bima.
"Ah, iya ini bu - bunda baru mau potongin." senyum Mila, sedikit gemetar.
"Hei anak anak manis, paman senang sekali kalian berdua jenguk paman. Sepertinya paman akan terasa lebih baik." ujarnya, membuat senyum merekah.
"Paman Kenan, kami datang loh. Lihat deh, ini dari kami." Kanya dan Bima memberikan sebuah kado persegi empat, dimana Kenan menerimanya dengan senang.
"Boleh paman buka?"
"Boleh dong. Ayo buka cekalang!" lirih Kanya sedikit cadel.
Kenan senyum pada Mila, dan kedua anak anak Mila saat itu mendekat ke arah Kenan. Dimana Kenan membukanya dan itu adalah lukisan tangan buatan Bima.
"Itu dari kak Bima loh, kak Bima pandai lukis. Bagus gak?"
"Oh, makasih ya sayang! sangat bagus,"
"Bunda udah kupasin buah apelnya, sini Bun. Biar Kanya kasihin, dan suapin paman Kenan." meraih piring kecil, dari tangan sang bunda.
Hal itu membuat Mila senyum, dan mencoba sabar. Bagaimana pun dirinya sudah ketahuan, apa yang tadi ia bicarakan. Nyatanya, Kenan sudah sadar dari kritis, dan tidak ada tanda tanda amnesia.
'Dasar Heru, awas saja nanti jika di luar.' lirih Mila penuh ancaman.
Tak lama, sebuah pintu terbuka membuat Mila menoleh dan menatap bulat lebar lebar, siapa yang datang.
TBC.
__ADS_1