
Selepas ijab kabul sah, terlihat makanan telah tersaji dari beberapa kue. Pada umumnya Mila menandatangani dan mendapat buku nikah. Bahkan Kenan yang gugup menatap Mila, ia berjanji akan membuatkan resepsi pernikahannya seperti impiannya dulu, bukan tanpa Alasan, Kenan bahkan menghubungi ibu Inggrid, untuk merestui secara live saat Kenan ijab kabul.
Inggrid awalnya tak sudi, tapi setelah melihat ada Tuan Saputra, maka ia mau tak mau luluh sementara, dan akan segera pulang ke ibu kota.
'Aku tidak tahu, akan ada apa lagi setelah ini. Masalah apalagi setelah ijab kabul ini berakhir.' batin Mila.
Hingga semua satu persatu pamit, Mila berterimakasih pada bu Rt, yang peduli padanya, hingga namanya bahkan tidak tercemar gosip, membuat Mila menganggap bu Rt, bagian keluarganya.
"Kita keluarga Mil, ibu tahu kamu seperti apa. Hanya saja, kamu tidak bisa menyalahkan takdir, perbaikilah agar semuanya kembali seperti dulu." saran bu Rt, seolah tahu kehidupan Mila yang asli.
Beberapa Saat Kemudian.
Rey menjelaskan mengapa ia mau membantu kedua anak anak Mila saat itu. Pertama Rey menerima panggilan telepon, itu karena tidak di angkat oleh Deva, lalu mengirimi nomor Dirga yang membuat Rey, mencari tahu tentang kehidupan Mila, selepas masa janjinya pada bu Rini, untuk memastikan kehidupan Mila baik baik saja.
Dan Mila terkejut, karena baru tahu jika ada seseorang yang tidak berniat baik padanya, Rey memberikan beberapa video kegiatan dua wanita, dan orang suruhan untuk mencelakai Mila dan kedua anak anaknya tapi gagal, semua itu karena perlindungan Rey untuk Mila.
"Apa, Rey .. Kamu melalukan ini semua?"
"Demi kasih sayang, kamu menganggapku kakak kan? Apalagi istriku adalah keponakan mamamu, jadi kita benar keluarga. Tidak ada yang ingin melihat kamu terancam, apalagi penderitaan mu oleh papa Dave, sudah berubah dan mengusirmu. Aku yakin, ibumu tidak sekejam sikapnya!" jelas Rey, membuat Mila berkaca kaca.
"Apa ibuku merestui jika aku menikah?"
"Mila, jangan egois pada kedua anak anakmu! Bahkan aku sudah memberi perhitungan pada orangtua yang anaknya dibiarkan membully kedua anak anakmu."
"Membully? Apakah karena tidak peka, aku terlihat anak anak baik baik saja. Karena Bima dan Kanya pasti bisa hidup tanpa seorang ayah."
"Kenyataannya tidak seperti itu Mil, selamat berbahagia. Aku pastikan ibumu merestui, dan rayakan pernikahan impianmu kelak." senyum Rey, membuat Mila haru.
Rey pamit, juga pada kedua anak anak Mila. Bahkan setelah kepergian Rey, tinggal tuan Saputra yang membuat Mila takut, apakah kedatangannya untuk memberi perhitungan pada Kenan, soal perusahaannya yang rugi.
"Dadah Om Rey. Makasih ya." senyum Bima dan Kanya melambai tangan.
Hingga beberapa saat, bibi Roh membawa kedua anak anak Mila ke kamar, untuk bersiap mengganti piyama tidur, tetapi kedua anak anak itu mengintip siapa pria berambut putih yang menatap Ayah Kenan.
"Ayo den Bima!" ujar bibi Roh, mengajak.
__ADS_1
'Yeay, malam ini kita tidur bareng Ayah dan Bunda.' teriak bisikan Bima, di anggukan Kanya yang mengekor berlari lari.
"Hati hati nak!" teriak Mila, seantusias itu anak anaknya saat ini.
"Kenan, papa mertuamu sedang menghubungi siapa kira kira?"
"Mantan papa mertua, aku bahkan tidak tahu. Mungkin saja dia datang ingin aku mengganti rugi, tapi karena ramai ia jaga sikap." jelas Kenan pada Mila.
"Tunggu aku disini ya Mil, aku akan keluar dulu."
Kenan berlalu menuju teras, setidaknya memang ia mempunyai tempat tinggal saat ini. Entah apakah pernikahan paksa ini pantas untuknya, sebab ia tahu jika Mila dan dirinya perlu proses bagaimana kedepannya mereka jalani.
"Terimakasih sudah datang Pak Saputra."
"Hahaha, terlihat lucu kalian menikah karena digrebek. Jadi selama kau lari dari rumah sakit, kau pikir aman dan begitu saja. Ingat biaya tagihanmu dan kerugian seminggu kau kritis, mencapai dua miliar. Belum lagi tagihan ibumu, apa kau ingin kasus ini ku anggap kau lalai dan menggelapkan dana?" lirik Saputra dengan gaya yang angkuh.
"Baik saya akan mengembalikannya, asalkan beri saya waktu! Lagipula jika tuan melaporkan, bahkan saya sudah di pecat dari perusahaan kan?" tawa Kenan, yang membuat Saputra terlihat bodoh.
"Dengan cara apa, kau akan ganti. Pekerjaanmu saja benar benar tidak ada saat ini."
"Hah! Kau yakin, pernikahan ini sah?"
"Tapi saya sah untuk kedua anak anak saya di dalam, sebelum saya menikah dipaksa oleh anda dan almarhum ayah. Saya punya kekasih, dan kami telah jauh. Takdir mempertemukan kami kembali, apapun menurut anda, saya tidak akan pernah kembali menjadi suami putri anda Tuan! Saya tidak pernah cinta pada Shela, bahkan tidak pernah menyentuhnya. Jadi berikan peringatan putri anda, untuk tidak mencelakai kehidupan orang yang saya sayangi!" tegas Kenan, lalu pergi begitu saja.
Kenan mendapat amanah, jika selama ini Rey sering menguntit diam diam orang yang berbuat jahat, kali ini Rey meminta untuk Kenan bisa menjaga Mila dan si kembar. Apalagi kehidupan Mila sudah sangat menderita tidak diakui.
'Bagaimana bisa, seorang ayah mengusir putrinya sendiri?'
'Percayalah Ken, Tuan Dave, adalah pria kasar, dia adalah suami kedua dari ibu Rini, ibu Mila yang takut pada suaminya, sungguh ia menikah jatuh pada pria yang tidak tepat. Mila sendiri tidak punya ayah, aku bahkan tidak tahu kehidupan privasinya lebih jauh.'
Ingatan Kenan, sebelum Rey pergi, bahkan kini ia telah menutup pintu gerbang ketika mobil Saputra menghilang. Kenan yakin, jika Saputra datang bukan karena menuntut ia ganti rugi, melainkan ada hal yang lebih penting dari soal materi.
Hingga Beberapa Jam Kemudian.
Kenan yang sudah rapih memakai piyama, ia mengetuk pintu kamar kedua anak anaknya. Ada rasa bahagia, ketika Kenan meraba papan nama kamar kedua anak anaknya itu di depan pintu, tangisan haru membuat Kenan amat begitu bahagia.
__ADS_1
'Aku bukanlah Kenan yang liar, aku telah punya keluarga. Bahkan separuh hidupku, akan terus menjaga dan menyayanginya.'
"Ayah .. " lirih Bima dan Kanya yang menoleh, ketika Kenan membuka pintu.
Bahkan Mila sedikit gugup, bagaimana tidak ia juga memakai piyama yang membuatnya risih ketika seorang pria mendekat.
"Lagi apa sayang? Boleh Ayah ikut?"
"Heum. Bunda .. Kasihin buku dongengnya ke Ayah. Tapi Bunda tetap disini ya!"
Mila celos menatap Kenan yang senyum, setelah Kanya dan Bima memberikan salah satu buku yang Kenan ambil untuk ia baca. Mila disebelah kanan memeluk Kanya, dan Kenan sebelah kiri memeluk Bima yang sambil menatap membacakan cerita.
Selama beberapa puluh menit bercerita dongeng, kini mereka semua tertidur. Dan Kenan mengangkat Bima, ke ranjang sebelahnya dan menyelimuti Bima.
"Anak anak sudah tidur, sebaiknya kita tinggalkan."
"Iya."
Mila lebih dulu berjalan, aneh rasanya. Kemarin Kenan menginap karena ia sakit dan membutuhkan pertolongan. Kali ini rasanya Mila terasa aneh, biasanya ia hidup dengan kedua anak anaknya. Kini ada sosok pria yang memang dia adalah ayah dari anak anaknya.
"Mila .."
"Iya .."
"Aku akan tetap tidur di ruang tamu, sampai pendekatan kita benar benar baik. Aku minta maaf atas semua ini!"
"Sebaiknya begitu, aku belum terbiasa jika kita sekamar Kenan." jawab Mila, entah apakah ini akan menyakitkan bagi Kenan, karena Mila memintanya lebih dulu saat itu, yang tidak siap tidur sekamar.
"Ya, aku mengerti. Besok aku harus ke bandara, aku akan bekerja lagi. Meski aku tidak jadi ceo! Tapi aku masih tetap Pilot. Aku minta satu hal, tetaplah biasa jika kita di depan anak anak."
"Terimakasih Kenan, aku minta maaf. Kita memang sah, tapi aku belum bisa dan tidak terbiasa untuk hal ini." lirih Mila, ia berlalu masuk ke dalam kamar.
Sementara Kenan, kini di kamar tamu, ia memiringkan posisinya berkali kali. Entah kenapa ia benar benar tidak bisa tidur.
Begitupun Mila, saat ini ada rasa bersalah, entah kenapa ia tidak bisa lelap tidur, seperti biasanya.
__ADS_1
TBC.