
"Kok bisa, Kenan sebut nomor kamu istrinya?" tanya Deva.
"Aku enggak tahu Deva, aku enggak mungkin datang! jika ibu Inggrid tahu, dia pasti ga akan kasih ampun buat aku. Aku dah berjanji buat lupain, apapun tentang dia." ujar Mila, kembali menata kue.
Deva yang melihat wajah Mila, terlihat begitu rapuh dan cemas. Menandakan Mila masih mempunyai hati pada Kenan.
"Mil, apa kamu masih cinta sama dia?" tanya Deva.
"Dev, bahkan aku sendiri tidak tahu. Dan tidak ingin berhubungan lagi dengannya."
"Ta-..."
Tak lama, bus kedua anak anak Mila tiba. Hal itu membuat, percakapan pun terhenti. Mila pun kembali memeluk setelah Kanya, dan Bima berhamburan kedalam pelukan bundanya.
"Bunda. Bima rindu banget."
"Iya bunda. Kanya juga kangen banget .. padahal kita berpisah cuma beberapa jam, tapi rasanya kaya setahun .. dua tahun .. bertahun tahun." manja Kanya.
"Realy. Oh, anak bunda yang manis. Makasih sayang, ayo kita masuk ya!"
Deva pun turun menyapa, bahkan kali ini mencoba mendekati Bima dan Kanya. Meskipun terlihat nampak oleh Mila, jika kedua anak anaknya terlihat asing tak terlalu excited jika betemu Deva.
"Bun, kok paman Kenan. Enggak datang main ke rumah ini lagi ya bun?" tanya Bima.
"Iya lho bunda, kan paman Kenan janji mau bawain mainan terbaru, boneka terbaru dari korea, kayak drakor gitu bun."
"Jadi, om Kenan janji mau bawa mainan terbaru?"
__ADS_1
"Iya bunda." serentak kedua anak itu.
"Gini ya sayang! kita enggak boleh mengharapkan kedatangan seseorang dari janjinya, sekarang waktunya Bima dan Kanya mandi, terus kita makan siang bareng. Tuh, om Deva dan bibi sam pak Supra dibelakang, udah laper. Nunggu kalian."
"Eum. Oke bunda." serentak Bima dan Kanya, ke atas tangga.
Mila sendiri sebenarnya kepikiran soal Kenan, tapi karena ada Deva. Ia tidak mau membuat hatinya kecewa, bagaimanapun hubungan dengan Kenan dan Deva sama sama terhalang restu, yang membuat Mila enggan mengulang kesedihan, apalagi menjalin kasih. Mila hanya fokus, bahagia dan membesarkan kedua anak anaknya saja dengan damai, itulah keinginan Mila saat ini.
Berbeda Tempat.
Shela yang menatap Kenan, di ranjang rumah sakit. Keberadaannya di ketahui oleh Inggrid, yang menyebabkan pilu mendalam.
"Shel, kok bisa Kenan kecelakaan? untung kamu cepat hubungi tante."
"Iya .. tante. Bahkan pihak rumah sakit yang hubungi Shela, huhuhu ... semoga Kenan cepat pulih, siuman. Shela ga mau sampai Kenan kenapa - kenapa tante." memasang wajah sedih dengan penuh intrik.
"Heru, kamu kenapa bisa Kenan tidak di jemput?"
"Maaf nyonya! tapi pak Kenan, memang jadwal ingin pulang sendiri. Saya sedang meeting mewakili tuan Kenan, yang tidak ingin hadir dalam rapat dewan direksi." jelasnya. Membuat inggrid gusar.
"Ibu, ibu wali pasien? silahkan ke ruang saya sebentar! saya akan menjelaskan perihal luka dalam pak Kenan!"
Beberapa saat, dokter memberikan rekaman medis padanya, Inggrid melihat jelas jika retak di kepala, dan seorang Kenan kali ini mengalami gegar otak ringan, yang menyebabkan memorinya hilang sebagian. Dan hal itu memicu keributan, jika Inggrid ingin membayar berapapun biaya, asalkan anaknya sehat pulih kembali. Bahkan kaki dan lengan yang retak, segera bisa kembali berjalan.
'Mana bisa dibiarkan, jika putraku cacat nanti, kelak bagaimana ia bisa memegang perusahaan. Bagaimana media nanti, jika tahu Kenan akan cacat dan bahkan otak geniusnya mencari pundi, akan hilang begitu saja.' batin Inggrid, ia berlalu kembali ke ruangan Kenan di rawat.
Bahkan inggrid, kali ini ke ruang administrasi. Ia pun berpapasan dengan pria paruh baya, yakni ia adalah Tuan Saputra, ia melihat tajam dan membuat Inggrid beringsut kali ini juga.
__ADS_1
"Nyonya Inggrid, kau tahu sudah mendebit setengah miliar, dalam satu hari, apakah kau bisa mengembalikan kekurangannya?"
"Pak Putra, saya mohon! putra saya Kenan, sedang sakit kecelakaan. Saya hanya meminta waktu, sampai Kenan sembuh. Dia pasti akan membuat bisnis kembali naik pesat. Saya mohon!"
"Dalam satu minggu, saya tidak ingin dengar permohonan waktu. Hari masih bergulir waktu, semakin hari gaji karyawan dan keuntungan bahkan minim, sebelum saya pegang, lebih buruk saat perusahaan di pegang Kenan. Dan total anda mendebit dengan kartu sebesar dua setengah miliar, apa anda sadar Nyonya?" ujarnya kejam.
Saputra, pria paruh baya itu melihat kertas yang dipegang Inggrid. Ia merampas kasar, lalu membacanya dengan teliti. Hal itu membuat Inggrid memejamkan mata, dan terlihat ketakutan.
"Kenan, dia amnesia. Bahkan anda akan kehilangan kartu black anda, tidak bisa anda gunakan lagi! Nyonya inggrid, putra anda sudah menceraikan putri saya Shela, jadi kini selama seminggu ia tidak sadar. Keluarlah anda dari rumah yang di tinggali, jangan lagi sentuh dan injak perusahaan lagi, anda tidak punya kuasa disana! sampai anda kembalikan semua uang yang anda pakai Nyonya! mulai detik ini."
Tuan Putra pun meminta bodyguard, merampas tas milik Inggrid. Mengeluarkan kartu hitam, yang saat itu masih jaminan perjanjian saling menguntungkan.
"Anda ingin apa?"
"Mengambil aset milik saya, ingat anda itu siapa Nyonya!" sindir Saputra, pergi begitu saja.
Deg.
Seketika Inggrid lemas, hal itu membuat ia ke ruangan Kenan. Dan saat itu juga, ia melihat di dalam sana, dokter memeriksa putranya.
'Mila .. Mi- la.' lirih Kenan, dengan kata kata yang terpatah, menahan rasa sakitnya.
Inggrid terdiam, kenapa dokter bilang putranya amnesia. Tapi putranya hampir siuman, menyebut gadis miskin bernama Mila.
'Bisa bisanya, gadis itu selalu hadir. Ini membuat saya gila.' batin Inggrid kesal.
TBC.
__ADS_1
Yuks jejak koment nya, supaya review tidak tertahan Up oleh sistem. Makasih untuk dukungan Mila ya All.