
"Tidak benar, sepertinya salah. Pria di foto ini, sudah beberapa kali, supirnya datang membeli kue di toko."
"Benar Roh, bukannya dia bos nya pak Kenan, eh mantan mertua."
"Sepertinya bidan Nur, salah. Bisa saja kan, bapak ini punya anak perempuan lain lagi, jadi kita selidiki dulu ya pak."
Perjalanan menuju pulang, membuat Roh dan Supra bingung. Penantian anak mereka yang telah di rawat orang lain, karena Ketidakberdayaan ekonomi mereka, membuat mereka mencari pekerjaan, dan menunggu selama sebulan untuk menebus, siapa sangka mereka terlambat.
"Harusnya dulu kita bilang sama bu Rini, kalau kita kerja karena meninggalkan anak kita di bidan."
"Semua sudah berlalu, tidak ada yang ingin hidup kemiskinan, setidaknya kita tidak mengemis dan mencari simpati pada orang, karena kesulitan kita. Kita sudah bekerja dengan benar, menebus dan kembali. Hanya saja dinas sosial patut disalahkan, tidak menunggu kita kembali."
Roh dan Supra, juga kehilangan jejak ketika petugas dinas menyabotase, jika ia adalah keluarga si bayi, dan memperbolehkan bayi yang mereka beri nama Shasa, saat itu dititipkan, memberi keterangan palsu.
Sehingga bayi mereka di adopsi tanpa izin bibi Roh dan pak Supra, layaknya sebagai orangtua kandung.
Perasaan campur aduk, dalam puluhan jam. Mereka menepi di rumah besar, nampak petugas satpam berjaga sekitar lima orang. Hingga dimana, terdapat sebuah mobil pink, melaju ingin masuk ketika gerbang itu terbuka lebar. Bibi Roh dan pak Supra senantiasa melihat dari sebrang rumah, memarkir dan membuka jendela.
"Malam non Shela, non. Shela sudah di tunggu bapak!" ujar satpam.
"Udah tahu gue, ga usah caper deh lo." ketus Shela, dengan pakaian mini berwarna maroon, ia masuk.
Tak begitu lama, terlihat salah satu security pos berkeliling, menyapa pak Supra yang memerhatikan rumah besar.
"Malam pak, sedang apa disini?"
"Eh, maaf pak. Kami bukan orang jahat, hanya saja sedang mencari keberadaan keluarga kami. Kalau boleh tahu, apa benar itu adalah rumah pak Saputra?"
"Benar, memang anda siapa. Cari siapa?"
"Begini pak, saya cari putri saya. Namanya Shasa, apa ada gadis yang tinggal di sana."
Satpam terdiam beberapa menit, lalu mengatakan jika di dalam tidak ada nama itu, bahkan ada anak satu satunya di dalam sana.
"Enggak ada deh, ada juga anak ang-kat. Ssst, tapi diam diam aja ya, enggak banyak yang tahu juga sih. Namanya non Shela, tapi duh sombong." jelasnya, membuat tatapan bibi Roh terdiam kaku.
'Benarkah dia putri ku?' batin Roh.
Deg.
"Baiklah, makasih ya pak." pamit mereka.
***
Di Berbeda Tempat.
__ADS_1
Sementara Mila, dalam belasan jam, mereka transit dan karena delay penerbangan terkahir, membuat Kanya dan Bima nampak lelah, tapi raut wajahnya happy.
Kenan kala itu terlihat menelepon, mungkin petinggi bandara, atau sekelas Ceo, menghubungi keberadaan Kenan kali ini.
"Terimakasih pak, atas pengertiannya."
Kenan menutup telepon, hingga dimana ia senyum pada Mila dan meraih tangan Mila, kala istrinya duduk, sementara Bima memeluk duduk disebelah kanan, tertidur, sementara Kanya berbaring dipangkuan bundanya.
"Kamu ada masalah ya?"
"Eum, bukan masalah berat. Kamu enggak perlu khawatir Mila sayang."
"Ken, ayolah! Jangan ada yang sembunyikan dari aku. Please."
"Hm .. Ceo, pak Carlo, memberi selamat. Dia tahu kalau aku baru menikah, jadi setelah kita sampai Swiss, aku diberi cuti dua hari, katanya bonus kado pernikahan, untuk hone.. Untuk kita berliburan." ujarnya, yang hampir keceplosan bicara Honeymoon.
"Syukurlah, kamu pasti lelah Ken."
"Lelah, tapi ada kamu dan anak anak. Aku gak akan kelelahan." senyuman Kenan, mengelus pipi Mila.
Di Suatu Tempat.
Sebuah koper telah sampai, dimana kedua anak anak Mila, berhamburan antusias bahagia.
"Bima, Kanya. Hati hati nak!"
Berdiri anggun di tengah Swiss, Vila Wilen adalah penginapan strategis dengan kemudahan akses ke semua pemandangan Swiss, tanpa harus menghabiskan waktu di jalan. Pemandangan keren pegunungan dan danau terlihat dari vila yang memiliki arsitektur spektakuler ini. Mila sungguh di buat takjub, ketika Kenan memberikan kejutan yang bukan hanya untuk kedua anak anaknya.
"Ken, serius kamu tinggal di sini?"
"Eum, aset kantor. Selagi aku masih menjadi pilot, apa kamu mau kita menetap disini. Biar aku lebih giat membelinya."
"Kenan, kamu berlebihan. Terlalu jauh, tapi lihat saja danau Bern terlihat indah."
Kedua anak anak Mila antusias, kala jamuan pelayan membawakan makanan khusus. Dimana memang stok selama satu minggu, dan yang dibutuhkan akan tercukupi untuk Mila dan kedua anak anaknya, ketika Kenan betugas kerja. Maka rasanya jika bekerja ditemani, setidaknya Kenan akan bertemu keluarganya hanya hitungan belasan jam, setidaknya dua hari sekali mereka bertemu.
Terlihat kedua anak anak bermain, ngemil dengan berlari lari mengitari meja makan, nampak raut bahagia terpancar. Kini Kenan saling berpandangan, membalikan badan Mila, dimana Kenan memeluk erat memandangi Danau Bern.
"Danau nya indah, tapi jangan sekali kali berenang. Aku tahu, kamu tidak pandai berenang, jadi cukup dipandangi saja ya!"
"Heum. Kamu masih saja ingat, kalau aku tidak bisa berenang."
Antusias, Kenan yang hangat memeluk Mila, saling memandang dan hanyut, dimana Kenan amat erat, menyusuri jenjang leher Mila, mengeratkan remasan pelukan itu.
"Ayah .."
__ADS_1
"Bunda .." teriakan kedua anak anaknya, yang terdengar, membuat hasrat Kenan padam.
Mila pun melepas pegangan erat Kenan, membalikan badan dan salah tingkah berjongkok.
"Hai, sayang. Ada apa?"
"Ayah, Bunda. Ayo kita naik!"
"Oh, maafkan ayah sayang. Ayo kita naik, bersama bunda. Kita lihat kamar kalian ya." di anggukan Bima dan Kanya.
Kenan nampak melirik, dimana wajah Mila semu pink merona. Menghilangkan gugupnya, meraih tangan Kanya untuk lebih dulu masuk.
"Selamat datang pak Kenan." sambutan pelayan, setelah itu memberikan kunci dan pamit.
Beberapa jam kemudian, Kanya dan Bima mandi air hangat, makan, menonton acara spesial tayangan anak anak.
Mila yang merapihkan pakaian, terlihat di kamar kedua, Kanya dan Bima dibacakan dongeng, hingga terlihat mengantuk.
'Terimakasih sudah buat anak anak bahagia Ken.' batin Mila, memandang.
Mila pun bergegas, membuka kamar utama, dimana ia ingin memberi kejutan. Tentunya momen dirinya melepas, dimana dirinya adalah istri dari Kenan, kekasih yang selalu ada dihatinya, yang kini telah bersatu.
Tap..
Tap..
Langkah pintu kamar utama terbuka, suara langkah kaki dan tangan menutup kunci, setelah pandangannya tertuju pada lilin menyala dan bunga merah, Kenan dibuat terkejut akan pemandangan di kamarnya ini.
Seorang wanita, memakai lingerie maroon menyala, membuat Kenan, bertambah On.
Kenan meraih tangan lentik itu, menyusupi dari ujung jari tangan, hingga ke jenjang leher yang terlihat indah.
"Mila, kamu membuat semua ini. Apa kamu siap?"
"Aku tidak tahu bagaimana aku harus berterimakasih padamu Kenan, tapi setidaknya aku istri sah mu, kamu berhak atas diriku, dan sebaliknya."
Kenan membalikan tubuh Mila, sehingga mereka saling memandang, dimana mengangkat dagu Mila, dengan kecupan kering hingga banjir.
Dimana Kenan satu persatu tiap inci menjajahi Mila, seolah tidak pernah ingin terlewatkan, terlebih suatu pemanasan membuat Mila berdesir hebat, dan perlahan Kenan semakin buas dan dalam, membuat Mila menutup suara, agar kamar sebelahnya tidak terusik.
Ah.
"Cup! Terimakasih sayang."
Dengan nafas yang berat, tak beraturan. Mila menatap Kenan, membalasnya dalam pelukan hangat, saling berbisik dan berbicara setelah mereka melakukan ritual panas.
__ADS_1
TBC.
Udah unboxing kedua ya All. Hahahaha, semoga lolos review nya malam, bacanya juga malam, Hiks!