
"Sebenarnya ada apa sih Mila. Ibu boleh tau, sebab sedari tadi menuju bandara. Kamu seperti memeluk Bima dan Kanya, tanpa sepatah katapun pembicaraan."
Mila masih diam, nampak menunggu mobil Ayah Saputra, yang dimana Heru mungkin mengendarai, setelah sampai di bandara ibu kota.
"Mil .. enggak baik mendiamkan suami, ada baiknya ketika ada masalah jangan saling diam, jangan saling keras kepala dan egois. Keegoisan, akan membuat rumah tangga hancur seperti ibu, yang tidak sabaran."
"Mila enggak tahu bu, sebab Bima melihat foto di ponsel Kenan, dan Bima menunjuk, dia jelas ingat ibu itu yang menculik Bima, ibu masih ingatkan kenapa Mila sempat ke musholla dan bertemu Bima."
"Ah, beberapa bulan lalu kan, ya ibu masih ingat. Ah, pantas si inggrid itu sempat bertemu, dia lari terbirit saat ibu menoleh, hanya saja ibu enggak sempat kejar, karena Bima yang saat itu tabrak ibu. Tapi kamu yakin beneran Inggrid pelakunya, ibu akan beri pelajaran buatnya?"
"Bima bilangnya gitu, Sedan Lexus plat ..... "
Deg.
Rini sendiri nampak mengingat ingat, dimana Inggrid lari memang ke mobil sedan tipe yang Mila bicarakan, sehingga Rini nampak melihat jelas foto yang sempat ia kirim dapatkan dari ponsel Kenan, lalu diperlihatkan ke ibunya.
"Iya, ibu ingat ini. Bener mobil terakhir yang saat itu ibu lihat sih memang ini, tapi baiknya kamu bicarakan empat mata, setelah Kenan tiba ya. Enggak baik, dan ini nomor ibu. Kapanpun kamu boleh telepon ibu."
'Tumben, ibu mengirimkan nomor untuknya, apakah Ayah Dave tidak marah kala Mila dan anak anak menelepon nya?' batin.
"Mil .. kok bengong sih?"
"Iya bu, Mila pasti akan sering berkabar sama ibu. Salam sama Ayah Dave dan adik."
"Iya sayang." peluk Rini pada Mila saat itu.
__ADS_1
Sehingga benar saja, ada mobil hitam nampak berhenti di depan Rini, dan ibunda sendiri langsung masuk ke dalam mobil, hanya terlihat bahu pria yang menyetir. Benar benar Ayah tirinya itu hanya menyayangi ibunya saja, benar benar tidak turun dan bahkan tidak memberi kesempatan Mila menyapa.
Tak lama Saputra tiba, dimana kedua anak anak sudah melambai tangan pada ibunya saat itu.
"Bunda .." teriak Kanya.
"Koper kamu sudah semua nak?"
"Udah ayah, tapi kita pulang ke rumah Mila dulu ya. Sebab ayah harus tahu, dan kenal bibi Roh dan pak Supra."
"Iya nak, ayo kita kejar agar tidak macet. Bagaimanapun Ayah harus menjelaskan kasus Shela, dimana orang Ayah, sudah mendapatkan bukti kuat. Mereka adalah orangtua asli Shela sebenarnya. Oh, dunia serasa sedang mempermainkan ayah. Putri ayah di rawat oleh orangtua yang kehilangan anaknya, dimana anaknya telah Ayah rawat namun .."
"Ayah, sudah cukup. Ada yang lebih berat dari hubungan ini."
"Nanti Mila jelaskan di mobil, saat ini Mila benar benar bingung." meraut wajah sedih.
Dalam perjalanan mobil mewah, dimana kedua anak anak berada di depan, bersama Heru. Dimana ada pembatas tirai, apalagi terlihat wajah anak anak pulas tertidur bersama, membuat Mila berani menceritakan pada Saputra.
"Mila enggan bercerita, tapi sepertinya Mila harus pertimbangkan mental Bima, sebab Mila tidak ingin dia bertemu Inggrid. Tante Inggrid boleh membenci Mila, tapi jika menyakiti anak anak dan membuat trauma mendalam, Mila tidak siap Ayah. Jadi baiknya, jangan pernah hubungi relasi dan kawan ayah, untuk adakan resepsi Mila. Pernikahan mewah itu, bukankah ayah akan malu, karena mempelai pria di kenali?"
"Mila, soal pernikahan itu. Ayah serahkan ada ditangan kamu nak, sebab ayah ingin memberitahu pada semua orang, dan menyatakan kebenarannya, rasa bahagia Ayah bertemu putri kandung ayah. Karena kamu dan Bima, serta Kanya akan jadi penerus seluruh milik Ayah nak."
"Itu berlebihan ayah."
"Mila, sebaiknya kamu pikirkan soal hubungan kamu dengan Kenan, ayah tahu yang bermasalah itu dari dulu adalah Inggrid, kita akan coba bawa Bima ke psikiater, soal Inggrid biar ayah yang tangani wanita itu."
__ADS_1
Mila pun mengangguk, hingga dimana ia sampai di kediaman lamanya, dimana nampak toko kue Mila terlihat spanduknya lusuh dan robek, apalagi saat Mila turun nampa sekali rumah kediamannya itu berantakan, bak tak pernah di huni selama berminggu minggu.
"Kamu yakin tinggal disini?"
"Iya ini tempat tinggal Mila dan anak anak juga bibi, tapi kok aneh sekali berantakan ya." lirih Mila, yang mengeluarkan ponsel dan memencet nomor Roh.
Tuuut!
Tuuut!
Dering tak tersambung, dari data ponsel, dari pulsa di ponsel tetap saja Mila kebingungan. Apalagi saat ia masuk ke dalam rumah, nampak sekali terkunci dari depan dan Mila mencoba ke arah pintu belakang, namun Tetap saja sulit.
"Ada apa Mila, kamu keliatan bingung. Kamu yakin tinggal di tempat ini sayang?"
"Iya ayah, ini kediaman Mila. Hanya saja, ada yang aneh. Bibi roh tidak seperti biasanya, dia tidak mungkin pergi gitu aja tanpa kabari Mila." kesal Mila, yang kala itu nampak ibu ibu berbobot 93 kg dengan jalan yang sedikit susah menghampiri.
Sore ...
Ujar wanita bertubuh pintu, membuat Mila nampak tak enak, mau tak mau ia harus melepas rantai pagarnya saat ini.
TBC.
Sambil Tunggu Up, yuks mampir ke novel temen litersi Author.
__ADS_1