
Bayangan Kenan, dalam alam bawah sadarnya. Membuat Kenan duduk berdiri terpaku, ada hal yang membuat dirinya bersedih, disana, di ujung jembatan ia melihat Mila, bersama kedua anak anaknya semakin jauh.
"Mil .. Mila .. jangan pergi Mil. Mila .." teriakan Kenan, saat itu membuka kedua matanya.
Dokter disana pun senyum, memeriksa kedua mata Kenan, mengecek suhu dan kesehatan Kenan yang saat ini telah pulih.
"Pak Kenan, bagaimana apa yang bapak rasakan, apa yang bapak ingat. Mohon jangan dipaksakan ya!"
"Saya sakit apa dok, tapi Ah. Sakit, saya masih lihat sinar mobil hitam menabrak saya, saya lihat wanita itu tapi ah .." Kenan memegang kepala.
"Suster, bawakan infus, sediakan suntikan!"
"Baik dokter."
Setelah keadaan Kenan di suntik, ia tidak lagi teriak dan merasakan sakit di kepala. Dokter meminta agar pasien tidak mengingat hal buruk, yang terlalu dipaksa. Menyebabkan fatal jika kondisi pasien belum stabil.
"Bagaimana keadaan anak saya dok?" ucap Inggrid.
"Bu, kondisi pasien belum stabil, saya mohon untuk dijaga. Saya harap! pasien jangan dipaksakan mengingat sesuatu, apalagi soal tekanan kerjaan, sehat itu tidak boleh dipaksa. Apalagi pak Kenan baru sadar dari masa siuman. Mohon dijaga hati suasananya semakin baik. Jangan di berikan pertanyaan berat!"
"Baik." lirih Inggrid kesal.
Dokter pun permisi, membuat Inggrid memutar cara, jika kondisi anaknya semakin buruk. Bagaimana bisa ia disuruh bekerja, apalagi tekanan pekerjaan yang membuat Inggrid akan jatuh semakin miskin. Inggrid memutar cara, dari segala hal yang mungkin dirinya akan miskin tak mempunyai uang.
"Kenan, kamu sudah membaik. Tahukan, mama sudah menjual kalung berlian yang melilit, demi membayar tagihan rumah, dan tagihan rumah sakit. Kamu tahu ..." terhenti Inggrid.
"Eheeum. Nyonya! saya minta anda keluar, karena jam waktu besuk sudah habis. Kebetulan dokter meminta saya memberi tahu pada ibunya, saya datang sekaligus menjenguk sebentar keadaan Kenan. Jika ingin pulih, tolong ingat kata kata dokter barusan!" ujar Heru, datang di waktu yang tepat.
__ADS_1
Inggrid menghela nafas ia senyum dan merapihkan selimut anaknya dengan amat manis. Sehingga kala itu, pergi dari ruangan Kenan.
"Kenan, anak mama. Cepatlah sembuh! besok mama akan kembali datang, menjeputmu. Uups .. menjenguk kamu Nak." manis inggrid, sementara Kenan masih membeku dengan kedua matanya yang terlihat menatap atas langit langit kamar rumah sakit, sulit berkedip membuat Heru mendekat.
Selepas Inggrid pergi, Heru pun sama mencoba menjenguk dengan manis dan berbicara ringan. Mengingatkan masa mereka yang sering nakal di masa sekolah hingga kuliah, hingga akhirnya Heru masih tetap setia menjadi kacung kepercayaan pak Putra.
"Ken, aku sudah kupaskan apel merah. Di makanlah! sebagai sahabat, aku tahu yang terbaik untuk kau cepat sehat."
Lama Heru berbicara, tapi tetap saja Kenan diam bagai mayat hidup. Masih dengan lirihan kata kata sebutan nama Mila. Hal itu membuta Heru bingung, sebenarnya bujukan Mila untuk datang ke rumah sakit, masih saja ditolak halus.
***
Mila yang baru saja mendapat video call dari Deva, ia mengatakan dirinya sedang berada di singapore terkait tes pekerjaan dirinya selama dua pekan, hal itu membuat Deva bersedih tak bisa menjenguk Mila dan kedua anak anaknya yang lucu. Mila juga menyemangati, demi kelancaraan karier Deva, Mila merasa baik baik saja, dan bersyukur Deva masih mau memberi kabar untuknya.
"Bunda, aku suka adonan kue kismis. Lucu ada asem asemnya, Kanya suka deh."
"Aneh, kakak dong. Sukanya coklat, karena coklat itu bisa bikin mood naik." ujar Bima, meledek adiknya.
Sementara Mila dan bibi Roh, terlihat senyum senyum, ketika kedua anak anaknya itu selalu berdebat manis dan ramai.
"Iya sayang, kesukaan kedua anak anak bunda itu wajar dan unik. Bebas kok, lagi pula kesukaan itu tidak dipaksa, bunda juga suka Kismis dan Coklat. Jadi kalian pilih salah satunya, tanda kalian adil memilih pilihan kesukaan bunda." gemas Mila, mencubit pipi Bima dan Kanya bergantian.
Sementara itu, saat Mila menata kue ke etalase depan rumahnya. Yang mirip seperti garasi dibuat ruko, ia langsung bergegas menatap sebuah mobil di pagar terbuka sebelah, disana terlihat seseorang berdebat membuat kebisingan sedikit, di samping rumah Mila.
"Kenapa non?"
"Enggak tahu, biar Mila ke depan sebentar ya bi! Mila pengen tahu, ada apa sih disana." ujarnya membuat bibi Roh mengangguk.
__ADS_1
Sementara Mila, dengan sandal jepit dan masih memakai celemek, serta rambut yang diuntal gulung. Berjalan ke arah lokasi yang kala itu terlihat ingin Mila tahu saat ini, ada apa disana hingga menyebabkan kebisingan.
Sampailah disana, seorang pria yang membuat Mila terdiam gusar dibalik pohon tak terlihat, dan hal itu membuat Mila syok mendengarkan apa saja.
Mila masih dengarkan, Pria itu mengancam dengan kata penekanan, untuk tidak menyentuh dan menggangu ketenangan Mila. Sontak membuat Mila gemetar, apa yang baru saja dia dengar, siapa pria yang samar memakai topi penutup wajah.
'Bu inggrid, ada apa dengan dia. Kenapa pria itu menarik kasar dan membawanya masuk ke dalam mobil.' syok Mila saat itu, sementara pria disana sudah masuk ke dalam mobil, dan membawa setir mobilnya dengan melaju cepat.
"Non, kenapa?" tanya bibi.
Hah! kaget Mila.
"Enggak bi, i-itu kayaknya orang yang cari alamat salah, udah pergi kok orangnya.' senyum Mila, yang saat itu memasang wajah gugup.
Demi menghilangkan kegugupannya, Mila kembali menata kue, yang kebetulan beberapa warga pembeli berdatangan, sehingga kesibukan Mila dan bibi Roh melayani pembeli.
"Bunda, ini kantong plastiknya!" gemas Bima, usia anak laki laki yang tampan, membuat orang di sekelilingnya menatap takjub, dan gemas.
Tlith!
Mila mengambil ponselnya, di kantong celemek. Di sana terlihat email Heru, yang meminta nanti malam datang menemui Kenan di rumah sakit. Perihal tidak ada siapapun yang akan menganggu Mila menjenguk Kenan.
[ Bu Mila, saya sudah yakin malam nanti akan aman, bu Mila dapat menjenguk pak Kenan dengan jalur vvip. Saya mohon kebaikan bu Mila, pak Kenan butuh anda bu! nanti malam akan ada orang yang berjaga dan antar jemput bu Mila. ]
Deg. Terdiam Mila, ia menutup ponselnya dan segera kembali fokus.
'Apa aku temui saja Kenan, nanti malam. Sebenarnya aku juga tidak tega, tapi ..?' batinnya bergumam.
__ADS_1
TBC.
Yuks jejak Lagi, biar review aman lancar jaya. Kira kira Mila bakal jenguk atau enggak ya?!