
Saat itu terkejut bukan main, ketika salah satu bocah yang melukis mobilnya, tak lama Mila mendekat dan mengecup layaknya seorang ibu.
"Pak, sepertinya itu anak anak bu Mila." ujar Heru.
"Tetaplah disini Heru, saya keluar sebentar."
Kenan, penasaran dengan masa lalu Mila, entah kenapa Mila selalu menghindar, dari wanita yang pernah Kenan tiduri, hanya Mila yang berbeda, sehingga bayangan Kenan pada Mila tidak pernah terputus, apalagi ketika tahu Mila bekerja sebagai petugas kebersihan, apakah hidupnya sulit, sehingga Kenan ingin membantunya lebih.
"Mila..." teriak Kenan.
"Ayo bi, kita pergi." Mila berusaha menghindar.
"Mila, tunggu aku mohon jangan membohongi perasaanmu. Jangan lagi menghindar! ini di luar jam kerja, katakan siapa suami kamu, dan kedua anak anak itu apa dia anak anakmu?"
"Pak Kenan, saya mohon pergi jangan pernah muncul dalam kehidupan saya lagi, lagi pula tidak pantas dilihat. Bukankah saya seorang office girl, bawahan bapak yang rendah." lirihnya, menutupi kuping kedua anak anaknya.
Mila pun berlari mencari taksi, setelah kedua anak anaknya dari minimarket bersama sang bibi janji bertemu, akan tetapi kali ini ia cepat pergi ketika melihat mobil Kenan, dan benar saja mereka menghampiri.
"Bunda, mereka siapa?"
"Mereka, bukan siapa siapa nak! nanti Bima dan Kanya ikut bibi pulang duluan ya!" di anggukan kedua bocah itu.
Satu sisi, Kenan menatap Mila yang menghindar. Tapi Kenan tetap mengejar dan mencari motor besar sebagai sewa pinjaman. Heru sebagai asisten hanya bisa geleng geleng akan tingkah bosnya itu, ia pun mengerahkan dan menyalakan mesin mobil mengejar taksi yang dikendarai Mila dan mungkin dari arah belakang ada Kenan.
Strith
"Ada apa pak?" tanya Mila.
Supir taksi pun memberitahu jika seseorang telah menyalip dengan sebuah motor. Mila pun menghempas tubuhnya bersandar ke kursi mobil, sambil memegang Kanya dan Bima dalam pelukannya.
Terlihat Rey, mengetuk kaca pintu taksi dan memberi beberapa lembar uang merah. Ia meminta supir taksi pergi dan menurunkan penumpangnya.
Perdebatan ditengah jalan, Mila pun berusaha menghindar dan menepis tangan Rey yang menempel. Tapi seseorang telah turun dari taksi dan melerai akan pertikaian mereka.
"Pak, tolong cepat antar bibi dan kedua anak anak saya ya! Bima, Kanya, bunda agak sedikit terlambat, teman kerja bunda ada masalah, kalian pulang sama bibi duluan ya! Bi Roh, titip anak anak ya." ujar Mila, meraih tas.
"Iy non. Ayo sayang, kalian sama bibi ya, bunda pasti cepat pulang." bujuk sang bibi, agar kedua anak anak Mila mengerti.
Mila menoleh, bukan main tadi di minimarket ia bertemu Kenan, kali ini Rey menguntitnya dan menghentikan taksi yang ia tumpangi, semoga kedua anak anak Mila tidak panik, begitu melihat kejadian ini.
"Ada apa ini, Mas Rey kamu sedang apa, hentikan taksi aku, kamu nguntit aku lagi?"
"Mila, aku cuma mau bantu kamu, please. Ga usah lihat aku sudah berstatus, tapi pyur rasa bersalah aku sama ibu kamu, yang mana ia menitipkan kamu sama aku."
"Omoong kosong..." tak lama, Mila syok ketika melihat seorang wanita.
"Elin...," lirih Mila.
__ADS_1
Rey terkejut, akan tiba sang istri sudah ada di hadapannya." Elin kamu sudah kembali?" tanya Rey.
"Hoh.. hahaha.., lirih tertawa jahat Elin. Rupanya kamu diam diam selalu mengabaikan aku istrimu, kamu bertemu diam diam dengan Mila."
"Istri, kalian sudah menikah?" syok Mila, entah kenapa keadaan semakin runyam saja.
"Mila, lama tidak berjumpa tapi dirimu menyedihkan sekali, menggoda suami orang. Kamu harus sadar Rey suamiku, apa ini namanya teman yang banyak membantumu?"
"Elin ini tidak seperti yang kamu bayangkan."
"Cukup Elin, ayo pulang! aku kemari hanya amanat dari ibu Mila aja." Rey menjelaskan.
Rey menarik Elin, dan pergi begitu saja. Ada rasa bersalah dan sedih ketika ia harus meninggalkan Mila, karena kedatangan Elin secara tiba tiba.
'Cintai Elin, aku mohon Rey. Demi rasa cintamu yang dalam. Jangan lagi muncul dalam kehidupanku. Aku sudah cukup baik hidup tanpa pria.'
Mila pun beranjak dan berdiri, berjalan dengan pelan dan menatap jalan yang sedikit kabur. Ia menunggu taksi lewat hingga menepi di halte, namun sebuah tangan menyambutnya.
"Hapus air matamu,"
Mila mendongak, menatap pria yang memberinya sapu tangan. lalu ia diam dan tersenyum kecil.
"Kenan, kenapa kamu lagi, tidak seharusnya anda dekat dengan wanita seperti saya, maaf saya harus pergi."
Kenan terdiam, Jika wanita dihadapan itu begitu acuh. Ia sedikit bingung akan sikap karyawan yang begitu saja pergi. Saat ia berusaha mengejar langkah Mila, sebuah ponselnya berdering.
"Mencemarkan nama baik, apa soal party itu, jadi karena itu dia terbuang." gumam Kenan, masih mengikuti Mila, yang masuk mendapatkan taksi.
Kenan mengepal, ia sudah lama menghindar dari saingan bisnis kedua orangtuanya. Kini ia harus berhadapan kembali dengan wanita yang notabane musuh orangtuanya itu.
"Bagaimana bisa, semua terjadi dengan sekejap aku berusaha meminta maaf. Tapi sepertinya akan berbalik!"
Mila pun bersyukur, ketika Kenan tadi menerima panggilan, ia bisa cepat cepat pergi dari kedua pria yang membuatnya risih. Ingin hidup tenang saja, seolah Mila di kejar dosa, dosa yang membuat hidupnya tidak pernah tenang. Hingga sampailah Mila di rumah, ia berlalu memeluk kedua anak anaknya yang masih menunggunya di ruang televisi, mereka sudah berganti pakaian tidur menunggunya.
"Bunda..." serentak Bima dan Kanya, memeluk.
"Ayo sayang! kita ke kamar. Maafin Bunda telat ya." kecupnya.
***
Hari pun di lewati Mila dengan tenang. Di akhir pekan, Mila yang telah membuat sarapan ditemani bibi Roh. Ia pun menyuapi
makanan dengan lahap.
"Aaaak.. masuk goa salju."
Sluuph... Bima menyantap satu sendok sang bunda berikan.
__ADS_1
Sluurph... Kanya pun ikut serta tak mau kalah. Mereka sarapan dengan tersenyum dan penuh tawa bahagia dan bercanda ria.
"Bun, Bima boleh tanya gak? temen bunda waktu itu kejar bunda, di supermarket. Apa itu namanya ayah ya bun?"
Deuugh!
"Bukan nak, itu bos bunda. Ayo makan lagi sayang!" mengalihkan perhatian.
Namun tak lama, sebuah bel berbunyi di rumah Mila.
"Ada siapa ya bi, kok sepagi ini sudah ada tamu?"
"Biar bibi lihat yang Non!"
Tak apa bi, biar Mila saja yang lihat. Mila pun langsung bergegas ke arah pintu. Namun ia sedikit takut jika Rey, kembali datang dan mencoba berulah. Lalu benar saja ketika ia buka. Sosok Rey benar datang dengan sebuah bucket bunga cantik.
"Rey, kenapa kesini lagi. Sudah cukup kemarin sore banyak orang menatap, aku adalah wanita perusak."
"Tunggu, Mila aku mohon jangan tutup pintunya. Aku sedang proses perceraian. Aku akan selalu melindungimu detik ini. Tak perduli akan kedua anakmu adalah anakku juga."
"Rey! cukup pergi sekarang juga!"
Mila menutup pintu, tapi Rey mencoba untuk menahannya. Baginya ia tidak ingin kehilangan Mila lagi, terlalu dalam perasaan Rey pada Mila, wanita pujaan yang membuatnya mabuk cinta dan semakin dalam, meski hubungan mereka ditentang karena Mila ke dapati hamil di luar nikah, sehingga ia di jodohkan wanita bernama Elin.
"Aaakh.. pergi Rey!"
Eheuuuum, berdeheum dari arah lain.
Seseorang datang dengan baju berleher tinggi, lengan panjang setelan putih abu itu tiba saja sudah ada di depan rumah Mila. Rey begitu syok akan pria asing yang tiba saja datang.
"Siapa kamu?" tanya Rey.
"Harusnya saya, anda siapa sudah ada di rumah istri saya, pergi sekarang juga atau..!"
Rey menatap Mila, dengan wajah berbeda. Ia tak begitu percaya, akan pembicaraan pria asing yang datang tiba saja.
Sementara Mila, menggeleng kepala karena Kenan, sang bos sudah mengetahui alamat rumahnya.
'Astaga, kalian benar benar mengganggu.' menutup mata sesaat, berharap kedua anak anaknya tidak keluar rumah.
"Mil, katakan aku adalah suami mu kan? Ah! Dan kau ingat ya! lihat wajahku, jangan lagi ganggu tunanganku, kau dengar dengan kuping mu baik baik. Mila milikku, dan kedua anak anaknya juga, darah dagingku." bisik Kenan, membuat Rey membuang bucket bunga dan pergi dengan sinis.
Deugh!
'Dari mana Kenan tahu, ini gawat kalau Kenan tahu?' batin Mila gerutu, bukan ini yang Mila harapkan setelah sekian lama bersembunyi.
TBC
__ADS_1