
Kenan yang berambut basah, segera hampiri kedua anak anaknya yang seputih susu, setampan artis hollywood, perpaduan kulit inggris berwarna pink merona, membuat Kenan takjub, kala jendela terbuka mengenai wajah kedua anak anaknya.
'Maafkan ayah! Semalam bunda pasti kelelahan membereskan, dan perjalanan terlalu lama. Jadi kali ini, maafin Ayah dan Bunda yang tidur terlelap ya nak!'
"Oke. Ayah." senyum menampaki gigi, saat Kanya dan Bima menggemaskan.
Kecup Kenan, pada kedua tangan mungil anak anaknya itu. Mila merasa tenang, ketika Kenan menjawab yang masuk akal, jelas jelas tadi ia sempat kebingungan untuk menjawabnya. Ah! sudahlah, begini rasanya mempunyai orangtua lengkap, bagi Mila setiap apa yang ia tidak bisa handle, maka pasangan lah yang membackup. Benar benar pasangan itu saling melengkapi.
Kenan meminta kedua anak anaknya duduk menunggu sarapan, bahkan kali ini Kenan memakai celemek turut merampingkan tangan nakalnya pada lingkar pinggang Mila. Membuat Mila gagal fokus ketika Kenan turut membantu.
"Kamu mau apa, biar aku buatkan."
"Aku mau bantu istriku buat sarapan, kasihan sudah lelah. Nanti aku suruh asisten datang ya, untuk membantumu bersih bersih."
"Berlebihan, lagi pula aku bisa."
"Tidak, urusan pembersih, kita pakai jasa. Aku enggak mau kamu lelah sayang, tugasmu adalah menjaga kedua anak anak, dan menjaga hatimu selalu untuk suamimu."
Cih.
Kata kata gombal rayuan Kenan, lagi lagi membuat Mila senyum senyum sendiri. Bahkan tak habis habis, Kenan tampan paripurna ketika memotong ikan, bagai chef yang tebar pesona. Hingga Kanya dan Bima naik, ke meja kitchen Set, sakin ingin melihat dekat ayahnya memasak.
"Ayah keren."
Eits!
Anak cantik dan anak tampan, tetap tunggu di meja makan. Dapur area ini berbahaya, dan banyak benda tajam. Tunggu 20 puluh menit, ayah akan membuat sup ikan.
"Ayah, itu ikan apa?"
"Iya ayah, Bima jadi ga sabar deh."
"Hari ini biarkan ayah yang memasak, bunda bantuin ayah siapin piring."
"Kalian ga sabar ya nak! Sama bunda juga, kita lihat apa yang ayah buat. Apakah nilainya lebih tinggi dari bunda?" menoel Mila, ketika meledek Kenan.
"Cih, kamu meragukan aku istriku. Sudah pasti nilai kamu rendah 3 poin, aku itu koki terhebat. Anak anak, Ayah akan buat sup ikan patin, ini bagus untuk usia seperti kalian, dan tentunya untuk ibu hamil." tambah ledek Kenan melirik.
Eh.
Mila mengrenyit, padahal ingin berdebat tapi tak jadi marah ketika kedua anak anaknya seolah bingung menatap aksi orang dewasa mirip bertengkar. Kenan memotong ikan, melirik anak anaknya dan tawa penuh.
Hehehe.
"Maksud ayah, siapa tahu bunda Hamil. Apakah Kanya dan Bima suka jika tambah satu adik?"
__ADS_1
Deg.
Kanya, Bima terdiam dan menunduk, kala pertanyaan Ayah hampir membuat mereka sedih.
"Uh sayang, maafkan Ayah jika membuat kalian tidak senang ucapan ayah tadi, akan ayah tarik kembali."
Kenan setelah mencuci tangan, hampiri Bima dan Kanya.
"No, apakah adik itu bayi kecil. Apakah kita tetap di sayang, jika kita punya adik?" tanya Bima, membuat Mila berkedip menatap suaminya itu.
"Bima, kenapa bicara gitu. Ada adik atau tidak pun, kalian nomor satu. Kasih sayang dan perhatian bunda, akan terus bertambah."
Bima dan Kanya seolah berfikir, maka dari itu ia menoleh kembali pada bunda Mila dan Ayah Kenan.
"Ok. Sepakat, kapan Bima dan Kanya punya adik ayah?"
"Iya ayah, Kanya mau adik sekarang. Apa kita bisa beli di swalayan?" ujar Kanya, membuat tatapan Kenan kebingungan.
Deg, hati ingin tertawa tapi melihat raut wajah Mila, seolah Kenan yakin istrinya itu tidak siap.
'Ah, maafkan ayah yang salah berucap. Adik itu tidak seperti Kanya dan Bima membeli susu di swalayan. Sebaiknya Kanya dan Bima berdoa saja, doa kalian insyallah akan ada adik di perut bunda.' bisik Kenan membuat kedua anak anaknya mangut.
Kenan berdiri lagi, sesaat ingin melihat ikan yang ia kukus, sementara Mila mengaduk bumbu sup ikan.
"Bunda, ayah. Kalau adik dari perut bunda, kenapa bisa adik di dalam perut bunda. Emang enggak bisa lahir seperti kita langsung, biar kita bisa main bareng?" tanya Kanya.
"Aduh, bunda pengen pepsi. Sebentar bunda sekalian mandi ya nak. Kanya dan Bima, tunggu disini ya. Sama ayah, lihatin Ayah masak. Oke!"
"Oke bunda." teriaknya membuat Mila bergeser pergi, melambai pada Kenan yang nampak pucat saat itu juga di tinggalkan.
Kenan menjelaskan dengan banyak hal soal ikan patin, melupakan pertanyaan Kanya dan Bima tadi. Juga membuatkan sandwich dan susu untuk kedua anak anaknya sarapan.
Hingga Beberapa Saat Kemudian.
Kedua anak anak bosan menunggu sang ayah masak, Kanya bermain boneka dan menonton televisi, sementara Bima bermain bola dengan rak jaring yang terpajang di dinding, di sebelah Kanya.
Setelah di rasa selesai, Kenan menyiapkan di meja makan. Kenan berbicara untuk kedua anak anak menunggu, sebab Kenan ingin memanggil Mila.
"Sayang, setelah itu matikan televisinya. Cuci tangannya, lalu bersiap duduk di meja ya!Ayah panggil bunda dulu."
"Iya ayah." serentaknya.
Kenan masuk ke kamar, mendapati Mila yang sedang memakai toner tipis, parfum tercium membuat Kenan berganti kaos karena tadi ia memasak sedikit bau.
"Sayang, ayo anak anak sudah menunggu. Masakan sudah siap."
__ADS_1
"Eum, makasih suamiku."
Mila berdiri, lalu saling berhadapan membuat Kenan menarik tubuh Mila erat, bersandar pada dinding memiringkan wajahnya.
'Wangi, entah kenapa aku ingin selalu dekap kamu Mila, rasanya aku bekerja berat sekali.'
'Kenan, aku sudah jadi milikmu. Jangan seperti ini. Ayo kita ke bawah!' ajaknya.
Sreeth.
Kenan dengan kilat, membuat pelukan dan mengecup ranum Mila begitu saja, seolah Kenan membutuhkan asupan sarapan biologisnya. Mila mematung menahan, hingga Kenan merebahkan Mila ke sofa, diatas pangkuannya dalam beberapa detik menikmati amat dalam, hingga membuat rambut Mila yang basah sedikit berantakan.
'Kenan, anak anak pasti menunggu.' bisik nya, ketika Mila merasakan benda padat itu mengeras.
"Baiklah, maaf sayang. Aku hanya butuh asupan, nanti malam aku harus pergi. Jaga diri kamu dan kedua anak anak, jangan keluar di area Swiss tanpaku."
"Siap bos Kenan." senyum Mila, hingga saat itu Mila yang akan berdiri, di hentakkan jatuh tepat pada milik suaminya.
Auw.
"Ken, .."
"Hahaha, ayolah. Anak anak sudah menunggu, kenapa kamu selalu membuatku terlambat Mila. Kamu nakal." gerutu Kenan, melirik Mila lebih dulu pergi mendahului.
Cih.
'Benar benar pria gombal, dia yang nakal aku yang disalahkan.' gerutu Mila mengekor.
Hingga sampailah pada meja makan, terlihat kedua anak anaknya masih sibuk bermain.
"Anak anak, ayo sayang!" teriak lembut Kenan.
Tak lama Kenan menatap ponselnya yang berdering, terlihat jelas bibi Roh mengirim pesan meminta bantuan pada Kenan, atas nama Shela.
"Sayang, apakah bibi mengirimkan pesan?"
"Sebentar aku lihat dulu, oh. Iya, tunggu bibi menanyakan data Shela, sayang. Maaf apa Shela anak angkat pak Saputra?" tanya Mila, membuat Mila menatap intens Kenan.
"Aku malas sebenarnya jika kebahagiaan kita, harus ada nama Shela." duduk Kenan, seolah tak bersemangat.
"Kenan, apa mungkin bibi Roh menemukan anak aslinya, lalu .. " terdiam Kenan dan Mila memandang.
"Kita makan dulu ya! Kita bicarakan nanti setelah kita pulang." ujar Kenan, di anggukan senyum Mila.
Hingga kedua anak anak menghampiri dan duduk rapih, membuat Mila menyendokkan makanan, sarapan bersama.
__ADS_1
'Uaah, kayaknya buatan Ayah lezat ya?' senyum Mila, banyak mengoceh agar mood Kenan kembali naik.
TBC.