
Mila saat ini masih merenung, sudah dua pekan ia abai pada Kenan, dimana pikirannya benar benar bercabang, mungkin karena ia letih banyak yang ia pikirkan saat ini.
Bahkan saat ini Heru membawa kendaraan, yang diminta Saputra, membuat Mila tak bisa menolak, ketika pergi kemanapun harus selalu di antar, padahal sebelum sebelumnya ia bisa sendiri, dan di temani hanya dengan si kembar.
"Heru, boleh saya minta sesuatu hal?"
"Apa itu Nyonya?"
"Panggil nama saja, tidak ada ayah juga! bisakah setelah dari rumah sakit tidak perlu menunggu, saya bisa nyetir. Ada sim A juga, tidak perlu seperti ini!"
"Baiklah, tapi tetap saja ada dua pengawal yang mengikuti langkah Nyonya Mila, dimana itu sudah keputusan Tuan Saputra."
Hah.
Benar benar menyebalkan sekali rasanya Mila, dimana ia bernego tetap saja Heru patuh sekali pada sang Ayah. Hal itu membuat Mila tak bisa berkutik, dimana mau tidak mau ia harus menurut.
Beruntungnya lagi, kedua anak anak seperti biasa, mereka akan di antar kesekolah, dimana ada dua bodyguard yang menyetir, mengantar dan mengawasi keamanan kedua anak anaknya, dimana ada dua pengasuh yang mengurusi dan menunggu Kanya dan Bima hingga pulang sekolah, semata pengawasan ini berlebihan bagi Mila yang terbiasa mandiri kini harus di awasi dan di ikuti.
'Rasanya aku tidak punya privasi, apa anak anak akan nyaman dengan perlakuan seperti ini?' benak Mila, yang saat itu telah di rumah sakit.
Dan dalam beberapa jam kemudian, tetap saja ia menatap bibi Roh dan suaminya satu ruangan di Icu, masih dalam keadaan koma. Hal itu membuat Mila memohon agar bibi Roh bisa melewati dari kritisnya.
"Bi, cepat siuman. Mila butuh bibi dan pak Supra, maaf jika Mila meninggalkan bibi terlalu lama." isak tangis Mila, dengan pakaian khusus medis lengkap dengan penutup kepala dan masker biru.
"Besok Mila akan jenguk lagi, kita cerita cerita seru lagi, bukankah bibi anggap Mila anak, maka dari itu bangunlah bibi! putri bibi ada disini, sampai kapanpun Mila akan jadi putri kesayangan bibi bukan?"
__ADS_1
"Kalau begitu sampai besok, Mila akan hadir dengan Kanya dan Bima juga ya." lirih Mila, yang setelah itu mengecup tangan bibi Roh, dan keluar dari ruangan, dimana jam besuk sudah hampir habis.
Setelah di rasa Mila telah lelah, jam waktu pulang sekolah anak anak, ia ingin lebih dulu sampai di rumah menyambut mereka. Maka Mila segera pulang, namun notif pesan dari sang Ayah, membuat Mila terdiam pasi.
[ Sayang, Ayah bawa anak anak ke istanbul. Mereka dua hari ini ada tour dari sekolah, biarkan Ayah yang temani, tenang semua perlengkapan sudah di amankan oleh pengasuh anak anak, ada penjaga Ayah yang ikut serta, jadi tenanglah merawat sang bibi, jika ada perkembangan kabari Ayah. ] pesan itu tampil membuat Mila kesal.
"Astaga, aku ibunya. Kenapa ayah jadi over mencuri anak anak sih." kesal Mila, ia berbicara entah pada siapa.
Penatnya Mila menuju mobil dengan wajah murung ia duduk, membuat ia menyandarkan diri, sehingga nampak sekali lelah dan melenyap sebentar, namun saat ia menoleh arah jalan dan lampu merah, Mila bertanya pada Heru saat itu.
"Kita kok belok, Heru kita akan pulangkan?"
"Iya nyonya, tapi ada seseorang dan ini perintah, saya akan turunkan anda ditempat aman. Maaf, setelah ini saya tidak akan mengekor kegiatan nyonya Mila. Sebab saya harus menyusul ke istanbul."
"Hah, maksudnya apa Heru, coba katakan jangan bikin saya tambah penat."
Mila lagi lagi menarik nafas, hingga dimana ia membola ketika sampai di Ritz.
"Kamu bawa saya kesini?"
Heru pun tanpa aba aba, ia segera membuka pintu untuk Mila. Dimana ia meminta maaf jika telah lancang, namun tas Mila di ambil lembut, dan dibuka lalu diserahkan saja hanya identitas saja, sebab ini adalah perintah yang harus Heru lakukan. Hal itu membuat Mila membola kebingungan.
"Heru, apa semua ini?"
"Saya hanya mendapat perintah Nyonya Mila, tolong jangan persulit keadaan kami yang hanya pekerja. The Duke Suite .. nomor 11989 nyonya Mila hanya bicara nomor yang dituju saja, sekali lagi saya pamit!"
__ADS_1
The Duke Suite .. apa itu pesanan kamar, tapi untuk siapa?!
Heru langsung masuk ke dalam mobil, membuat Mila yang mematung sadar. Hingga berteriak teriak, kala Heru membawa tas dan isinya, hanya ktp lah yang tersedia saat ini di tangannya.
"Tunggu tas saya .. " teriak Mila yang seperti terhipnotis.
Sssieeettt !
Kesal Mila, hingga saat ia ingin melangkah, benar saja sudah ada pelayan hotel itu yang menyambut, membuat tatapan Mila yang terlah berjalan puluhan menit dibuat kaget.
"Kenan .. kamu .. disini ?"
Mila ingin pergi menjauh dan berbelok arah, namun Kenan lari menahan langkah Mila dan merengkuh pinggangnya, sementara Mila menoleh posisi Kenan sudah tepat dibelakangnya menahan aksi Mila dengan memeluk dan saling menatap.
"Apa kabar sayang, istriku kita makan dulu dan bicarakan empat mata. Aku tidak terbiasa dengan kamu yang mendiami aku sayang."
"Jadi ini intrik kamu?"
"Hanya solusi, dan papa Saputra mendukung."
Mila ingin berteriak namun malu, jika ia harus bertengkar di luar. Sehingga Mila mau tidak mau menuruti langkah Kenan, yang berhasil membuat ia kagum akan kejutan yang membuat matanya kembali berkedip mata.
TBC.
Semoga satu bab Lagi lolos ya all.
__ADS_1
Sambil mampir yuks All, ke novel temen litersi Author.