
"Mila .. Mila .." teriak Kenan, dimana ia tak menemukan kekasih hatinya.
"Mbak, yang tadi sama saya kemana ya, istri saya yang tadi milih gaun, ke arah itu sama mbak kan?"
"Maaf pak, tadi saat saya ambilkan gaun gold, mbaknya enggak ada. Saya pikir tadi keluar ke arah sana, dan maaf saya pikir hampiri bapak."
Kenan nampak menghubungi Mila, yang anehnya tak di angkat angkat. Kenan segera berjalan sambil mencari keberadaan Mila, lalu mencoba menghubungi Heru, yang mana Kenan sedikit bingung, tidak mungkin Mila meninggalkannya.
Langkah dan sambungan telepon Kenan matikan, dimana ia menatap heels berukuran mini, berwarna cream yang Kenan kenali. Maka saat ia hampiri, itu adalah sepatu Kiri Mila, dimana ia mencoba mencari security untuk mencari istrinya.
"Pak, tolong cepat saya minta cctv. Saya yakin istri saya dalam keadaan bahaya."
"Pak, kita ke bagian pengumuman dulu ya, kita ke ruang informasi untuk memanggil nama istri bapak. Selanjutnya baru saya bawa bapak ke ruang cctv untuk lebih lanjut."
"Pak tolong ya! saya yakin dengan keadaan istri saya. Mohon cepat kerahkan cctv sekarang juga!"
Dimana Kenan sedikit mengernyit, dan tak enak hati.
"Mohon maaf pak, tapi semua ini sesuai prosedur. Lagi pula, sedikit aneh karena yang hilang biasa anak anak tanpa pengawasan, atau istri bapak pulang duluan mungkin." cetus security membuat Kenan geram.
"Tolong yang pak, tugas bapak itu apa. Jangan membuat saya panas, naik darah. Saya benar benar khawatir pada istri saya." sentak Kenan, membuat security itu meminta maaf dan segera ke ruang monitor, dan nampak salah satu temannya ke bagian pengumuman.
Kenan dengan berat hati, ia segera mencari ke lantai lain. Di mana pengumuman itu terdengar ke telinga Saputra, Rini dan Heru. Nampak sekali panggilan terdengar itu amat keras, dan dengan berat, hal itu terpaksa membuat Kenan mengangkat telepon papa mertuanya.
"Kenan apa pengumuman itu Mila kita?"
"Maaf pah! tapi Kenan juga bingung, Kenan baru sadari saat sepatu Mila sebelah ada di pintu gudang menuju balkon atas."
"Bodoh, kamu sudah cari."
"Sudah pah, tapi Kenan meminta cctv security meminta Kenan untuk melakukan prosedur."
Ah, dasar bodoh! harusnya kau bilang sama papa!!
Tut.
__ADS_1
Saputra terlihat geram, ketika Kenan sedikit alot. Dimana kedua anak anak Mila bersama Rini di area wahana, sehingga ia berbicara besar pun tidak akan terdengar.
"Heru, kerahkan intel naungan pak Toms, kalau perlu FBI atau CIA, minta bantuan petinggi Krien Albert untuk mencari keberadaan putriku pada bawahannya semua. Jika petugas berseragam itu sedikit alot, keluarkan semua uang untuk membayar mereka, temukan putriku saat ini juga!"
"Baik pak." dan Heru segera mengeluarkan benda pipih itu.
"Putriku tidak boleh benar benar hilang, begitu jahatnya. Apa motifnya dia bisa menculik putriku." lirihnya.
Sesak sekali saat ini Saputra, kakinya benar benar kehilangan kekuatan yang pas. Dimana sosok Rini dan kedua anak anak mendekat ke arah kakeknya.
"Kakek, kenapa kakek sakit?"
"Ah, tidak sayang. Kakek hanya letih saja, kalian tinggal sementara waktu di tempat kakek mau ya?" penuh harap, dimana Saputra tidak ingin kedua cucunya juga ikut celaka.
"Putra, ada apa dengan semuanya?"
"Kemarilah mendekat Rini!"
Awalnya Rini enggan, karena berbisik bagaimanapun mereka bukan lagi sepasang suami istri seperti dulu, namun kode Saputra pada kedua anak anak, membuat Rini paham agar tidak di dengar mereka.
"Apa .. enggak mungkin kalau Mil.."
"Sssst!"
Nampak Saputra senyum, lalu Rini kembali menggenggam tangan Kanya, dan Bima. Yang mana kedua bocah itu nampak melirik ke arah lain.
"Nenek, ayo kita susul Bunda. Bunda pasti cantik pakai gaun pernikahan."
"Iya nek, Bima juga ga sabar pengen lihat bunda!" ajaknya, seolah membuat tiga mata dewasa kebingungan, dengan menahan sesak khawatirnya.
Tak lama Kenan pun datang, hal itu membuat Rini geram dan menatap tajam.
"Kok bisa sih Kenan, kenapa Mila hilang?" teriaknya membuat Kanya dan Bima menoleh terdiam.
"Bunda .. bunda hilang. Ayah kenapa sama bunda?" teriakan Bima, membuat Kanya menangis saat itu.
__ADS_1
Huhuhu .. tangis Kanya pecah.
Saputra langsung menenangkan Bima dan Kanya, dimana mereka segera di ajak ke dalam mobil.
"Sebaiknya kita bawa pulang anak anak pah. Bu, boleh Kenan menitip anak anak?"
"Iya, lalu gimana kerjaan kamu malam ini?"
"Kenan akan meminta izin, meski .. sudahlah bu, yang jelas Mila lebih utama. Kenan akan mencari bersama pak Saputra dan tim khusus yang lain."
Masih saja di perjalanan, Bima dan Kanya menangis saat itu. Hingga mendapat pelukan bu Rini, yang saat itu meminta kedua cucunya jangan menangis.
"Sabar ya sayang, bunda pasti pulang, cepat di temukan. Nenek akan jagain kalian sampai bunda pulang.
"Nenek ga bohong kan?"
"Enggak sayang."
Sejujurnya Rini telah menonaktifkan ponselnya, dimana suaminya meminta Rini pulang segera, namun dengan kondisi putrinya yang hilang jika dijelaskan sekalipun, Dave tidak akan mengerti, mangkanya Rini menonaktifkan ponselnya untuk sementara waktu.
Beberapa Jam Kemudian.
Dimana pihak kantor polisi swiss, mendapat laporan dari Yellow Notice, dan BPN .. dimana Kenan memberikan visa kehilangan sang istri. Dan hal itu membuat gempar, dengan pengaruh Saputra dan orang pemerintahan lainnya, yang mengenal namanya. Membuat pencarian tidak perlu menunggu 1x24 jam pada umumnya, hal itu tetap saja membuat Kenan dengan mata merah mencari cari Mila, padahal ia sudah kembali ke Grand, tetap saja nihil tak ditemukan cctv karena terjadi problem.
'Aneh, cctv bersamaan ada masalah. Benar ini adalah orang dalam, dan dari orang yang mungkin terdekat yang mencelakai istrinya.'
Berkali kali Kenan mendapat pesan dari bandara, jika ia izin tidak bekerja lagi, maka pemecatanlah yang Kenan dapatkan, Kenan menonaktifkan dimana ia hanya ingin Mila kembali dan tak lagi Kenan menerima panggilan dari siapapun.
"Sayang, kamu dimana. Maaf aku lalai, harusnya tadi aku tidak menerima telepon." lirihnya penuh sesal di wajah Kenan.
TBC.
Sambil tunggu Up, yuks mampir ke novel temen litersi Author.
__ADS_1