
Bisa dikatakan hidup Mila saat ini bahagia, jauh dari kata kehidupan yang sulit meski ia lewati dengan banyak dramatis. Orang orang yang telah membuat dirinya terjatuh, kini berada dalam posisi yang berbeda, mirip dalam kehidupan yang terbalik saat ini.
Dulu di saat Mila hamil diluar nikah, ingin meminta Kenan bertanggung jawab, tapi malah menyaksikan pernikahan Kenan dan Shela, jika Mila hampiri saat itu, bukan hanya harga dirinya saja yang jatuh, jadi ia pergi agar tidak banyak orang tahu, jika dia hamil di luar nikah, karena dicap sebagai wanita murahan, yang mana ia takut ada banyak orang merekam wajah Mila dan mengekspos nya di pernikahan Kenan tersebut, apalagi ia tidak mau semua itu membuat harga diri Kenan dan keluarga lain ikut menanggung malu.
"Mila, jika Ayah boleh tahu kenapa saat itu kamu tidak meminta Kenan bertanggung jawab, jika kamu hamil anaknya?" sorot tajam Saputra ke arah Kenan, dimana ia bertanya.
Memang Mila, Saputra dan Kenan tengah berbincang santai di dapur, sambil Mila membuat cookies.
"Ayah itu hanya masa lalu, jika Mila hadir dan mengacau bukankah nama ayah akan jelek, bagus jika saat itu Mila langsung pergi, jika Mila tahu Pria paruh baya yang berdiri mendampingi pengantin wanita, itu adalah ayah kandung Mila. Apa yang akan ayah lakukan jika kedua putri ayah disana, salah satunya harus di tolak setelah dia memakai baju pengantin, dan menikahi Mila yang hamil? bukankah akan membuat hal yang lebih memalukan?"
"Ah, malang nasib kamu sayang. Jika kamu maju salah, dan jika kamu mundur begitu sedih sekali penderitaan kamu."
"Itu sudah garis takdir Ayah, lagi pula saat ini Mila sudah cukup bahagia, meski momen masa kecil Mila tidak pernah merasakan hangatnya seorang Ayah. Karena .."
Kenan memeluk sang istri saat Mila menunduk jatuh air mata, dimana Saputra ikut merangkul peluk Mila dan Kenan saat itu, mirip teletubbies kurang personil. Dan disana ada Rini, yang menoleh merasakan rasa penyesalannya kala sedang mengajak makan kedua cucunya saat ini dari jarak sedikit jauh.
"Ayah janji akan membuat kebahagiaan berlipat untuk kamu Mila, juga untuk kedua cucu Ayah."
"Makasih ayah."
Hingga mereka kembali duduk, Mila membuat cookies dengan air mata bahagia, ia hapus. Dimana kondisi Mila saat ini jauh lebih baik dari sebelumnya.
"Jika Kenan berbuat ulah, main wanita, main gila mirip judi slot, atau game online dia bertaruh, jika ada ciri ciri tersebut, hubungi Ayah ya Mila!"
"Hah, ayah terlihat seperti dewa untuk melindungi anak anaknya, siap Ayah. Tapi .. Kenan, apakah kamu melakukan kegiatan seperti itu?" melirik Mila.
"Hais, itu tidak benar Mila. Papa Saputra, tolonglah jangan di ingatkan, itu tidak akan pernah terjadi sebab itu Kenan terjebak karena Kenan percaya pada adik di samping papa itu, dia itu racun yang membuat Kenan berada di sana." lirikan Kenan saat Heru datang membawa berkas hitam di tangannya.
"Hey, kenapa bawa bawa saya. Saya berada di samping tuan Saputra, tidak mungkin saya berada di sana, tidak tertarik dan tidak ada waktu." sambung Heru, kesal pada Kenan.
"Oh, jadi kalau ada waktu kau ingin ke tempat bordir dengan surga dunia itu, Heru?" tanya Saputra, yang membuat Mila dan Kenan senyum senyum, betapa takutnya wajah Heru.
__ADS_1
"Tidak tuan, saya tidak berani. Saya takut akan penyakit melarat dan penyakit diri, saya sayang dengan tubuh saya, karena diri saya hanya untuk wanita yang kelak akan jadi pendamping saya nant .." Deg, Heru terdiam kala menjelaskan, tapi Kenan, Mila dan Tuan Saputra sudah tidak ada di sana.
Ah! nasib bawahan seperti ini, salah terus!! sebal Heru, yang meratap sudah di tinggalkan.
"Heru, ayo kita makan! pesanan di meja sudah banyak. Tamu Ayah sudah datang, lekas kemari. Jangan kerja terus!" teriak Mila, membuat Heru senyum menghampiri.
***
Di Kamar.
Malam hari kemudian, dimana ibunya tidur bersama kedua anak anaknya, dimana Mila harus menahan rindu, jika ibunya pamit pulang ke ibu kota, dimana keadaan tidak seperti dulu.
Sementara Saputra dan Heru, ia menyewa apartemen persis di sebelah rumah Mila saat ini, apalagi dengan banyak agent yang berjaga di depan rumah dan belakang.
"Sayang, kamu belum tidur?"
Kenan mendekati Mila nampak memakai piyama berkerah terbuka, membuat Mila gemas menggigit bawah bibirnya.
"Belum, aku sedang melihat suami ku ini, mengapa tampan sekali memakai piyama itu ya .. Eeuh."
Dimana saat duduk bersebelahan di ranjang, Mila nampak bersandar pada pundak bidak sang suami.
"Apa kamu sedang menggodaku sayang?"
"Kenan, ada yang ingin aku tanyakan. Kenapa, ayah ku saat ini terlihat sibuk, apakah dokter gadungan itu telah tertangkap, dan bagaimana dengan Shela?" mendongak Mila saat ini, menatap wajah Kenan sangat dekat apalagi nafasnya saja terasa, sehingga membuat sesuatu bangkit di sudut lain.
"Aah. Untuk soal itu, aku tidak ingin ikut campur sayang. Dimana tuan Saputra itu sangat kejam tanpa ampun, itu sudah kesalahan Shela, pihak yang menyelidiki mendapat rekaman, dimana Shela tidak bisa lagi membatah, tindakan kriminal jika ia ingin menukar wajahnya menjadi dirimu, ah sungguh gila sayang."
"Tapi dia gila karena terlalu besar mencintaimu, dan ingin memilikimu Kenan sayang."
"Sayang, obsesi berlebihan tidak akan membuatnya bahagia, dan keinginannya tidak akan pernah puas, semakin Shela ingin menguasai, itu akan membuat hidupnya menderita. Aku beruntung, Tuhan masih melindungi kamu sayang. Cup."
__ADS_1
Kenan mengecup kilat ranum Mila, dimana adegan romantis saat saling bicara, membuat tatapan Mila penuh intens.
"Apa suamiku sedang inginkan sesuatu?"
"Sayang, aku bisa menahannya. Karena kamu belum sembuh sekali, aku bahagia dan akan menjaga tidurmu. Ayo lekas tidur!"
"Eum .. kalau begitu aku yang nakal bagaimana?" goda Mila, yang sudah membuka resleting dengan mendadak, membuat Kenan menutup mata dan membukanya.
"Auh, sayang kamu nakal."
Dan Mila pun tanpa malu malu, sudah membuat malam Kenan panjang menjadi bahagia. Di mana kenakalan sang istri, membuat Kenan ragu yang meminta jatah karena keadaan kaki yang sakit. Padahal tadinya tenang, tapi ulah Mila lah membuat hasratnya On.
"Cup! sayang terimakasih."
"Sudah semestinya sayang, bukankah ketika suami sakit, tapi junior itu tidak ikut sakit, riset mengatakan tubuh pria meriang menggigil, tapi jika sudah melepas .. boom, bukankah seperti tidak sakit?" telisik Mila menatap Kenan.
Pugh!!
Kenan menyentil kening Mila, dimana ucapan dan sikap kata kata istrinya ini benar benar nakal, meski itu realita.
"Ayo kita tidur, terimakasih sayang untuk malam ini dan malam malam seterusnya." senyum Kenan, menarik selimut dan menutup mata.
Dimana Mila kesal, karena ia tidak bisa langsung tidur.
'Ih, jika tahu kamu tidur lebih dulu aku tidak akan nakal.' gerutu Mila, yang menarik selimut terpaksa, dimana menoleh ke arah suaminya, Kenan sudah mendengkur hebat.
TBC.
Menjelang End .. Author buat karya New.
Judul nya : Derita Menantu Ke 2 & Menantu Kecil Seperti Dewa .. mampir beri dukungan dengan masuk rak yuks all.
__ADS_1
Sambil tunggu Up, yuks mampir ke novel temen litersi Author jika berkenan.