Baby Genius Sang Pilot

Baby Genius Sang Pilot
PESAN MISTERIUS


__ADS_3

"Jadi bisa di pastikan putri anda di temukan Tuan." ujar Heru, kala Saputra duduk di kursi goyang kebesarannya.


"Kau tidak salah kan? Siapa dia, cepat beritahu aku Heru!"


"Anda pernah bertemu dengannya, hanya saja. Saya membutuhkan Tuan, untuk memancing! maaf Tuan. Saya harap Bu Rini memintanya datang, agar anda bisa tahu apa yang terjadi antara istri Tuan dan putri anda. Maaf jika saya lancang bergumam seperti ini!"


"Hah, rasanya mustahil sekali jika aku meminta Rini datang, terlebih kau tahu. Dia mengusirku."


"Saya punya ide Tuan, bukankah ulang tahun putri anda, 02 febuari, 1995."


"Benar, aku tidak tahu seperti apa kehidupannya."


Heru memberikan sebuah proposal, dimana ia bertugas membuatkan ulang tahun secara private di gedung Carlton Swiss, atas nama putrinya, dan memberikan sebuah undangan untuk bu Rini, dari putrinya.


Bahkan biodata Mila. Dan sebuah foto yang amat Saputra terkejut, dia adalah istri baru Kenan. Dengan dua anak yang pernah ia lihat di rumah sakit, bahkan ia pernah memarahi dan mengancam Mila dengan tidak pantas.


"Astaga! Kau tidak sedang membodohiku kan?"


"Tuan, dari arsip agent menelepon, nomor ini tertuju pada Mila, kemungkinan dia putri anda Tuan. Dan maaf, hubungan putri anda dan bu Rini tidak baik, karena suatu hal."


"Hah, jadi putriku begitu dekat, tapi aku tidak sadar. Bagaimana bisa aku menjadi ayah yang bodoh, tidak merasakan ikatan batin pada putri sendiri, karena apa masalahnya?"


"Itu di luar kuasa saya Tuan, yang jelas putri anda pernah hamil di luar nikah, putri anda adalah cinta masa lalu Kenan, yang digilai nona Shela, dan ada kemungkinan putri anda dijebak, oleh orang terdekat anda." jelasnya, membuat tatapan Saputra gusar.


Menghela nafas, Saputra meminta Heru untuk tidak melanjutkan bicara, bahkan dirinya enggan untuk berkomentar. Meminta dirinya sendiri untuk merenung atas perlakuan tidak baik pada putrinya sendiri, bahkan Heru melihat dari samping pintu. Jika Tuan nya itu sedang tidak baik baik saja, menangis pilu menatap foto lembaran yang ia berikan.

__ADS_1


Heru sendiri sebenarnya bingung, ketika Kenan memberi pesan email. Dimana amat kebetulan, dirinya sedang mencari beberapa kegiatan bu Rini, yang sering diam diam menelepon tapi tak di angkat, dan kebetulan data itu kongkrit.


Sehingga sebuah informasi dirinya bisa kembali melihat kebahagiaan Tuannya, dan Kenan kemungkinan kembali menjadi Ceo, terkait Saputra dan Kenan sedang tidak baik baik saja, karena persoalan bu Inggrid sang besan.


Heru, sebenarnya lelah. Ia ingin hidup seperti yang lain, berkeluarga dan tentunya melepas dirinya menjadi tangan kanan Saputra, apalagi dirinya ingin memperjuangkan cinta yang tidak mungkin mulus, jika ia masih bekerja sebagai tangan kanan seseorang berkuasa.


Mungkin, Heru akan kembali menjadi intel, dimana melihat tuannya sudah menemukan putrinya, tugasnya berakhir tak perlu merasa bersalah.


Heru berdiri, setelah melihat kamar Shela yang masih dipastikan, oleh sang bibi wanita itu ada di dalam, ia pergi namun terperangah menatap foto lembaran mendiang sang ayah, tugas Heru sebenarnya menggantikan posisi sang ayah, hingga wasiat menemukan putri Saputra benar benar membawa kebaikan bagi semua.


'Ayah, Heru akan kembali ke bangka. Setiap hari bekerja seperti dulu, dan bisa mengunjungi nisan ayah.' lirihnya dan melangkah.


Sementara Di Beda Tempat.


Mila yang melihat video Kenan, akan bekerja menyempatkan mengirimnya sebuah video rindu, membuat tatapan Mila senyum senyum sendiri, bahkan tak khayal Mila merasa ingin tertawa ketika Kenan kembali bucin, dulu Mila lah yang bucin tak bisa jika sedetik saja, tidak melihat wajah Kenan.


"Bunda, ayo Bunda ikut Kanya!" dari arah lain merajuk.


"Enggak, bunda ikut Bima aja ya bunda. Main basket."


"Main badminton. Eh, kak Bima gajebo deh. Bunda harusnya main sama perempuan dong."


"Hey, sayang bunda. Ada apa sih, kok ribut rebutan gini?"


"Bunda, kita kesepian. Ayah kapan pulangnya bunda?"

__ADS_1


"Em .. Baru juga beberapa jam di tinggal, dua hari lagi ayah akan pulang, karena pekerjaan ayah disini. Kamu mau gak, kalau kita tinggal disini?"


"Serius bunda. Terus sekolah kita pindah dong?"


"Eum. Sepertinya home schooling, tapi nanti kita scroll lihat lihat ya. Masalahnya, maafin Bunda, bunda udah di amanat Ayah, untuk tidak pergi pergi dari kota ini sayang. Karena Bunda benar benar enggak hafal, dan Tahukan, Ayah kasih smart pintar, kalau kita butuh sesuatu. Pasti datang! Tapi Kanya dan Bima enggak boleh keluar villa ini, tanpa bunda. Kalian mengerti kan?"


"Iya Bunda. Kami paham." serentak Kanya dan Bima memeluk.


Tlith.


Getar ponsel Mila, nada itu adalah sebuah pesan.


"Sebentar Bunda lihat dulu, siapa ya yang hubungi Bunda?"


"Ayo bunda lihat, siapa tahu ayah mau video call."


[ Nak, kamu benar di swiss. Hari ulang tahun mu, Ibu akan menyusulmu. Beri tahu ibu, dimana lokasi kamu saat ini. Kita bertemu! ]


Deg.


Mila terdiam beberapa saat, bagaimana bisa ibunya tahu dirinya ada di swiss. Apalagi nomor ponsel yang baru, nomor swiss langsung.


'Apa ibu saat ini ada di swiss?' batin Mila, kebingungan.


"Bunda kenapa?" tanya Kanya, membuat Mila sadar dari lamunan tadi.

__ADS_1


"Ah, enggak apa apa sayang. Ayo kita main, kita ke ruang belakang ya!" di anggukan Bima dan Kanya.


TBC.


__ADS_2