Baby Genius Sang Pilot

Baby Genius Sang Pilot
SAH MENURUT KALIAN


__ADS_3

Melihat si kembar tersenyum, ada hal yang amat membuat kedua anak itu bahagia, akhirnya mereka punya orangtua lengkap.


'Dik, misi kita berhasil. Kamu tahu, nanti pentas disekolah, kita bisa pamerkan ayah kita.' bisik Bima.


'Benal kak Bima, ayah kita tampan. Bunda kita tantiik, uhuuuy .. Kanya seneng banget. Nanti ga ada yang bisa ledekin kita enggak punya ayah. Anak tanpa ayah .. Anak tanpa Ayah .." bernada suara Kanya, seolah memperagakan teman yang membully.


'Tapi anak tanpa ayah .. itu seperti apa sih kak? Kanya bingung deh, sama kata kata Cecil.' bisik Kanya di ruang dapur.


"Dik, ga usah pikirin itu. Yang jelas kita punya ayah! Kalau pun di bilang boong kita punya hasil tanda rambut kita yang sama kan."


Tos! Kanya dan Bima sepakat saling diskusi ide.


'Tapi kak, kok om Rey belum dateng ya?' bisik Kanya, entah ide apalagi mereka seperti sedang memikirkan cara, terlihat kedua matanya menelisik ke atas dan seisi ruangan.


Bibi roh, yang niatnya mengambil kerudung putih, melewati dapur. Sungguh nyes! Kala sikap kedua anak anak kembar Mila, bisa bersikap dan punya ide layaknya anak dewasa.


"Den Bima, Non Kanya .." lirihnya.


"Ehehehe bibi, bibi udah lama di sini ya?" senyum berlesung manis, Bima.


"Ya allah den, kalau ada yang bully. Kasih tahu bibi ya, apa kalian sembunyi ini semua dari bunda, kalau ada temen temen yang bilang kalian itu anak anak tanpa ayah, bukan berarti kamu anak tidak baik sayang, semua itu enggak benar." peluk bibi Roh.


"Kita anak genius bi, enggak mau bikin bunda tambah pikiran. Jadi Bima dan Kanya pasti bisa atasi dengan keren. Minggu depan, ada pentas. Bima bakal bikin temen temen disekolah kaget, kalau ayah Bima keren, tampan, terkenal. Hehehe." jelas tawa polos bocah itu, andai Mila tahu mungkin anak anaknya sudah di pindahkan sekolah.


"Ya udah ikut bibi yuk!"


Beberapa saat, bibi Roh telah kembali dari kamar yang dimintai bu Rt, mengambilkan selendang putih.


"Tunggu, bisa tunggu saya sebentar. Saya ingin ijab ini memakai kebaya, meski benar benar bukan di inginkan. Kalian semua salah paham, hingga memaksa kami menikah."


"Maaf ya Mila, ini demi kepentingan kebaikan bersama. Kami sebagai pengurus Rt, enggak mau tercemar dengan alasan salah paham."


Mila meminta waktu ke kamar, ia membersihkan diri dan berwudhu.


Mila bahkan berdoa sebelum di mulai, dan semoga setelah kedepannya tidak ada lagi masalah berat, apa jadinya menikah karena digrebek ulah sang anak, bahkan anaknya belum lima tahun.


Mila membuka lemari, berisi satu kebaya terbungkus plastik rapih, ia hanya memakai serum dan tipis bedak serta lipbalm agar terlihat fresh. Lalu turun, di bantu bibi Roh.

__ADS_1


"Non, yang kuat ya! Maaf jika bibi lalai, maaf jika bibi tidak bisa menjaga lebih ketat, tingkah anak anak."


"Bukan salah bibi, memang anak anak terlalu pintar, Mila bahkan melewati perkembangannya meski sedetik. Dan ini sudah takdir, sejauh Mila menghindari Kenan. Dia tetaplah ayah anak anak, dan Tuhan terus saja membawa Mila padanya." lirihnya seolah berusaha bijak.


Kenan yang di sofa dengan gugup, bukan ini caranya menikahi Mila. Sungguh impian pria mana, yang menikahi pujaan hatinya dengan cara paksa, dengan cara dirinya yang lemah di rawat di rumah Mila, jadi anggapan tidak baik dan mencemarkan nama Mila saat ini. Ada rasa bersalah bagi Kenan, sedih karena bukan cara seperti ini ia ingin menikahi Mila.


"Pak penghulu, bukankah tidak sah. Jika saya menikah tanpa keluarga saya hadir, wali nikah saya pun tak ada. Apalagi Kenan?" tanya Mila.


"Benar juga .. " anggukan beberapa saling menatap, seolah Mila yakin bisa di tunda pernikahan ijab kabul dadakan.


Bunda ... Om Rey datang!!


Deg.


Kenan bahkan syok, sesaat ia pernah melihat pria itu pernah bersiteru dengannya, ketika di kantor masih menjabat dan berkuasa.


Rey .. ??


"Dia pria yang kamu di kantorku kan, Mila?" tanya Kenan.


"Saya jadi saksi, untuk saudari Mila. Bahkan saya kerabat dekat keluarga Mila, dan bagian keluarga Mila. Pak penghulu bolehkan?"


"Bo-boleh." lirihnya seolah duduk Rey, dan akan siap menjabat.


"Ya uda kita mulai aja." ucap bu Rt yang seantusias itu, begitu tidak sabaran karena melihat pria di samping Mila terlihat cocok dan serasi.


Dredth!


"Tunggu pak, kebetulan rekan bos papa saya sedang menuju ke arah sini, bagaimana jika ikut hadir. Apa boleh?" ujar Rey, seolah membuat alot ijab kabul Mila dan Kenan yang masih pucat, entah ia harus bahagia atau berduka dengan keadaan ini.


Silahkan!


Beberapa saat pria di depannya datang, hal itu membuat tatapan Kenan kaget.


"Tuan Saputra?"


Mila kaget, apakah kedatangan pria ini untuk memaki karena Mila masih ingat, dia adalah ayah dari Shela. Tepatnya mantan istri Kenan.

__ADS_1


Tok Tok. Ketukan pintu terlihat pria jangkung paruh baya dengan supir tiba.


"Maaf kedatangan saya mengejutkan, saya datang karena ingin menyaksikan, apakah pengantin setelah ini bahagia. Jujur saya adalah mantan mertua mempelai pria, tapi kali ini saya berbaik hati ingin menjadi wali kedua pengantin."


Deg.


Lontaran menyakitkan dengan penuh tanya?!


Mila benar benar bingung, apakah ijab kabul ini sah. Terlalu awam dan tidak mengerti soal ini, bahkan pernikahan ini bagi Mila benar benar tidak sah, karena ia belum mendapat restu.


"Mila, aku datang kemari. Justru kedua anak anak meneleponku, dan membantumu merestui kamu dengan Kenan. Di restui ibumu juga demi kebahagianmu, yakin sama aku. Ibumu sudah merestuimu, jujur apa yang kamu lihat tidak sekejam itu."


"Ibu merestuiku, kapan dia bicara Rey?"


"Ijab kabul lah dengan tenang! Kita akan bahas nanti." lirihnya membuat Kenan tak menyangka, pria yang pernah berdebat dengannya, baik mendukung Kenan mempertanggung jawabkan masa lalunya.


Tuan Saputra yang datang, sebenarnya tidak sudi melihat Kenan menikah, jujur niat hati ingin memberi pelajaran, namun Rey putra dari sahabatnya mengundang dan bicara jika ia ingin menjadi saksi salah satu keluarganya itu, lebih tepatnya detik ini Saputra menghargai.


"Sah." jabat tangan Saputra pada Kenan, di wakilkan Rey sebagai saksi memberi selamat pada Mila, andaikan disini ada ibunya mungkin akan bahagia.


Selamat ya Mila .. Selamat ya Kenan!


Semua bersalaman, termasuk Bima dan Kanya yang saat itu memeluk kedua orangtuanya dengan haru.


"Bunda ... Makasih."


"Ayah makasih .."


"A-ayah? Panggilan yang bagus nak." tetes air mata Kenan, begitu mengubah hidupnya ketika kedua anak menggemaskan itu menyambutnya dengan bahagia.


TBC.


Masing ada satu bab lagi, semoga lolos review!


Happy Reading All.


Update tiap pukul 18.00 sore namun, lolos tergantung review entun.

__ADS_1


__ADS_2