
"Sepertinya kita harus break Kenan."
"Apa maksud kamu Mila, kita ini bukan lajang atau status bertahap saling mengenal. Kamu tega, menghancurkan semuanya?"
Saat ini Mila dan Kenan berada di kamar, dimana Mila sangat kecewa, akan sikap Inggrid. Memang sejak Mila kembali dengan Kenan, mertua matre itu tidak terlihat sedikit pun batang hidungnya, hingga saat makan bersama Bima memeluk seolah ketakutan akan trauma penculikan saat itu.
"Bima bilang nomor dan mobilnya itu persis seperti ini, yang aku kira semua mobil banyak tidak hanya satu yang memiliki sedan lexus, jadi saat aku tanya lagi. Mama Inggrid yang menculik Bima, Bima jelas bilang nenek itu yang membekap mulutnya namun berhasil ia gigit, sehingga terlepas."
Deg.
Kenan sedikit sesak, lagi pula ia juga tak sangka jika mamanya akan senekat itu, melakukan itu pada darah dagingnya sendiri, dimana Bima dan Kanya cucu kandungnya.
"Mama ku tidak mungkin melakukan itu, kita akan buktikan Mila. Jadi tenanglah!"
"Aku tidak bisa tenang, aku kira kamu bekerja saja. Sambil memikirkan kedepannya, sebab aku tidak yakin untuk menggelar resepsi kita berlanjut. Dimana Bima akan terbayang penculikan itu, aku tidak mau ke depannya anak anakku sulit, jadi aku minta maaf. Siang ini aku akan pulang ke ibu kota, aku minta maaf perdebatan ini membuat kamu tidak nyaman!"
Mila melangkah ke arah bahu suaminya, dimana ia merapihkan beberapa pakaian ke dalam koper. Dimana air mata nya menangis tak sanggup, jika kenyataan ia harus bersama akan tetapi keadaannya menjadi berperang.
"Mila, aku tidak sanggup kamu berlaku seperti ini, aku akan ajukan resign."
"Stop Kenan! jangan gegabah dan mencampurkan ke dalam pekerjaan kamu. Kamu pikir aku sanggup menjalani hidup dengan suami, dan ibu mertuaku yang menculik anak anak ku, kamu pikir semua akan baik baik saja. Dia .. maksud ku ibu mu boleh benci sama aku, karena keadaan ku, tapi tolong jangan sakiti Bima. Aku ga sanggup, kedepannya akan seperti apa. Maaf, tolong kita pikirkan langkah selanjutnya."
"Aku mohon jangan seperti ini sayang!" Kenan menggapai tangan Mila, namun di tepis.
__ADS_1
Mila kembali merapihkan pakaian tanpa tersisa, dimana mata Kenan sudah mengembang tak sanggup keadaan ini.
"Mila sayang .."
"Kenan suamiku, aku mohon. Aku butuh waktu untuk memikirkannya, semua ini adalah tugasmu. Yang jelas, Bima nampak ketakutan melihat foto mama Inggrid, jika aku bicara dia nenek nya juga. Apa akan baik baik saja kelak,"
Kenan nampak lesu, hingga dimana terlihat ketukan pintu membuat Mila menghapus air mata, dan tersenyum pada Kanya dan ibu Rini.
"Mil, kamu baik baik saja. Kamu serius siang ini juga mau pulang, ada masalah apa?"
"Ga ada masalah apa apa kok bu, lagi pula Kenan sore juga ia harus dinas, kerjaannya sudah terlalu lama cuti, Mila kangen bibi Roh, dan sekalian kita satu pesawat, biar lebih dekat aja. Jarang jarang waktu bersama seperti ini kan." senyum Mila, yang nampak terlihat menyembunyikan kesedihan.
Mila sendiri nampak melangkah mengambil koper anak anak, dimana Saputra datang menatap wajah putrinya seperti menangis.
"Jika Mila dan anak anak disini, sudah pasti Kenan akan ambil cuti lagi Ayah. Jadi baiknya kita pulang bareng ibu, Mila juga ingin menyapa ayah Dave di bandara."
"Baiklah jika itu sudah keputusan kamu nak."
Deg, detak jantung Rini terdiam. Entah apalagi harus ia bicara pada putrinya soal masalahnya sendiri, hingga dimana Rini senyum saja seolah tak terjadi apa apa, masalah nanti, toh setelah di bandara ia berbeda pesawat dan jam terbang kan.
Beberapa jam kemudian, Mila dan keluarga nampak telah sampai di Bandara Internasional Zurich, dimana Kenan juga ikut meski ia akan berpisah terkait ia akan bekerja, namun bukan tanpa alasan, ia lebih baik ikut pergi dan menunggu di kantor, ketimbang di apartemen sendirian sepi dengan suasana tak karuan, masalah menerpa emosionalnya membuat ia sedih namun harus fokus.
"Kanya .. Bima .. jaga bunda ya! ayah akan menyusul kamu nanti, happy happy ya."
__ADS_1
"Oke .. Ayah." serentak dua anak itu dengan senyum lebarnya, hanya saja Mila dan Kenan seolah terlihat berbeda dari biasanya, ada jarak dan seolah Kenan ingin memegang tangan saja, nampak Mila menghindar.
'Kamu memang butuh waktu Mila, aku juga tidak akan diam saja, tapi jika yang menculik ibuku, aku bisa apa. Jika mamaku tidak meminta maaf, dan Bima masih ketakutan, aku akan membawa mamaku untuk bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan, tapi ... Ah! kenapa pelik seperti ini keadaan cintaku.'
Tidak ada suami yang fokus, dimana kondisi Mila dan Kenan saat ini, dimana Kenan yang akan bekerja, masih terbayang akan Mila yang acuh, apalagi mengatakan harus berfikir kedepannya seperti apa, sebab Kenan tidak ingin jika Mila sampai menalaknya hanya karena masalah ibunya yang keterlaluan.
Dan Mila yang dalam penerbangan, ia menatap jendela ketika pesawat sudah ada diatas ketinggian 3000 meter, apakah ia harus berpisah, agar kedepannya baik baik saja, sebab hidup berumah tangga tanpa restu itu menyakitkan, terlebih ibu mertuanya akan Mila selidiki, jika ia benar benar penculik Bima saat itu, maka Mila tidak akan diam.
Ketimbang Mila membuat ibu mertuanya di penjara, lebih baik ia pikirkan lagi rumah tangganya kedepannya harus dihentikan, sebab memaafkan tidak lah mudah bagi Mila saat ini.
'Maafkan aku Kenan, aku tidak tahu langkah yang harus aku ambil, jika kenyataan mama Mu, benar benar penculiknya.' deru batin Mila, menetes air mata begitu saja, lalu menoleh ke arah wajah kedua anak anaknya yang asik menonton kartun dengan penutup kuping rapat.
TBC.
Oh, iya Author buat Cerita New, pengganti Mila nanti, yuks mampir!!
Masuk Rak dulu boleh, sambil tunggu Up banyak.
Happy Reading All.
__ADS_1