Baby Genius Sang Pilot

Baby Genius Sang Pilot
KEMBALI PULANG


__ADS_3

Hutang?!


Mila tersadar kala sang Ayah sudah kembali, dimana aksi pertanyaan telah selesai, dimana saat ini Mila menatap Kenan, dan menanyakan kedua anak anaknya.


"Putriku, apa keadaan mu jauh lebih baik?"


"Iya ayah, apakah Mila sudah boleh pulang. Bagaimana dengan Kanya dan Bima, Mila khawatir jika ..?"


"Ayah akan membuat apartemen Kenan saat ini berpindah ke mansion ayah di Swiss juga. Bagaimana jika kalian pindah sekarang juga, biar nanti Heru menjemput kedua anak anak dan ibumu."


Saputra mendekat, mengelus kepala rambut putrinya saat ini, dimana keinginan Mila adalah sebuah ketakutan yang membuatnya tidak bisa menyetujui begitu saja.


Bagaimanapun ia sudah bersuami, jika pindah langsung dan mengiyakan. Harga diri Kenan sebagai suami serasa tidak di perlukan lagi, sebab jika statusnya suami istri tentu harus berunding.


"Mila sepertinya ingin pulang ke apartemen saja Ayah. Lagi pula, pindah itu perlu waktu. Kedua anak anak harus diberitahu. Terlebih Mila harus berkompromi dulu dengan Kenan, lagi pula Mila masih betah di apartemen Kenan yang letaknya bisa melihat sungai Are ayah. Terlihat indah dan tenang."


"Baiklah, Ayah akan siapkan Heru untuk menyewa agent untuk berjaga di rumah kamu sayang. Bagaimanapun kasus ini sudah sampai ke media dan meja hijau, Ayah pastikan semuanya di hukum dengan berat."


Deg.


Mila menatap Kenan, dimana ia berada disampingnya. Tak lama sang dokter datang mengecek keadaan Mila, dimana beberapa orang yang menjenguk tadi di minta keluar selama beberapa saat.


Keadaan Mila pun dicek secara berkala, dimana jahitan kakinya sudah semakin membaik, dan keadaan lainnya sehat secara normal.


"Jahitan ini, saya harap luka di kaki jangan terkena air selama dua hari ya bu!"


"Terimakasih dokter, lalu apa saya boleh pulang hari ini juga?"


"Saya akan bicara pada pihak keluarga bu Mila ya, tetap tidak boleh aktifitas berat. Dan di mohon untuk mengganti perban tiga kali sehari, dengan luka yang kering!"

__ADS_1


"Baik dokter, terimakasih."


Setelah dokter keluar, dan mungkin berbicara di luar sana. Nampak Mila di buat tertegun dimana ia menunggu kedatangan Kenan, dimana ia ingin pulang saat ini juga.


Dan benar saja, Kenan membawa kursi roda, lalu melipat barang barangnya, sementara semua administrasi telah di urus oleh ayah mertuanya itu. Hingga dimana Mila benar benar dibuat bahagia, atas perhatian Kenan.


"Kita akan pulang sekarang sayang, anak anak sudah tidak sabar ingin bertemu bundanya."


"Kenan, bagaimana dengan pekerjaan kamu. Maaf, karena aku! semua jadi berantakan, sebab aku dengar dari .."


"Sssst!! aku akan tetap menjadi kepala keluarga yang menafkahi kamu dan anak anak dengan membuat kalian bahagia. Tidak kekurangan sedikitpun. Dimana aku tidak akan pernah dipecat sebagai pilot."


"Kenan sayang, kamu jangan terlalu sombong. Bagaimanapun perusahaan mudah mengganti kan?"


"Tidak ada yang setampan Kenan Wijaya di baliho sayang." bisik Kenan menggoda Mila.


"Hadeuh, dasar suami narsis." gerutu sebal Mila.


"Baik Pak Saputra, kami tunggu kehadirannya saat sidang nanti!"


"Terimakasih pak, jika bukan karena bantuan pak Toms, dan Tuan Kriens, entahlah saya akan menjadi pria malang."


"Itu sudah tugas kami pak Saputra, dan karena campur tangan kuasa juga yang membantu kami memudahkan mencari keberadaan putri bapak." jelas Toms.


"Kalau begitu sampai jumpa!"


Mila yang dalam perjalanan satu mobil dengan ayah kandungnya, meski keberadaan terlihat asing saat ini. Dulu Mila amat merindukan sosok ayahnya, akan tetapi kerinduan itu entah mengapa Mila kehilangan momen kebersamaan masa kecilnya karena ia tidak sekalipun tinggal bersama.


Dan kali ini, nampak terlihat di depannya, adalah sosok Ayahnya yang mudah memerintah, tidak pernah terfikir Mila menjadi putri satu satunya dari orang yang berkuasa, dimana pria paruh baya dengan rambut memutih, nampak mempunyai banyak perusahaan dan proyek, bahkan tempat Kenan bekerja pun, ayahnya adalah tangan kanan pemilik bandara di penjuru kota dan dua negara asing.

__ADS_1


Di Rumah.


Nampak Kanya dan Bima murung, sejak bundanya tak terlihat di grand, di butik yang dinyatakan hilang. Hal itu membuat Rini sedikit kebingungan.


"Kanya sayang, Bima Sayang. Ayo makan sedikit ya, sup nya udah nenek buat, enak loh."


"Kami ga mau makan Nek, soalnya Bima ga boleh ikut kakek cari bunda." ujar Bima.


"Iya Kanya juga nek, kanya ga nafsu makan."


"Kalau gitu potongan buah aja ya, sedikit saja sayang, bunda pasti cepat kembali sebentar lagi. Kalau kalian ga makan sedikit, nanti sakit sayang."


Ting Nong.


Bel berbunyi, hal itu membuat sorot mata Kanya dan Bima berhamburan ke arah pintu.


"Itu pasti Bunda." teriak mereka bersamaan.


"Tunggu nak, jangan lari. Hati hati di tangga nanti jatuh!" teriak Rini.


Brugh.


Aaaaarrgk.


Teriakan Kanya, membuat Rini terkesiap, dimana salah satu cucunya jatuh dari anak tangga.


TBC.


Sambil tunggu Up, yuk mampir ke novel temen litersi Author.

__ADS_1



__ADS_2