Baby Genius Sang Pilot

Baby Genius Sang Pilot
PENCARIAN PUTRIKU


__ADS_3

Kanya dan Bima, kali ini bermain di area villa, sekitar perbatasan bukit, ia di dampingi kedua orangtuanya. Terlihat seperti area piknik, Kenan kali ini duduk membuka kaki, dan satu kaki terangkat bagai sandaran Mila untuk menopang saat bersandar.


"Begitu lucunya, aku sampai kehabisan kata kata loh. Kala anak anak kebingungan, dari mana mereka ada." bisik nya.


"Hahaha, maka dari itu jangan lagi salah ucap Ken, mereka saat ini sudah memasuki tk B, pertanyaan dan pikirannya sudah tidak bisa di bohongi, semakin kamu berbohong anak anak akan semakin banyak bertanya."


"Baiklah bu bos." Kenan membalas.


Senyuman Mila, menatap Kenan. Entah mengapa, Mila terasa ingin muntah, tapi berhasil ia tahan. Sebenarnya sebelum ijab kabul di grebek bu Rt, Mila nampak akhir akhir sering aneh pada dirinya, bahkan sering sakit kepala.


Kenan yang peka, ia mengelus pipi Mila dan bertanya.


"Kamu ga apa apa?"


"Aku ga apa apa Ken, mungkin hanya kecapean. Boleh kah aku minta tolong padamu?"


"Boleh sayang apa itu?"


"Titip anak anak, aku ingin memejamkan mata lima belas menit saja."


"Kita ke dokter ya, anak anak .." teriak Kenan.


"Aku ga apa apa Kenan, lagi pula aku pernah memeriksanya. Efek vertigo, dan mudah lelah dengan tidur sebentar aku pasti fit lagi." memohon Mila.

__ADS_1


"Sejak kapan kamu punya vertigo, astaga! Maafkan aku yang baru tahu."


"Tidak masalah, aku pun baru tahu beberapa bulan ini saja, tapi kamu jangan khawatir. Tidak ganas, dan aku sedang tidak menyembunyikan sakit kronis darimu." senyum Mila.


Mila berkali kali mengecup tangan Kenan, memegang dagu Kenan yang menatap ke arahnya, agar Kenan sendiri nampak tenang.


Hal itu membuat Kenan nampak mengangguk, dimana kali ini setelah Mila pulas, ia gendong sang istri menuju sofa teras, dan mengajak anak anak untuk bermain di depan teras, tidak jauh jauh.


Kanya dan Bima, mengangguk. Seketika nampak Mila tertidur, maka Kenan kali ini mengajak dua buah hatinya bermain layangan. Dan beberapa puluh menit, bermain lari larian sambil mengibar tarik ulur layangan.


"Ayah dan Kanya pasti kalah, aku tahu layangan Kanya pasti putus." ledeknya.


"Enggak dong, ih ayah. Lihat kak Bima mau bikin layangan Kanya putus. Ayah ayo lawan kak Bima. Jangan kasih kendor, kak Bima kalau kalah aku akan hukum." teriaknya membuat ocehan seru, dimana mereka tidak sadar Mila yang sudah pulih, berada tepat di belakang mereka.


"Hai bunda, bunda dekat Bima aja bunda. Bunda di tim Bima ya, kita harus kalahin Ayah dan layangan adek bun." ocehnya, sambil menarik ulur.


"Ayo siapa takut, oke Kanya. Kita kalahkan Bunda dan Kak bima ya." ujar Kenan menantang.


"Iya. Ayo ayah, huuu ..." meledek Kanya pada Bima, membuat gemas Mila saja.


Seketika semua permainan di depan teras yang berbukit hijau itu, membuat aksi keseruan mereka bermain menyenangkan meski sedikit ada hambatan.


***

__ADS_1


Sementara Di Beda Tempat.


Saputra yang sedang menemui Rini, sesaat ia memohon mempertanyakan dimana keberadaan putri satu satunya. Sehingga Rini nampak murka, ketika mantan suaminya yang tidak tahu diri ini, berani menginjak ke rumahnya.


Shela yang terusik di beda mobil, nampak gusar dan ingin tahu. Kenapa sang papa sering menoleh ke rumah kayu dan rimbun, yang ia lihat saat ini. Shela sudah mengikuti sang papa dan diam diam mengamati papanya, pergi kemanapun.


'Cih, kok aku kaya kenal ibu itu ya. Tapi dimana ya? Terus mereka kenapa bertemu sih, apa sedang tawar menawar.' gerutunya membuat Shela nampak mendekat, seolah ingin tahu pembicaraan sang papa.


"Dasar pria tidak tahu diri, bukankah kamu sudah punya putri dari selingkuhanmu. Jadi enyah lah dari kediamanku, putrimu sudah mati sejak usia dua tahun. Jadi kau tidak berhak ke rumah ini lagi!"


Bragh.


Benar memang perkataan Rini kali ini, tapi sungguh di usia tuanya, Saputra ingin mencari keberadaan putri kandungnya, ia tak percaya dari Rini, jika putrinya telah meninggal dunia sejak balita.


"Kau begitu kejam Rini, aku yakin putriku masih hidup. Jika ia masih ada, akan aku tuntut dirimu." lirih Saputra, membuat Bu Rini masuk ke dalam rumah dengan rasa khawatir.


Rini masih penuh mimpi, rasanya suami lamanya yang pernah kdrt, menyianyiakan nya kini hadir dengan banyak pertanyaan dimana putrinya itu, yang harus Rini katakan dia sudah meninggal sejak balita.


'Ampuni aku ya Rabb.' batin Rini saat itu, menatap mobil Saputra pergi dari pelataran rumahnya.


TBC.


See You Next lanjutannya ya All.

__ADS_1


Maaf Author hampir lupa sama Mila dan Kenan.


__ADS_2