Baby Genius Sang Pilot

Baby Genius Sang Pilot
HAMPIR BERTEMU


__ADS_3

"Rini, saya mohon untuk beritahu. Dimana putri kita?" ujarnya, saat itu ibu paruh baya terlihat melirik ke arah sekeliling.


"Hah! sudah meninggal, kenapa? jangan lagi datang, keluarga baruku tidak segan membuat berita tidak baik, jangan lagi tanya putrimu dimana, karena dia sudah tahu jika ayah kandungnya benar benar telah meninggal."


"Rin, aku tidak segan untuk menempuh jalur hukum, hubungan keluarga kita memang sudah hancur. Tapi sekali saja, aku menemukan putriku dan kau telantarkan, maka kamu dan suami selingkuhan mu itu akan menyesal!"


Pria paruh baya itu meninggalkan area supermarket, dimana mereka tak sengaja bertemu. Rini sendiri yang sedang mengambil detergen, tangannya gemetar ketika mencoba tenang. Bahkan ia juga tidak tahu, bagaimana nasib putrinya, bahkan ia benar benar tidak bisa memeluk, dan merangkulnya.


'Maafkan ibu nak! ibu hanya tidak ingin kamu tahu kebenarannya. Maaf jika ibu acuh padamu.'


Menghapus air mata, tak lama Rahmat segera menghampiri Rini, bersama dengan Agam, yang mengagetkan.


"Bu, Agam udah selesai. Ibu yakin cuma itu aja, Ayah udah tunggu di kasir."


"Baik, ayo kita pulang nak!"


Rini merangkul tangan Agam, dimana ia terlihat pura pura tidak kenal, di sebrang arahnya lurus, terlihat Saputra dan seseorang mencoba memakai kacamata hitam, padahal ia memerhatikan gerak gerik Rini.


"Sudah kamu belinya?"


"Udah bang, ayo kita cepat pulang! setelah dari sini." senyumnya, membuat mata Rini mengalihkan senyum, tidak curiga sedikitpun pak Rahmat saat itu, hanya Agam yang sejak tadi memerhatikan ibunya.


Sementara Di Berbeda Lantai.


Kenan, yang setelah diantar Mila, ke klinik. Ia dinyatakan sehat dan baik baik saja, setelah beberapa hari istirahat di rumahnya.


"Ken, sebaiknya nanti kamu pulang. Aku tidak enak tatapan tetangga nanti, jika bukan karena bibi Dan Pak Supra yang notabane satpam di perumahan itu, bagaimanapun kamu harus pulang!"


"Bahkan aku tidak yakin pulang, sebab rumah yang mama ku tinggali itu milik pak Saputra. Aku sedang minta bantuan Heru, mencari kontrakan di dekat rumahmu. Maaf ya! jika aku merepotkan kamu Mila."


"Ah, rumit sekali hidupmu Ken, lalu dimana ibumu?"


"Ibuku ..Hah. Sedang Ke Paris, aku bahkan sudah hubungi mama, tapi dia tidak mau pulang, karena dia ikut tante."


"Kamu yakin, setidaknya aku harap. Kamu hubungi mama kamu Ken."


Mila mendorong kursi roda, dimana ia jalan berdua, entah kenapa matanya tertuju pada supermarket.


Padahal Kenan sendiri kebingungan, entah kenapa, Mila seolah khawatir pada ibunya. Hal itu membuat Kenan, yang di dorong di kursi roda, meminta Mila tidak perlu mendorong, sejujurnya kursi roda Kenan pun elektrik bisa berjalan dengan tombol, Kenan pun bisa berjalan, hanya saja dengan perjalanan jarak jauh, ia tidak boleh terlalu lelah dan jalan dengan cepat.


"Kamu mau ke sana?"

__ADS_1


"Iya, aku beli sesuatu. Susu si kembar habis, kamu tunggu di mobil aja gimana?"


"Aku taruh roda aja dulu, Mil."


"Ken, dokter minta kamu enggak boleh capek. Aku ga mau, kondisi kesehatan kamu belum baik benar benar. Jadi ..."


Kenan tetap tidak mendengar ucapan Mila, ia tidak mau mengantar Mila, dengan rodanya. Kenan setelah menaruh kursi roda, segera mungkin ia senyum berdiri, bagai bukan orang sakit. Mila masih khawatir, sejatinya Heru bicara padanya lewat telepon, untuk menjaga Kenan, karena perawatannya terhenti.


"Aku benar benar baik, jadi izinkan aku mengawal kamu Mil. Karena tadi di klinik, kamu yang mengawal aku."


Mila akhirnya mau tidak mau menuruti, berjalan pelan dan hanya mencari susu dan roti kesukaan anaknya saja, bahkan melihat Kenan mengawalnya rasanya tidak mungkin jika ia berkeliling hingga ke ujung lantai.


Masuk ke dalam supermarket, Mila bahkan menaruh roti ke keranjang, dan memasukan susu dua kaleng khusus. Setelahnya Mila mengantri dan menoleh tak melihat Kenan.


"Ken, kamu dimana?" suara Mila sedikit lantang.


"Aku lihat ke sini dulu ya Mil, sebentar saja. Lucu mainannya."


"Ah, aku pikir kemana. Ya udah, lima menit jangan lama ya!"


"Siap bos cantik." senyum Kenan, menatap Mila genit.


Bruugh!


"Maaf ya dek..."


Gleuk, terdiam Mila membuat, mata Mila senang sebenarnya.


"Kak Mila, kakak disini juga?" ujar pria remaja itu.


"Adik, kamu sama siapa disini ..?" lirih Mila.


"Agam, ayo kita pergi dari sini!" teriak seseorang.


"Bu, tapi ini ... " terpatah ucapan, ketika Rahmat melotot ke arah Rini.


"Agam, kamu tidak punya saudara kandung! dia bukan siapa siapa, dan dia bukan kakak kamu yang biasa kamu kenal."


"Bu, tapi tadi kak Mila, bilang ..."


"Ayo cepat sedikit!"

__ADS_1


Mila yang setelah berdiri, entah kenapa rasa sakitnya begitu saja, ketika ibu kandungnya melewatinya begitu saja, menolak Agam untuk menyapa Mila. Bahkan Mila tak sempat mencium tangan sang ibu, ketika ayah tirinya datang tiba tiba, seolah memberi kode jarak.


Sementara Kenan, ia yang memegang dua mainan, tercengang melihat aksi Mila yang menahan tangisan. Kenan terpaksa menyentuh bahu Mila, memberikan Mila sapu tangan.


"Kalau kamu mau nangis, ayo nangislah!"


"Heumph, ayo sebaiknya kita pulang Ken."


"Aku minta maaf atas semuanya Mila, jika bukan .."


"Semua udah jadi bubur Ken, kita ga perlu bahas ini lagi. Aku yang salah, karena aku hina, karena aku begitu murahan. Aku bahkan bingung, ingin sekali mencari papa kandungku, tapi bahkan ibu, tidak pernah memberitahu makamnya. Aku hanya ingin punya keluarga utuh Ken."


"Jika aku melamarmu, apakah kamu mau berjuang denganku Mil!"


Deg.


Mila menaruh keranjang, beberapa saat membayar belanjaan, dan berlalu lebih dulu ke mobil. Sementara Kenan pun sama mengekor, keadaan Mila saat itu.


"Mil, maaf aku salah bicara. Tapi setidaknya, kedua anak anak mempunyai orangtua sungguh yang lengkap, bahkan aku rela jika aku yang cinta sendiri, dan misah kamar sekalipun. Sampai kamu benar benar mencintai aku, asalkan Bima dan Kanya bisa merasakan kehangatan kedua orangtua sesungguhnya, mereka masih terlalu dini, dan aku pastikan akan menjadi ayah yang baik." teriaknya, membuat Mila tetap abai.


Kenan tak patah arang, ia berteriak kencang, membuat Mila kaget di pertontonkan.


'Mila ... Aku .. Melamar mu ... I Love You, Mila Lestari.'


Deg.


Sorak tepuk tangan, membuat mata Mila menoleh kebelakang, dimana Kenan, setengah duduk, mengeluarkan kotak cincin.


Padahal seharian ini mereka tidak pernah ke pusat perhiasan, jadi bagaimana bisa Kenan senekat ini.


"Mil, di depan orang banyak. Aku siap meski kamu menolak beribu sekalipun, asalkan kamu tahu, aku siap ditolak seribu kalipun. Aku mencintaimu .."


Huhuhu .. sorak membuat Mila syok, apalagi ketika tepuk tangan, dan teriakan kata 'Terima.' membuat Mila, lupa kesedihan.


Benar benar Kenan, membuat hiburan unik, dimana ia tadi ingin menangis deras, karena kedua kalinya bertemu ibunya, di acuhkan.


Namun dari jarak lima meter, terlihat pria paruh baya membuka kacamatanya, melihat keramaian di pusat perbelanjaan, yang menghalangi jalannya mengikuti Rini.


"Kau cari tahu, kenapa banyak orang padat disini, ada pertunjukan apa?" titah Saputra arogan kesal.


TBC.

__ADS_1


Happy Reading All, maaf baru Up! efek masuk email susah, dari kemarin Author ga bisa buka my Entun.


__ADS_2