Baby Genius Sang Pilot

Baby Genius Sang Pilot
MENGENANG MASA LALU


__ADS_3

Mila yang sedang memotong sayuran, ia menatap foto dirinya dengan seragam pramugari. Dimana ingatan pertemuan dirinya dengan Kenan terulang.


Beberapa Tahun Lalu.


Hari itu, Mila pulang sedikit telat. Karena di saat week end, ia bekerja shift sebagai pramugari, ia berniat pulang ke rumah sampai hampir tengah malam. Sebenarnya tak masalah bagi Mila untuk pulang jam berapa pun, ia begitu menikmati bekerja di sana.


Ia menghentikan langkahnya ketika merasakan perih di pergelangan kakinya karena heels, lalu mencopotnya dan menyeker. Ia meringis ketika membuka sepatu yang dipakainya. Ternyata terdapat luka lecet, dan mengeluarkan sedikit darah.


Mila duduk sejenak di halte bus yang tak jauh dari bandara. Jarak ke tempat kos masih cukup jauh. Jika dibawa berjalan memakai sepatu akan terasa sakit. Mila membuang napas pasrah, tidak ada jalan lain selain berjalan menuju kosnya tanpa alas kaki.


Mila berjalan sedikit tertatih. Biasanya tak pernah sampai seperti ini, mungkin sepatu yang dikenakannya terlalu kecil sehingga melukai pergelangan kakinya. Terdengar suara klakson dari belakang. Mila menoleh dan mobil itu pun berhenti sejajar dengannya.


“Kamu pulang ke mana?” seru Kenan dari dalam mobil, yang kala itu melihat Mila berjalan sedikit tergoda.


“Ke depan, Captain. Nggak jauh kok.” Mila menjawab.


“Panggil nama aja, kan bukan di ruang lingkup kerja. Mau saya antar?” Kenan melirik ke sepatu yang ditentengnya dan kaki yang tak memakai apa pun.


"Ga usah deh Kenan."


“Kaki kamu kenapa?”


“Eh.” Mila menjatuhkan pandangan pada kakinya. Ia tersenyum kikuk.


“Ini, Pak, eh Kenan. Kaki saya lecet, sepatunya kekecilan.” Mila memelankan suaranya pada kalimat terakhir.


Lalu, Kenan turun dari mobil.


“Kamu jalan kaki ke rumah?”


“I-iya,” Mila menjawab terbata.


“Jauh?”


Mila menunduk, ia menggigit bibir bawahnya. Jika Kenan menawarinya untuk diantar lagi bagaimana? Ia merasa tidak enak jika harus diantar oleh pria itu lagi, bahkan merasa tidak pede kala seorang pilot sedikit dekat dengan pramugari masih jajaran parkir bandara.


“Kamu nggak bisa loh jalan jauh dengan kaki seperti itu.” Kenan melanjutkan ucapannya, karena Mila tak kunjung menjawab.


“Udah, kamu nggak usah banyak mikir. Ini udah malem, nggak baik kalau cewek jalan sendiri malem-malem. Sekarang itu banyak orang jahat."


Kenan hanya tidak ingin keselamatan rekannya ini terancam. Mila itu, satu-satunya pramugari yang tidak memakai kendaraan ke tempat kerja. Ia bahkan selalu menolak jika teman-temannya menawarinya untuk pulang bersama.

__ADS_1


Alasannya klise, tidak ingin merepotkan. Lagi pula, masih bisa dijangkau dengan jalan kaki. Jika sekitar pukul delapan sampai sepuluh jalanan masih ramai. Namun, jika sudah tengah malam begini, tempat yang dilewatinya cukup sepi.


“Ayo,” ajak Kenan yang entah sejak kapan sudah membukakan pintu mobilnya untuk Mila.


Gadis itu menjadi merasa tidak enak. Apa ia harus mengiyakan ajakan Kenan? Takutnya malah Kenan yang berbuat jahat padanya.


"Saya gak akan macam-macam sama kamu." Kenan meyakinkan, karena raut wajah Mila yang tampak ragu. Namun, pada akhirnya Mila mengiyakan.


Dan dari sanalah kedekatan Mila dan Kenan berlanjut, membuat mereka tampak akrab di ruang lingkup luar, hanya saja ketika mereka bertugas satu penerbangan, Mila dan Kenan harus menjaga jarak agar tidak di ketahui sesama rekan kerjanya, bahkan hanya sedikit berkedip angguk, menyapa lewat isyarat tanpa sepatah katapun.


Dan fatalnya mereka adalah, party yang di adakan tempat mereka bekerja, berkumpul dibawah orang dalam, mereka juga boleh mengajak pacar, suami jika datang. Karena itulah, tampak rekan kerja tidak ada yang tahu, jika saat itu Kenan dan Mila menjalin hubungan.


Ting Nong!


Suara Bel, membuat Mila yang sedang melamun mengingat dirinya dulu bersama Kenan, hingga berlanjut menjadi pasangan halal. Dimana mereka saat ini, benar benar tidak mulus untuk bersama adalah hal yang membuat Mila bingung.


'Benar jika hati tidak memaafkan akan kalah oleh perasaan, dan melihat kedua anak anaknya yang tidak ingin bernasib sama seperti Mila, yakni tidak tumbuh bersama orangtua yang utuh.'


"Siapa sayang?"


"Ssst .. aku lihat siapa yang datang dulu ya! kamu jangan teriak teriak, katanya mau surprise si kembar." ujar Mila.


"Oh iya, aku lupa sayang." Kenan mengambil ahli, memotong sayuran, yang akan ia masak berdua bersama Mila.


"Pak Saputra. Anda ayah dari Shela kan? anda cari siapa ya?"


"Maaf, jika saya mengganggu kebersamaan kalian. Apa bisa kita bicara sebentar?"


"Sebentar saya panggil Kenan, dia juga kebetulan baru pulang semalam pak."


"Saya ingin bicara denganmu Nak!" tegas Saputra.


"Bi-bicara dengan saya?" gugup Mila.


Kenan nampak menghampiri, dimana pukul enam pagi, kedatangan tamu. Dimana Kenan sendiri syok, menatap mantan mertuanya datang ke villa nya di swiss. Wajar ia tahu, sebab salah satu villa hotel swiss yang ia tempati aset dari perusahaan, dan setengah persen saham bandara milik tuan Saputra.


"Pak Saputra." lirih Kenan, yang kala itu Mila kaku dan sedikit memerah kebingungan.


"Duduk pak!" ujar Kenan, di teras ruang tamu.


"Saya tahu, anda pasti tidak terima karena saya menikah dengan pria yang mana, ia adalah pernah menjadi menantu anda. Dimana pria bersama saya, adalah pria yang dicintai putri anda. Tuan, maafkan saya! tapi ini adalah takdir, saya menerima Kenan, karena saya tidak bisa melawan rasa sayang saya padanya, terlebih cinta saya bersatu lagi, karena kedua anak anak, saya tidak ingin mereka alami apa yang saya rasakan." jelas Mila, memerah dan menangis air mata.

__ADS_1


Kenan sendiri nampak senyum, dimana kedatangan Saputra di anggap Mila, karena menentang pernikahan mereka, istilah melabrak ke tempat mereka tinggali saat ini.


"Nak! kenapa kamu menjelaskan ini semua?" tanya Saputra.


"Karena itulah kenyataannya, sejak di rumah sakit anda bersikap menyakitkan, atau jika bukan. Anda ingin meminta cicilan hutang Kenan, saya punya tabungan hasil dari jual kue. Saya akan ambil sebagai cicilan awal!"


Kenan senyum menangis, dimana rasa cinta Mila benar benar tulus. Ah! rasanya bodoh jika Kenan harus menyakiti wanita sebaik Mila.


"Kedatangan saya bukan itu Putriku!" ujar Saputra, dan Kenan menahan tangan Mila yang berdiri akan masuk ke dalam.


Samar samar, membuat tatapan Mila menghapus air mata.


'Putriku, apa aku tidak salah dengar?' menoleh Mila.


"Putriku! kamu adalah anak Rini Suliastri semarang lahir tahun 1957. Nama kamu adalah Mila Sarahila, 1998." lirih Saputra.


Mila menoleh dan menatap sebuah foto dalam meja, yang diminta Mila untuk mengamatinya.


"Anda dapat dari mana foto foto bayi dan foto saya sejak kecil, apa bapak penguntil?"


"Mila, aku minta maaf. Aku juga tidak percaya, tapi saat Heru mengatakan jika kemungkinan kamu adalah anak dari tuan Saputra."


Cih.


Mila sendiri tak percaya, ia berlalu masuk ke dalam sambil berkata.


"Aku tidak percaya, kamu benar benar membohongi aku Kenan. Kamu sembunyikan dari aku, sejak lama kah kamu tahu? kamu kan tahu, ayahku telah mati. Itu yang ibu ku bilang."


"Nak tunggu!"


Saputra menangis, kedatangan yang begitu mendadak membuat Kenan, meminta Saputra memaafkan dan menunggunya.


"Pak. Saya pamit ke dalam, ini benar benar membuatnya bingung, saya akan coba bicara!"


"Bantu saya Kenan! sudah lama saya mencarinya!"


Nyes hati Kenan, bisa bisanya pria paruh baya arogan menyebalkan, berubah melow dan rapuh. Yang mana Kenan sendiri tidak tahu banyak seluk beluk keluarga Mila.


'Ah, betapa bodohnya menjadi Kenan sebagai pria saat ini.'


"Saya akan berusaha keras pak Saputra! tunggulah!" pinta Kenan dengan rasa hormat penuh sopan.

__ADS_1


TBC.


Dua bab meluncur penuh!!


__ADS_2