
Bugh.
'Auw.' rintihan rasa sakit Mila saat ini terjatuh, entah mengapa Shela kini ada di depannya.
"Shela, apa maksud kamu?"
"Kamu itu cuma modal beranak doang kan? Kamu liat ya! Sehabis ini kamu pasti masuk penjara!"
Mila bangun, setelah mengantar pesanan kue untuk tetangga, berniat mengantar dua toples kue kering ke rumah bu Rt. Tiba saja hancur karena ulah Shela yang tiba tiba melabrak.
Beruntungnya, ia hanya sendiri dan saat ini benar benar tidak sangka, jika Shela datang melabraknya.
"Memang apa masalahmu Shela?"
"Heh, jangan berlaga Beegook ya! Kamu rampas suamiku Kenan." ketus Shela, membuat Mila beristighfar.
"Jika soal Kenan, semua itu sudah takdir. Aku bukan penghancur dan perebut suami orang!"
"Awas ya Mila, bentar lagi kamu di jemput polisi. Aku udah bikin laporan, kamu tahu kan papaku orang kuat?" tajam Shela, membentur bahu Mila dan pergi dengan ancamannya.
Hah. Helaan nafas Mila dan suara telinganya berdengung, berusaha mencoba tenang.
Mila menghela nafas, ia sungguh pasrah apa yang akan terjadi. Mila benar benar ingin cepat pulang, dimana kedua anak anaknya baik baik saja di rumah. Mila memang pagi ini pergi mengantar pesanan kue, setelah Kenan mengantar kedua anak anak Mila sekolah. Dan Kenan, tentunya tugas yang kini masih menjabat menjadi pilot, sudah berangkat dari pukul dua dini hari.
Benar saja, selepas sampai rumah. Mila terkejut sudah ada dua polisi, bahkan mobil polisi yang terlihat banyak sekali tetangga mengintip.
__ADS_1
Dengan perasaan berdebar, Mila benar benar kaku dalam melangkah, bahkan Mila benar benar takut. Ancaman Shela tadi benar, karena dia orang berduit, yang sudah pasti bisa menghalalkan segala cara, semuanya dengan uang pastinya. Apalagi Tuan Saputra orang pemerintahan, dan pengusaha kaya raya.
"Maaf ada apa ya pak, kumpul ramai ramai di rumah saya?"
"Non Mila. Bapak polisi ini cara non Mila. Non Mila ada masalah apa sih non?" tanya bibi Roh dengan gugup.
Dimana polisi meminta Mila membaca surat panggilan, dimana seluruh tetangga bergosip bisik bisik. Mila yang berdegub membacanya dan membuat permintaan agar bibi tetap tenang, dan menjaga kedua anak anaknya dengan baik.
"Bi, pak Supra. Jaga anak anak ya setelah jemput anak anak, tolong jaga sebentar! Ga usah kabari Kenan, karena dia sepekan ini harus bekerja. Mila pasti pulang, baik baik saja. Kalau anak anak tanya, Mila sedang pergi sebentar!"
"Iya non. Ya allah, nyonya saya orang baik pak. Jangan bawa nyonya Mila." tangis bibi Roh, membuat semua pecah.
"Mila hanya membuat keterangan aja bi, bibi tunggu Mila pulang. Jaga anak anak ya bi!" pinta Mila memeluk, tapi sang bibi masih histeris.
'Wah bu Rt, ngeri ngeri sedap dong kalau tetangga masuk bui. Usir aja bu Mila si tukang kue, tercemarlah wilayah kita nanti.' ujar tetangga.
'Benar tuh bu Rt, usir aja sekaranglah!' tambah seseorang membuat panas telinga bu Rt, yang mana bibi Roh semakin histeris dan memohon jangan mengusirnya, dimana ia yakin jika nona Mila bukan orang jahat, apalagi atas tuduhan kekerasan yang membuat wajah Shela memar di bagian pipi.
"Bener bu ibu, enggak mungkin juga Mila membuat kejahatan, mencelakai seseorang. Atas dasar menyukai pak Kenan, mencelakai Shela dan menyingkirkan. Baiknya bu ibu bubar ya! Biar saya pantau benar atau tidaknya." ujar Bu Rt, dimana ia pamit ingin menyusul Mila, setelah membubarkan warga sekitar.
Hingga dimana langkah sang bibi yang lemas, dan bu Rt yang ingin menuju kantor polisi melihat Mila. Di kejutkan seseorang, yang membuat mata terkejut dan membola menatapnya.
***
Hingga di kantor polisi, Mila sungguh bingung atas penamparan Shela waktu di rumah sakit, ia membuatkan visum, dimana ia menyatakan Mila mencelakainya karena ketahuan mengambil suaminya Kenan, hingga polisi disana membentak Mila dengan keras.
__ADS_1
"Tolong kerjasamanya ya bu! Apakah anda benar benar mengelak, menamparnya atau tidak?" keras anggota mengintrogasi Mila dengan sarkas.
Sudah selama tiga puluh menit membuat Mila benar benar tidak mengakui, karena prinsipnya cerita Shela benar benar bukan seperti aslinya.
"Saya kan sudah bilang pak! Cerita aslinya bukan begitu, beri saya bukti yang benar. Dia itu berbohong, saya menamparnya karena kata katanya kejam, cerita aslinya tidak benar jika saya ingin mencelakai saudari Shela pak, apalagi saya merebut suaminya." jelas Mila.
"Tapi nyatanya kamu itu menampar saudari Shela, dan menikah dengan suaminya kan?" lantang anggota polisi saat itu.
Mila diam, benar benar pasrah mencoba berdoa dalam hatinya, untuk diberi kekuatan. Hati dan pikiran Mila adalah kedua anak anaknya.
Braagh.
Mila di buat syok, benar benar ia pasrah dimana ini pertamakalinya ia tidak bisa membela diri, saat anggota itu menggebrak meja untuk Mila mengakui.
Tok tok.
"Hormat, lapor pak komandan. Ada saksi dan pengacara untuk saudari bu Mila." ujar seseorang anggota lain.
Dimana saat itu Mila yang menunduk di ujung meja, dengan seorang pria yang mengetik laporan Mila, dibuat diam menatap arah lain.
TBC.
Tunggu up lanjutan ya all, makasih udah dukung Mila.
Jujur aplikasi nulis id author delay bermasalah, setiap ngetik keluar aplikasi terus. Semoga sistem cepat atasi dan pulih.
__ADS_1