Baby Genius Sang Pilot

Baby Genius Sang Pilot
DI GREBEK KARENA SIKEMBAR


__ADS_3

Saputra kesekian kalinya kesal, ketika Kenan mencoba membuat kemacetan, dimana Ia bercerai dengan anaknya, kini terang terangan membuat keributan, bahkan merasa hidupnya akan baik baik saja, setelah membuat perusahaannya rugi. Kini mereka membuntuti keberadaan Kenan.


"Ikuti mobilnya! Jangan sampai lewat."


"Baik pak." supir mengangguk.


Sementara sampai rumah, Mila merasa kesal tapi sedikit senyum, setelah menurunkan barang belanjaannya. Kenan terlihat menurunkan belanjaan, bahkan tidak sedikitpun menurunkan kursi rodanya.


"Mila, kamu masih marah soal tadi, maaf kalau aku buat malu .."


"Ken, udahlah. Aku ga bahas lagi, tapi kejadian tadi membuat aku lupa kesedihan. Makasih ya."


"Terus kamu terima aku Mil?"


"Ken .." lirikan aneh.


Saat Kenan menyatakan lamaran, saat itu juga Mila senyum menarik perhatian, ia mengambil kotak cincin, yang mana menarik tangan Kenan, untuk segera pergi karena membuat macet. Meski begitu tatapan ramah permintaan maaf pada pengunjung lain tak lupa.


Bunda ... Teriak Kanya dan Bima.


"Hey sayang, maaf ya bunda hari ini agak lama banget ninggalin kalian." kecup Mila pada anak anaknya.


Kenan pun terlihat bahagia, mengelus rambut Kanya yang panjang, lurus dan lembut. Hal itu membuat tatapan Kanya, berbicara.


"Uncle Kenan itu ayah kandung kami kan?" tanyanya membuat, tatapan Mila dan Kenan saling bengong.


Hah? Lirih Kenan sama ikut kaget.


"Kanya, sayang. Maksud kamu apa ya nak?"


"No! Bunda .. Enggak boleh bicara, aku sama Kanya lagi bicara sama Uncle, karena Uncle Kenan pasti ga akan bohongi kami." tambah Bima.


Deg.

__ADS_1


Tanpa sengaja Kenan gagap, entah siapa yang memberitahu anak sekecil ini, bertanya layaknya orang dewasa.


"Bima, Kanya. Kenapa kalian bicara seperti itu?"


"Karena kami tahu sendiri, sebab rambut paman itu rontok kan. Telus Kanya kasih kak Bima, dan kak Bima telepon Uncle Dirga, kan ada keluarganya yang dokter. Terus Uncle tahu, aku minta samain rambut aku dan kak Bima sama Uncle. Cocok loh."


"Iya bun ... Kalau Uncle bisa cocok sama rambut kita, terus kenapa pergi baru kembali?"


Mila saat itu benar benar tak bisa berkutik, dimana kedua anak anaknya bisa secerdas itu, di usia menginjak Lima tahun, mengapa bisa mencocokan tes rambut ala tes dna.


Dilema Mila, ia bingung harus berbicara apa!!


Mila bahkan bertanya pada sang bibi, tapi jawaban bibi tidak tahu, dan tidak pernah melihat kedua anak anak melakukan hal yang tidak wajar. Bahkan bibi Roh cukup terkejut atas apa yang di ucapkan anak anak.


"Bibi benar benar enggak tahu non Mila, ga ada yang mencurigakan. Bahkan Dirga teman non Mila dan Den Deva, sudah lama enggak pernah kesini."


"Kok Uncle sama bunda enggak jawab sih pertanyaan kami." lirih Kanya terlihat sedih.


Tok. Tok.


"Sore bu Mila."


"Sore.. Loh pak Rt, dan bu Rt. Ada apa ya, kok tumben kemari, mau pesen kue lagi buat acara?"


"Boleh kami masuk Mil?"


"Ah, iya silahkan masuk!"


Apalagi terlihat beberapa orang dibelakang bu Rt, mirip sekali dengan pakaian sorban hijau dan jas hitam, firasat Mila benar benar tidak enak hari ini.


Hingga beberapa saat bibi membawakan minuman, pak Rt mendeheum dan membuka kacamata tebalnya di ruang tamu, semua berkumpul. Mila bahkan seolah seperti tersangka, tak bisa berkutik.


"Begini loh bu Mila, saya dengar dari bukti bukti yang ada, jika pak Kenan ini menginap sudah lima hari. Apa bu Mila tahu, apa arti kedatangan kami kesini?"

__ADS_1


Gleuk, Mila menatap Kenan sudah panas dingin.


"Begini pak .."


"Sebentar bu Mil, suami saya belum selesai bicara. Kedatangan kami juga baik kok, tidak maksud aneh aneh. Itu karena saya sebagai bu Rt, sayang sama kamu Mil." tambah bu Rt.


"Tanda kecocokan pada pak Kenan dan kedua anak anak bu Mila itu benar asli, apa benar hasil tes dna ini suami bu Mila dahulu, atau memang suami bu Mila yang ada di hongkong baru kembali?"


"Waduh pak, sepertinya salah paham deh. Kalau boleh tahu siapa yang melaporkan ya pak?"


"Lah, wong kedua anak anak kamu ini loh Mila, mereka minta bantuan aku buat tes dna apakah cocok dengan ayahnya yang selama ini dicari, sejak ibu pesen kue bulan lalu, terus hubungi pak Dirga. Apalagi Bima yang laporin katanya teman pria nginap di rumah, jadi baiknya saya dan suami saya, alias pak Rt. Bawa penghulu, kalian nikah dulu aja ya detik ini ijab kabul biar sah, agar gosip tidak melebar." ujar bu Rt, membuat Mila tercengang


"Apa .., menikah bu Rt?"


"Iya, hanya kami yang tahu. Tidak boleh ditunda, pilih nikah sekarang. Atau mau di amuk masa, di arak keliling dan di usir secara tidak hormat. Kalau mau nikah, saya tutup kesalahan kamu yang khilaf." jelas Pak Rt, membuat Mila lemas.


"Ken, apa ini semua ide mu, lalu mengelabui anak anak?" bisik Mila sedikit kesal.


"Enggak Mil, aku bahkan menyiapkan cincin itu sudah lama, sebelum kita bertemu dengan anak anak kita." debat Kenan yang tak mau disalahkan.


"Eh, kenapa bertengkar. Ayo Mila, pilihanmu lima detik!"


Kanya dan Bima memeluk bundanya saat itu juga.


"Maafin Bima ya bund, udah bikin bunda sedih."


"Iya bunda, kita bikin keramaian di rumah. Maafin Kanya." tambah memeluk.


Mila memeluk, dan berkata jika ini bukan salah kedua anak anaknya, hanya saja Mila tidak sangka kedua anak anaknya genius, bisa memahami dan mencari tahu tanpa celah ketahuan seisi orang rumah.


"Bunda yang salah nak! Maafin bunda, karena di samping kalian itu, memang Ayah kalian yang sebenarnya! Karena bunda dan ayah, ada hal yang tak bisa buat bersama, kelak dewasa, Bunda minta maaf dan mohon kalian mengerti. Bunda ga akan pernah nutupin, kalau yang kalian panggil Uncle Kenan itu, adalah Ayah kalian sayang." jelas Mila, membuat seisi semua orang, di ruang tamu penuh haru.


Kenan merasa bergetar bahagia, saat ucapan Mila, mengakui di depan kedua anak anaknya yang genius itu.

__ADS_1


'Hah, bocah sekolah tk sudah bisa berfikir tes dna, dan meminta bantuan orang yang tepat. Kalian memang bibit Unggulku, terimakasih nak.' batin Kenan mengusap rambut Bima dan mengecup kening Kanya juga.


TBC.


__ADS_2