
Hari ini, keadaan pagi hari sangat baik. Dimana Mila mempersiapkan jas seragam kebesaran suaminya itu. Terlalu lama cuti, membuat Kenan sibuk mengurusinya. Itulah yang membuat Mila khawatir dan merasa tidak enak, karena suaminya pasti akan bermasalah, dimana pilot yang telah membawa nama kebesaran suaminya itu, terancam.
"Sayang, kenapa melamun?"
"Sore nanti kamu berangkat kerja, lalu aku dan anak anak akan menunggu kamu sepekan lagi kita bertemu kan."
"Cup! sayang, kamu kan pulang bersama Ayah, bukankah kamu akan pindah ke rumah Ayahmu, dan menjemput bibi Roh, tunggulah aku di rumah kamu yang semestinya."
"Pasti kamu akan kena surat SP, semua karena cuti terus, urusi masalahku yang ga beres kan."
"Sayang, tidak ada yang salah. Kalaupun aku di pecat, aku bisa meminta lowongan dengan jabatan tinggi, pada istriku ini. Bagaimana?" goda Kenan.
"Kamu ini, yang kaya itu ayahku, bukan aku Kenan. Kamu menyebalkan." telisik Mila kala Kenan menggodanya.
"Baiklah bisa saja kamu bujuk ayah Saputra, sebab aku .. Ah, aku mandi dulu ya sayang. Cup!"
"Menyebalkan, kebiasaan bicara sepotong saja."
Mila melipat baju, dimana merapihkan beberapa baju untuk dinas suaminya, dimana saat ini Mila berharap kehidupan kedepannya akan baik baik saja. Meski awalnya Mila tak ingin Kenan kembali, tapi rasa cinta yang kerap kali tidak ingin kedua anak anak merasakan seperti dirinya kecil, tidak memiliki kedua orangtua yang utuh adalah keputusan dan sebuah takdir. Sejauh Mila pergi pun, tetap saja kehidupannya akan bertemu dengan Kenan.
Hingga beberapa saat, Kenan sudah keluar dari kamar kecil hanya memakai handuk putih melilit dibawahnya saja. Membuat Mila nampak senyum senyum sendiri, apalagi saat Kenan meliriknya saat mengambil sisir dan Mila mengambilkan sebuah pomad pelicin rambut pria.
"Sayang kenapa kamu tersenyum?"
"Euum ... entahlah, kenapa setiap pria mandi berbeda?"
"Heum .. berbeda apanya sayang, ayo katakan apa yang membuat istriku ini senyum senyum sendiri!"
"Aku merasa jika kamu keluar dari kamar kecil. Maksud ku setelah habis mandi rasa nya berbeda, apakah kamu menghabiskan satu batang sabun?"
__ADS_1
"Hahaha, sayang. Kamu itu ada ada saja, mungkin riset mengatakan, karena pori pori pria lebih besar di banding wanita sayang, aku mandi tidak setengah jam kan."
"Heuh .. benar tidak setengah jam, tapi 29 menit 59 detik." cerocos Mila dengan nada kesalnya, membuat Kenan ikut tertawa akan kelucuan sang istri.
Sehingga kali ini Kenan telah nampak memakai pakaian lengkap, untuk sarapan bersama dengan keluarga. Apalagi Kenan rindu, entah mengapa kedua anak anak saat ada nenek dan kakeknya, melupakan kenan dan Mila, dimana setiap malam sebelum tidur pasti Kanya dan Bima mengetuk pintu, dan meminta dibacakan buku cerita, tapi untuk kali ini tidak.
"Sayang, ayo kita jemput anak anak di kamarnya."
"Kanya dan Bima sudah sejak pagi ikut Ayah, entahlah aku merasa sedih di abaikan, padahal selama itu Kanya dan Bima tidak pernah meninggalkan aku, aku jadi sepi."
Kenan menggandeng Mila, dan menyabarkan Mila saat itu, sehingga ia berbisik dengan hal menggelikan yang membuat Mila menahan tawa, menutup mulutnya karena suara gemoy Kenan memintanya bak anak bayi.
"Bagaimana kita buat lebih giat, adik untuk Kanya dan Bima? mau ya ... Sayaaaang." bisiknya.
"Kenan, ini sudah di meja makan, malu. Eh, lihat anak anak dah pulang."
Kenan dan Mila menghampiri kedua anak anaknya, rupanya sepagi itu kedua anak anak lari pagi, dimana Mila dan Kenan merasa terabaikan. Karena aktifitas kedua anak anak bersama kakek dan neneknya, tentunya dua pengawal tetep mengekor.
Sehingga mereka pun berkumpul, dimana Saputra dan Rini meminta Mila untuk segera sarapan lebih dulu.
"Mil, jam segini kamu udah bangun. Udah sarapan?"
"Belum, kita bareng ya bu!"
"Padahal kalau kita keluar, udah pasti cucu nomor satu, kalian bisa sarapan lebih dulu." tambah Saputra.
"Iya ayah, ibu. Mila inginnya sama sama lebih seru."
Mereka pun makan bersama saat ini, dimana aksi keluarga hangat semestinya. Membuat kehidupan semakin berwarna bagi Mila saat ini.
__ADS_1
"Ibu mau pulang hari ini?"
"Iya penerbangan sore, bareng mungkin sama Kenan, kamu hati hati ya. Jangan lupa sering sering telepon ibu."
"Iya bu."
"Kenapa tidak besok saja, bareng dengan kita. Kebetulan sekali kan, Mila pulang sekaligus jemput bibi Roh itu dan suaminya."
"Tidak bisa, udah terlanjur udah dijemput di bandara soalnya." jelas Rini menatap Saputra, membuat Mila memandang wajah kedua orangtuanya yang telah berpisah.
"Ayah, ini siapa ..?" tanya Bima di sebelah Mila, saat Kenan meletakkan ponselnya, dimana Kenan menaruh ponselnya di atas meja, namun ada screen saver, sebuah foto dua orang.
"Yang ini sayang, ini foto nenek Inggrid. Kelak nanti kita ketemu ya, ayah akan kenalkan anak anak genius ayah." ujar Kenan.
Deg.
Penjelasan Kenan, kala memperlihatkan foto dirinya dengan ibunda, membuat Bima menunduk begitu saja.
"Kenapa sayang, kok diam kaya gitu?"
Bima pun memeluk Mila, dimana ia berbisik membuat hati Mila, dan menatap dengan bulat.
'Bunda, fotonya mirip nenek yang culik Bima di taman kanak waktu itu.' bisik Bima, di telinga Mila.
"Serius .. kamu ga salah lihat kan nak?" mode memeluk.
"Kenapa sayang ...?" tanya Kenan, dengan penuh khawatir, membuat sekelilingnya ikut penasaran.
TBC.
__ADS_1
Sambil Tunggu Up yuks mampir jika berkenan, ke novel temen Author.