
"Tunggu Mila! aku tidak pernah memaksamu untuk mencintaiku lagi, tapi satu hal. Mereka anak anakku, aku berhak membuat mereka bahagia. Aku tahu posisimu saat itu, merasa pedih karena ulah keluargaku! tolong. Jangan pisahkan aku dari Bima dan Kanya, karena aku tidak akan berhenti mengakui dan membuat mereka nyaman."
Deg.
Mila terdiam, bahkan kali ini adanya Kenan yang berkata puisi, membuat Mila tetep masuk ke dalam taksi. Ia tidak peduli dengan rasa sayangnya yang dahulu, andai Kenan tahu dirinya masih sama mencintainya hingga saat ini. Mungkin Kenan akan tinggi hati. Mila sampai saat ini, masih tidak ingin masa lalunya terulang, tanpa restu.
'Aku sudah cukup sulit sudah dibuang, tapi jika kita bersama itu akan membuat luka mendalam bagi anak anak kita. Bahkan keluargamu sangat berkuasa Kenan. Jika kita memaksa bersama, akan banyak hal derita lagi. Bahkan aku menikah denganmu, rasanya ingin sekali aku mendapat senyuman mereka, pernikahan kita tidak sah tanpa restu.' deru Mila bergumam.
Mila yang sudah sampai rumah, kali ini ia dihadapkan dengan kenyataan perih. Mila memberikan beberapa lembar uang, kepada supir taksi. Tak lama seseorang membuat Mila senyum, ke arahnya dengan tangan melambai.
"Sudah pulang! Gimana, anak anak aman. Pulang jam berapa, biar aku jemput Mil, kalau boleh?"
"Mereka setiap pulang ada bus khusus dari sekolah, yang antar Deva. Kita jadi ga usah khawatir, kita tunggu saja nanti di depan gerbang, pukul satu siang." jelas Mila.
"Ah! rindu aku sama mereka, jadi ga sabar." senyum Deva, membuat Mila ikut melirik mata gemas.
Mila meletakkan bahan bahan kue, dimana Deva ikut membantu dan menatap Mila tanpa sedetik terlewat. Anggun dan sosok mandiri Mila, tak pernah berubah di mata Deva.
Sementara kala itu, Mila telah mencuci tangan dan memakai celemek. Hal itu membuat Mila tampil kece, ketika Deva ikut memakai celemek, dan memakai sarung tangan plastik.
__ADS_1
"Wah, kalau pakai celemek seperti ini. Kamu ingat ga sih Mil, kita satu jurusan tata boga. Membuat pancake gosong?" senyum Deva, dengan lirikan Mila yang tersenyum.
"Iya, kalau aku ingat itu. Aku malu seumur hidup, tapi kamu tahu Deva. Bahkan aku bisa buat pancake durian terenak, kamu mau coba buatan aku?"
"Realy. Aku ga percaya, sebelum kamu buktikan." Deva menggoda.
Senyuman Mila terdengar renyah, di kala dapur mereka membuat bahan kue untuk dijual di toko, garasi rumahnya, ada hal yang membuat Deva kagum saat itu, yakni senyuman Mila bisa setegar ini di masa apa yang ia lewati. Deva sendiri merasa ingin memiliki dan melindungi Mila dan kedua anak anaknya, selain rasa sayangnya yang tak pernah pudar. Rasa cinta Deva, pada anak anak Mila juga sama seperti ia menyayangi Mila dari dulu.
Beberapa jam mereka berkutat di dapur, Mila mulai menata kue dengan banyaknya mika penutup kue agar rapat, bahkan toko kue Mila meski di depan rumah terbilang enak, dan murah. Hal itu tak banyak Mila kelelahan yang bahagia, karena setiap harinya selalu habis.
"Non, ada titipan dari bu Rt. Katanya pesan kue seribu pcs untuk minggu depan. Gimana, di ambil enggak ya?"
"Maaf aku potong Mil! Aku bisa bantu, kebetulan aku ada dua temanku yang mahir dalam buat kue, mau pekerjakan dia freelance."
"Serius, Deva. Kamu lagi lagi membuat aku berhutang budi. Oke! tq ya Dev. Oh ya bi, kita terima aja. Nanti setelah ini selesai, Mila hubungi bu Mawar. ( Ibu Rt )."
"Iya Non." senyum bibi Roh, membuat Mila mengangguk, masih mengaduk adonan dibantu Deva.
***
__ADS_1
Sementara Kenan, kali ini ia tak bisa ke tempat Mila. Belum lagi penerbangan pekerjaannya membuat ia tidak punya waktu. Bahkan sebentar lagi ia akan resign, dimana posisinya itu karena keluarga Shela.
Tlith!
[ Gimana, sudah dapat alamat ibu Meri, kau harus lebih cepat cari sampai dapat seminggu ini! ] lewat ponsel, Kenan memerintah.
Kenan rasanya tak sabar, menemui ibu Mila. Ia benar benar ingin berjuang melawan keadaan, menebus kehidupan Mila yang terbuang karena dirinya yang tidak bertanggung jawab. Sekaligus memberikan sebuah check, kerugian ruko usaha fotocopy ayah Mila yang kebakaran, karena ulah inggrid sang ibu.
"Mila, tunggu aku. Aku akan berjuang membuat kita bersama, sekeras batu pun aku tidak akan berubah, apalagi menyerah mendapatkan mu." lirih Kenan, lalu memakai topi pilotnya.
Layaknya seorang pilot, membuat Kenan berjalan lurus tanpa tatapan lirikan pada wanita yang kagum, melihatnya di sebrang sana.
"Kenan." teriak seorang wanita membuat Kenan, melirik dan malas kala dia datang lagi lagi ke tempat ia kerja.
"Kenan, kamu masih punya waktu kan. Aku mohon! kasih aku waktu kesempatan, ada yang ingin aku katakan padamu. Ini penting!"
"Shela, sepenting apa. Kamu bisa bicara di rumah, penerbangan sebentar lagi. Tidak ada pilot yang datang terlambat, sementara penumpang sudah berada di tempatnya." cetusnya, datar membuat Shela terdiam kesal, lagi lagi Kenan terus mengabaikannya.
'Sekeras kamu abai padaku Kenan! aku pasti akan membuat Mila, wanita yang kamu sayangi menyesal. Dia tidak boleh memiliki kamu, sampai kapanpun.' lirih Shela, yang mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.
__ADS_1
TBC.