Baby Genius Sang Pilot

Baby Genius Sang Pilot
NOMOR RAHASIA


__ADS_3

Nampak gusarnya diri Shela, ia berjalan sudah terlalu lama hingga menyeret koper yang entah sudah sampai mana, dimana ia mengambil uang cash, yang letaknya di samping ruko sedikit gelap. Melupakan beberapa orang yang berdiri melirik Shela hingga berbisik.


Shela masih menangis di ruangan atm, melirik ada tiga pria berbaris ia segera mengambil uang cash lima juta rupiah, sepertinya ia ingin membeli sesuatu, bahkan sudah malam seperti ini, rutinitas Shela benar benar membosankan.


Cegrek.


Shela berjalan santai, melupakan pria yang berbaris membuntutinya, hingga langkahnya tersadar melihat Heru si kacung sang papa berdiri dengan mata tajamnya.


'Heru, kau ikuti aku?'


"Menyingkir lah Nona!"


Heru membuka pistol, dimana mengarahkan pada tiga pria dibelakang Shela, dimana ia pun syok ketika tiga pria yang antri mengikutinya.


Pria itu tanpa senyum miring, salah satunya meminta kabur tapi seolah atasannya ingin melawan Heru.


Heru mengeluarkan tanda pengenal, dimana pistol yang dianggap preman itu adalah palsu, sehingga id card segitiga primus dengan kode yang beberapa paham, nyalinya ciut.


'Anjerit, bos dia Intel Detektif, orangnya polisi. Ayo bos, kabur!" dua pria kabur, sehingga satu orang yang ingin menyerang Heru, meminta ampun dan kabur.


Shela tertawa sinis, seolah dirinya merasa Heru wajib di puji, tapi bukan Shela namanya jika ia tidak berterimakasih, benar benar tidak tahu diri.


"Karena ini di luar mansion dan tugas saya, sebaiknya anda pulang Shela!"


"Siapa kamu, kalian semua asing. Orang asing, lagi pula aku hidup, mati dan kerampokan bukan urusan kamu kan. Apalagi papaku, ah ya. Tuan Saputra pasti akan masa bodo." cetusnya.


"Bagaimanapun dia juga papa anda, meski .. Maaf! Tapi kondisi tuan Saputra jauh lebih menyakitkan. Sebaiknya anda pulang!"


Shela tetap angkuh berjalan, dimana menuju BAR, Black Sin. Shela duduk setelah menitipkan satu kopernya, dimana ia duduk di meja bartender tanpa melihat ke arah lain, jika Heru masih setia mengikuti.


Setengah jam berlalu, nampak kesedihan dan ngelantur Shela yang banyak minum, terlihat juga orang yang ingin jahil pada Shela, nampak bringsut ketika Heru datang duduk di sampingnya, apalagi memperlihatkan jaket setengah dibuka, nampak pistol dan intel khusus orang polisi dengan pangkat tinggi, membuat pikiran orang asing yang ingin mempermainkan Shela nampak menghindar, menyisakan Heru dan Shela saja di meja bartender yang panjang itu.

__ADS_1


'Ah, gila. Kau sedang apa disini. Hey kacung?' bisik Shela, berteriak pun nampak music kencang terdengar.


"Tahukan anda, ada banyak kehidupan seperti ini benar benar membosankan, ada banyak pria hidung belang yang sudah pasti akan menodai anda, jika anda terus bersikap seperti ini. Apakah anda tidak kasihan pada diri anda?"


"Hah, kacung papa, benar benar mengesalkan. Ah! Saya lupa, jika papa itu bukan papa asliku, lantas siapa ya papaku. Tuan Saputra juga tidak akan peduli, jika aku disini terluka atau terjadi sesuatu kan. Jadi pergilah anda Tuan Heru si kacung terhormat."


"Apa anda tidak ingin merubah diri anda lebih dewasa dan lebih baik, ketahuilah. Tuan Saputra tetap menganggap anda putrinya, beban berat papa anda lebih menyedihkan dari hidup anda, yang selalu bebas dan liar ke klub seperti ini. Saya akan permisi." jelasnya, membuat Shela terdiam dan berbisik menahan Heru.


"Hidupku sudah hancur, oleh pria yang telah merenggut hidupku di tempat ini. Aku berfikir jika pria itu akan menyadari, dan bertanggung jawab. Jadi jika aku sering berada disini, dan terbangun pria itu memakaiku, apalah arti sebuah kehidupan membuka lebih baik, dasarnya pria yang menikahiku tahu jika aku bukan wanita tidak baik kan, mereka menikahiku karena tuan mu Saputra orang kaya, anggota pemerintahan yang tidak terkalahkan disegani." jelasnya membuat Heru terdiam.


"Jika anda menginginkan pria seperti Kenan, maka rubah lah sikap anda tidak seperti anak anak, jadilah putri yang cerdas, banggakan papa anda nona. Bagaimanapun, ia mengasihi dan memenuhi kebahagian anda tanpa perduli, apakah putrinya hidup dengan layak. Kalau begitu saya permisi!"


Shela nampak terkejut, kala ingin mengejar Heru, akan tetapi langkahnya sudah gontai dan ambrug di tempat, mungkin Efek dirinya yang telah banyak minum.


Bragh.


Shela nampak di gotong, oleh seseorang. Sehingga rasa kasihan Heru, membuat dirinya tetap tidak tega meninggalkan Shela yang setiap hari mengunjungi BAR BLACK SIN.


Sementara Di Tempat Lain.


Nampak terlihat Mila yang berdiri menampaki jenjang kaki yang seputih susu, menghadap arah balkon menuju pemandangan sungai biru, tampak tenang tapi tidak setenang hatinya saat ini.


Sementara Kenan, nampak masuk ke kamar setelah dari kamar kedua anak anaknya disebelah, lelahnya bermain hari ini.


"Kamu sedang apa sayang?"


"Kenan, apa anak anak sudah tidur?"


Heum, baru saja aku memindahi mereka ke kamar.


Kenan kini melihat istrinya memakai piyama sutra nampak tipis sekali, melingkar pinggang Mila, nampak menciumi keningnya dan berlangsung ke bawah pipi, berlanjut jenjang leher dan membuka pundaknya berkali kali di kecup.

__ADS_1


"Apa yang kamu pikirkan sayang?" tanya Kenan.


"Nomor ini, selalu hubungi terus. Anehnya setiap aku angkat, tidak ada satu kata pun bersuara. Aneh bukan?"


"Boleh aku lihat!"


Mila memberikan ponselnya, hingga Kenan yang masih mode memeluk, menatap nomor aneh dengan tersambung sebuah aplikasi tapi tak ditemukan. Hingga dimana ia segera memencet tombol seseorang.


"Sayang, kamu mau telepon siapa. Jika ini malam maka ..?"


"Semoga Heru masih melek sayang, sebab dia itu intel. Selain tangan kanan papa, dia orang kepercayaan polisi berbintang, dimana pekerjaannya lah yang membutuhkan dan mencarinya." jelas Kenan senyum.


"Mau kamu apakan, dengan nomor itu, kalau boleh aku tahu?"


"Mengeceknya, dengan aku kirim nomor yang membuat kamu kepikiran, rasa penasaran mu akan tahu. Siapa yang diam diam hubungi kamu, tanpa suara. Apakah dia mantan istriku ini?"


"Ken, sudahlah jangan mulai. Aku tidak punya mantan banyak sepertimu?" oceh Mila, dengan penegasan.


"Benarkah?"


Nampak terkirim pesan itu, menuju Heru untuk meminta bantuan, nomor yang selalu mengusik pikiran istrinya saat ini.


Tanpa sadar kala Mila akan mengambil gelas, dirinya sudah ditarik dan dikecup seluruh ranum hingga membasah kebawah. Mila duduk di sofa, dimana Kenan sudah membuka pangkal kedua kaki yang terbuka, dan Kenan memainkannya, membuat Mila menjambak rambut Kenan saat itu juga.


Ah.


"Nikmati, aku ingin meminta jatahku sayang. Sebab, aku akan terbang beberapa jam lagi, aku bekerja esok. Kamu jangan nakal ya!" bisik Kenan, yang kala itu Mila sudah tak tahan dengan kegilaan tangan Kenan yang lihai.


"Aku tidak akan keluar villa ini tanpamu Kenan. Kamu yang harus menjaga dirimu dan hatimu!"


TBC.

__ADS_1


__ADS_2