Baby Genius Sang Pilot

Baby Genius Sang Pilot
MENGANTAR SEKOLAH


__ADS_3

"Sayang, ayo nak. Kita udah hampir terlambat!" ujar Mila, memanggil kedua anak anaknya yang sedang memakai ransel, serta sepatu.


"Bunda! tunggu. Bima udah siap nih, cuma Kanya si princess delay.. yang bikin Bunda nunggu lama." celotehnya di pagi hari.


"Enggak kak Bima! Kanya tuh halus perpect tahu. Biar kaya bunda tantik." cadel Kanya.


"Perfect non Kanya! non Kanya kan emang cantik. Nih, box makanan buat di sekolah udah bibi siapin. Satu buat non Kanya, satu buat den Bima."


"Makasih ibie ( bibi )." peluk dua anak itu, pada ibu paruh baya.


"Bibi makasih ya! Mila pamit dulu, hari ini toko bahan kue datang. Setelah antar anak anak, Mila cepat pulang untuk buat kue lagi."


"Iya non Mila, juga hati hati nyetirnya."


Tok. Tok.


Ketukan pintu, membuat Mila dan semua menoleh. Hingga kala itu, terlihat Deva senyum membuat anak anak Mila, sedikit beringsut dibelakang bundanya.


"Bunda om itu, si-apa?" bisik Kanya.


"Dia .. Om Deva sayang! ayo beri salam."


"Pagi bi, dan Mila. Hai anak anak genius, kalian benar benar sudah sebesar ini. Terakhir om melihat kalian, masih bayi mungil." bahagia Deva, melihat anak anak Mila.

__ADS_1


Mila pun mengenalkan satu persatu, dan menjelaskan siapa Deva pada anak anaknya. Sehingga dua anak anak itu hanya angguk dan sedikit senyum.


"Deva, aku buru buru. Aku tinggal ga apa kan?"


"Ke sekolah, kebetulan gimana aku temani, sekaligus ada hal penting yang mungkin kamu bisa senang, siapa tahu mau mendengar saran aku."


Mila ingin menolak, akan tetapi di gerbang rumah Mila. Terlihat sebuah mobil berada di tengah, membuat mobil Mila tidak bisa keluar. Pintu itu terbuka, dan membuat kedua anak anak Mila senyum lebar.


"Om Kenan. Om Kenan .. datang pagi pagi, mau anter kita sekolah kan?" teriak Bima, dan Kanya berhamburan ke arah Kenan, yang merentangkan kedua tangannya, dengan posisi setengah duduk.


Mila saat itu berdiri sejajar dengan Deva, hanya terdiam kaku. Lagi lagi Mila tidak bisa memisahkan kedua anak anaknya, jika mereka saja sudah senyaman dan akrab seperti itu.


"Mila, kamu sering di antar jemput pria itu?"


Mila pun pergi, menghampiri kedua anak anaknya. Lalu meminta Bima dan Kanya masuk ke dalam mobil, hingga saat itu Kenan menahan dengan tatapan senyuman, membuat Deva dari belakang terlihat gusar, dan cemburu.


"Pak! sebaiknya anda singkirkan mobilnya sedikit ke depan! anak anak saya sudah terlambat."


"Kalau gitu naiklah ke mobil saya! lebih cepat. Gimana ganteng dan cantik, mau naik mobil Om Kenan?" merayu kedua anak anak Mila.


"Mau ... Mau .. Ayo kak Bima, kita masuk Bunda naik mobil om Kenan aja, bagus soalnya. Itukan mobil yang pernah kakak lukisan kan?" bisik Kanya, membuat Mila menelan saliva.


Mila menoleh ke arah belakang, ia mengambil tasnya di mobilnya, lalu meminta maaf pada Deva.

__ADS_1


"Deva! kita akan makan siang, aku tunggu kabar kamu, aku segera datang! aku tidak bisa menolak permintaan kedua anak anakku. Tolong maafkan mereka, dia masih anak anak dan sedikit asing karena kita lama tidak bertemu."


"Ya! aku ngerti Mila, wajar jika Bima dan Kanya tidak mengenali aku, bayi tidak akan ingat. Aku boleh izin, membantu bibi Roh membuat pondant di dalam?"


"Boleh. Makasih ya Deva." senyum Mila, dan pergi masuk ke dalam mobil Kenan, yang kala itu Kenan, membuka pintu mobil depan.


Sementara kedua anak anak Mila, senyum senyum dibalik kaca, dan see you good bye pada Deva, seolah meledek.


Perjalanan di dalam mobil, Mila hanya bisa mendengar ocehan kedua anak anaknya terhadap Kenan. Sekeras apapun Mila menjauhkan kedua anak anaknya, entah kenapa takdir malah mempererat hubungan anak anaknya pada ayah biologisnya itu.


Setelah sampai di sekolah, Mila senyum melambai pada kedua anak anaknya, yang sudah di sambut guru kelasnya dan masuk ke dalam sekolah internasional.


Mila pun menoleh, namun terbentur jaket Kenan yang tepat sekali pada bidang roti sobek, sebuah kancing dari tengkuk lehernya, jakun Kenan terlihat berkeringat parfum, saat beberapa detik wajahnya terbentur, kala Kenan ada dibelakangnya amat dekat. Hal itu membuat Mila berdetak menatap Kenan, yang ikut memandangnya.


"Kenan, terimakasih. Tapi aku ingin pulang, aku harap kamu tidak melakukan seperti ini lagi pada kedua anak anakku. Aku masih bisa mengantarnya tanpa kamu!"


"Kenapa, kenapa kamu berusaha keras menjauhkannya dari ayahnya, apa mereka tidak berhak tahu?"


"Kamu pikir mudah Ken? jika ia besar, ia tahu asal usul kenapa ayahnya sekian lama baru tiba, dan mudah kamu katakan aku ayahmu sayang." bernada Mila, emosi melihat Kenan.


Kenan sendiri terdiam, ia tidak bisa menjawab apa yang baru saja Mila bicarakan, karena kata kata Mila ada benarnya. Kini Kenan, hanya bisa menatap Mila, yang menghentikan taksi dan berlalu.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2