
Beberapa hari kemudian.
Mila tak pernah membayangkan, di saat hari yang sama. Dokter mengatakan jika pasien kini dalam keadaan tidak baik, meski peralatan canggih sekalipun, kenyataannya pun sama.
"Jadi, bibi saya dan suaminya bagaimana dok ..?"
"Kami mohon maaf bu Mila, kami sudah melakukan yang terbaik. Kami turut berduka. Kami sudah melakukan sebaik mungkin, namun semesta ..." terdiam.
Deg.
Ada rasa lemas di kaki Mila, berdiri tak punya tenaga. Beringsut begitu saja, membuat Kenan meraih tubuh istrinya untuk sabar, setengah memeluk bahu, dengan derai air mata tak tertahankan. Dimana orang yang merawat seperti sang ibu, suka maupun duka harus pergi begitu saja.
"Kenapa harus mereka?"
"Bukan salahmu sayang! ini sudah takdir. Hanya saja kamu harus lebih kuat dan tabah, dimana mereka pergi tanpa satu kata."
"Rasanya aku lemah Ken, kenapa keluarga yang aku miliki harus pergi."
__ADS_1
"Ini adalah gambaran setiap mahluk semesta akan kembali padanya, bahkan kamu juga kelak akan kehilangan papa, ibu, pasangan dan anak anak dengan cara sendiri." ujar Saputra, yang menatap Mila berpangku pada Kenan, dari mana rasanya tak percaya sang Ayah dari dubai langsung ke rumah sakit.
Sehingga saat ini, Mila menatap Kenan, dan kedua anak anak yang berada di sisi ujung di pegang erat erat oleh Heru, dimana Mila tahu dan sadar, tidak boleh menangis sepanjang waktu, karena akan memberatkan yang telah tiada. Hanya kenangan, membasahi di pipi Mila saat ini ketika satu persatu akan pergi.
'Benar ada waktu aku harus mandiri, bibi pernah bilang kelak kebahagian datang pada non Mila, bibi akan pergi untuk urusan privasi. Yang mana aku tidak tahu jika bibi akan pergi untuk selamanya, sungguh waktu yang singkat membuat ku ingin sekali memutar waktu, andai aku menahan bibi untuk tetap ikut, jika kehilangan harta di rumah aku tidak masalah, tapi jika bibi saat itu ikut ke swiss mungkin ia masih ada.' batin Mila, penuh penyesalan.
Beberapa orang dari Saputra, meminta untuk mengurus pasien yang tiada, untuk di makamkan. Almarhum sang bibi dan suaminya, dimakamkan di tpu jeruk purut dimana itu adalah kampung halaman mereka, yang sempat Mila tahu dan amanat sang bibi semasa hidup, yang ingin dimakamkan di tanah kelahirannya.
Bukan tanpa alasan juga, dimana Mila saat ini merasa tak kuasa, menuju perjalanan mengiringi ambulance tak henti hentinya ia beristighfar.
"Sayang, aku titip anak anak di mobil ibumu, mereka ada di mobil ke empat."
"Iya, dengan suaminya dan pria remaja."
"Itu Agam. Dia adik tiri, anak kandung ayah Rahmat Dave Aliansyah."
Ah, rasanya mustahil tapi Mila benar benar tak bisa memikirkan hal lain, dimana ia mengecek ponsel dan video call pada ibunya. Benar saja, anak anak disana senyum meski ada merah sembab dimata kedua si kembar, wajah karena mereka juga kehilangan. Dimana sejak kecil, mereka tidak pernah lupa sikap perlakuan penyayang bibi Roh dan pak Supra.
__ADS_1
"Bunda .."
"Sayang, jangan nakal sama nenek dan kakek ya, apalagi sama uncle!" Mila mengelus pipi kedua anak anaknya, yang ikut ibu Rini.
"Oke bunda, kami akan nurut kok." teriaknya serentak.
Setelah itu, Mila pun bertanya pada Kenan kala itu juga.
"Lalu bagaimana dengan Shela, jasadnya..?"
"Dia akan tiba empat sampai lima hari lagi, Ayah Saputra bilang ia memesan makam tepat disebelah bibi, meski keadaan kelak tidak utuh jasadnya sebab, dokter memberikan pengawet agar tidak terlalu menyengat ke penciuman, akan tetapi.." terdiam Kenan.
"Aku berharap bibi bertemu anaknya, dan tuhan mengampuni sikap Shela."
"Amiin." balas Kenan, kembali menyandarkan kepala Mila pada bahunya, dimana mereka masih menuju perjalanan untuk ke makam.
Mila merasa ini adalah sebuah gambaran kehidupan, yang mana takdir tidak dapat di ubah, namun nasib sebisa mungkin bisa ia ubah, hanya bisa bersabar menjadi orang baik ketika disakiti, adalah hal Mila saat ini, yang mana semesta akan adil membalas apa yang ia terima.
__ADS_1
'Terimakasih kebaikan bibi, Mila janji akan terus mendoakan bibi dan pak Supra, dan akan sering datang, bahkan tempat peristirahatan bibi akan Mila urus.' ujarnya menatap dua nissan, setelah perjalanan jauh.
TBC.