Baby Genius Sang Pilot

Baby Genius Sang Pilot
KABAR BURUK


__ADS_3

"Mil, aku salut sama kamu bisa sekuat ini membuka usaha, setiap tanganmu membuat apapun. Pasti ramai." ujar Deva.


"Hanya beruntung saja sih, mungkin karena rejeki Bima dan Kanya. Aku bisa sampai saat ini bertahan. Yang jelas, kamu buat aku cemas. Kamu harus cerita, kenapa bisa kamu sampai di anggap te-ro-ris."


"Iya. Makasih kamu udah cemas, yang jelas karena pasport aku dicuri. Aku di tinggal rekan kerjaku, dia ambil uang semua identitas aku. Tapi aku makasih loh, kamu cemas seperti ini. Gimana kalau aku lamar kamu jadi suami dan jadi ayah dari anak anak kamu, anak anak aku juga kan."


Deg.


"Deva, jangan bercanda terus. Nanti adonan aku gosong. Aku ke depan dulu ya, antar ini ke bibi." senyum Mila saat itu juga.


Sementara Deva hanya senyum, renyah tawa pipi lesungnya, memikirkan cara yang tepat untuk membuat Mila menerima dirinya yang cinta dan serius pada Mila. Selama ini, bahkan Deva selalu tulus dan berharap, Mila mengerti perasaannya bukan karena pura pura, dan dianggap bercandaan.


Sementara Mila, yang masih menata kue ke dalam wadah, masih memikirkan ucapan Deva barusan, bahkan Mila sadar ucapan serius dan bercandaan sahabatnya itu.


Hanya saja dalam ikatan pertemanan dirinya dengan Deva. Mila mengenal keluarga Deva yang terkenal baik, namun tetap saja ibu Deva pernah bercerita, jika Deva menyukai seseorang, segera Mila memberitahu ibunya. Karena saat itu amanat ibu Deva adalah ingin mempunyai menantu yang tidak punya masa lalu kelam pada pernikahan, atau hidup sebelumnya berkelit rumit, bahkan jauh keinginan seorang ibu ingin mendapat menantu yang baik, yang bisa bersanding pada putranya.


Jadi Mila tetap selalu menganggap Deva, sebagai sahabatnya. Karena Mila, tidak ingin ibu Deva berubah, jika seorang sahabat anaknya sendiri, berubah menjadi menantu dengan membawa kedua anak yang lahir di luar nikah.


'Jika aku menerima ungkapan hatimu Dev, aku tidak yakin kita akan bersama. Masih banyak gadis di luar sana yang sudah pasti baik untukmu. Aku hanya wanita yang punya masa lalu kelam, kemanapun kamu membahagiakan aku, tapi aku mengutamakan kebahagiaan anak anakku.' batin Mila, saat itu masih mengadoni kue, di masukan ke dalam oven.


Mila sendiri kembali, mencoba menata beberapa kue, ke dalam etalase. Sehingga beberapa pembeli mulai berdatangan, akan tetapi kala pelanggan meminta dilayani oleh pria manis berlesung itu, membuat Mila senyum senyum menatap Deva yang tampak kaku.


"Wah, kemarin mas pilot. Karyawan barunya ganti lagi Mil, ibu mau pesan kue kering 5 toples, terus minta dibuatin hampers ya. Bolehkan Mil, sama si cowo manis itu." ujar bu Rita.


"Karyawan manis, oh. Dia .. ah! bu, bisa aja deh. Namanya Deva, coba ya Mila tanya, mau ga dia."


"Mau dong pastinya, tar bu wa ini di group. Biar pada beli kue kamu yang super enak, bahkan karyawan cowo nya guanteng guanteng bikin ga bosen di liat."


Mila menoleh pada Deva, yang disana pria itu sudah melingkarkan dua mata memutar, dengan ledekan simbol mata pasrah.


'Demi kamu Mil, aku akan layani ibu ibu yang beli.' bisik nya ke telinga Mila.

__ADS_1


"Hahaha, makasih ya Dev. Biar laris, habis ibu ibu kalau udah liat yang manis dan bening, seperti itulah aku yang jualnya dilupakan." tambah Mila, membuat Deva mengucap sabar.


"Duh, itu sih komplek ibu ibunya aja yang genit, kalau ketauan suaminya. Bisa habis aku Mil." menoleh Deva, membuat Mila tertawa. Saat Deva, dikerumuni ibu ibu yang berdatangan datang berkerumun membeli kue.


Namun Di Tempat Lain.


Mila kedatangan ibu paruh baya, yang membuat mata Mila celos begitu saja, menatap duduk di taman meja. Hal itu membuat Mila jauh dari pandangan Deva dan kerumunan bibi Roh, yang saat itu Mila menghampiri ibu paruh baya, agar tidak memancing keributan dan suara yang keras.


"Bu Inggrid, anda bisa sampai kemari?"


"Ini kedatangan saya kedua kalinya ya Mila. Kamu tidak mau kan, usaha keluargamu ibu hancurkan seperti dahulu."


"Maaf, mengurangi rasa hormat saya ya bu! bahkan saat ini saya tidak tahu, keberadaan keluarga saya dimana. Lalu bisa bisanya ibu mengancam lagi, jika ibu ingin putra ibu menjauhi saya. Kenapa harus menekan saya, yang saya sendiri tidak pernah mendekati Kenan."


Beranjak Mila saat itu juga, membuat Inggrid kesal dan kembali mengancam.


"Kamu akan tahu akibatnya, jika kamu sampai menemui putra saya, saya tidak segan mencelakai kedua anak anakmu."


Deg.


"Silahkan saja bu! semoga ucapan anda tidak terbalik, jika putra anda yang anda banggakan menyelamatkan pamor keluarga, kembali disakiti orang lain, bahkan mungkin orang terdekat ibu sendiri. Jadi saya harap! ibu pergi dari kediaman saya, semoga ucapan itu tidak berbalik pada anda." seringai Mila, yang sebenarnya ia tak kuat melawan orangtua, namun berusaha tegar, agar tidak ditindas.


"Baik, lihat saja kamu bermain denganku."


Mila pun menoleh, lalu me replay suara inggrid, dengan ancaman tadi padanya. Hal itu membuat Inggrid gusar dan meninggalkan kediaman Mila.


[ Ini kedatangan saya kedua kalinya ya Mila. Kamu tidak mau kan, usaha keluargamu ibu hancurkan seperti dahulu. ] pesan suara yang Mila rekam.


"Rekaman pertama, dan terakhir. Bisa jadi bukti jika anak anak saya terjadi sesuatu, bahkan bu Inggrid bisa lihat di belakang ibu, ada kamera cctv yang bisa menambah bukti." senyum Mila, membuat Inggrid pergi begitu saja.


"Dasar gadis miskin kamu Mila." ketus Inggrid pergi.

__ADS_1


Mila kembali pulang, dengan nafas yang tersenggal senggal dan ketakutan. Sebenarnya, rasa sakit Mila dan ketakutannya hampir sama, tapi ia berusaha sekali membuat semua baik baik saja, dan terlihat rumahnya sudah kosong pembeli.


"Mil, kamu dari mana saja?" tanya Deva, yang menunjukan mesin kasirnya banyak rupiah.


"Oh so sweet. Makasih ya Dev, bisa sering sering kamu datang ke rumah aku."


"Duh, kamu ini. Eh, lihat itu bus anak anak ya Mil?"


Mila pun tertuju pada pintu bus, yang dimana ada seorang penjaga hormat, lalu Kanya dan Bima sudah berlari ke arahnya.


"Bunda ..." teriak Kanya.


"Bun ..." teriak Bima, yang tidak berlari, melainkan jalan dengan memasukan tangannya ke saku celana, slay santai menuju arah ibunya.


"Duh, anak anak bunda. Kalian pasti capek! ayo masuk, kita ke dalam. Jangan lupa mandi dan ganti pakaian ya."


"Siap bunda."


Kanya dan Bima pun, tak lupa menyapa Om Deva dan tersenyum. Namun siapa sangka ketika Deva ingin pamit, seseorang menghubungi Mila dengan nomor tak di kenal dari phone booknya.


Kring. Kring.


"Kenapa Mil?"


"Nomor ga di kenal, aku ga tahu ini nomor siapa. Kali aja ini nomor penipuan." balasnya.


"Coba angkat Mil, siapa tahu pentingkan!" di anggukan Mila.


Mila menjawab panggilan itu beberapa menit, sehingga teleponnya terjatuh membuat Mila lemas. Deva yang meraih ponsel Mila dan mencoba mendengarkan apakah tersambung, begitu kaget mendengar berita yang tak ingin ia dengar juga.


'Apa, Kenan kecelakaan. Dan memberi tahu nomor ini, sebagai nomor istrinya?' lirih Deva, yang saat itu, menatap wajah Mila menggeleng tak percaya.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2