
Semalaman Mila masih bingung untuk menemui Kenan, terlebih alasan dirinya yang masih terus saja takut, takut ketika satu pria bisa bisanya mengancam dengan bicara tidak menyentuhnya.
'Sebenarnya dia itu siapa ya? kok bisa bisanya awasi kediaman aku. Kalau aku pergi, apa tidak bahaya bagi kedua anak anakku.' batin Mila bergumam.
Tredeth!
[ Bu Mila, kami sudah membawakan mobil untuk anda pakai! anggap saja tanda terima kasih jika, bu Mila ingin bertemu tuan Kenan. ]
'Hah, tidak asisten tidak Kenan. Benar benar membuatku rumit.' ujarnya Mila, menutup email.
"Bunda aku mengantuk, apa bunda mau pergi?" tanya Kanya. Di ikuti Bima yang menghampiri, kala Mila tengah menengok jendela dan kembali menutupnya.
"Ayo, kita ke atas sayang!"
"Bunda kata bibi mau pergi ya?" mendapat pertanyaan, membuat Mila menggeleng kepala.
Mila terdiam dan bertumpu menatap wajah kedua anaknya. "Ayo sayang, sudah malam besok kita bicarakan lagi ya. Karena bunda belum mendapat balasan! tapi kalau Bunda jadi pergi, bunda pasti pamit sama anak anak bunda yang cantik dan ganteng, kalau bunda pergi jangan keluar rumah dan buka pintu ya!"
"Oke bunda." serentak.
Mila telah bersandar dan menidurkan kedua anaknya, ia meminta mobil baru itu tetap ditutupi dan tak akan pernah memakainya tanpa kejelasan. Mila takut akan hal terjadi kesalahpahaman. Ia pun segera ikut tidur dan terlelap. Tapi baru beberapa menit dering ponsel bergetar, Mila mematikan nama yang terpampang siapa yang menghubungi.
"Dasar asisten gila, lihat jam sebelas malam. Apa dia mau menyuruhku ke rumah sakit!"
Mila pun membalikan ponselnya dan otomatis menolak panggilan, sejujurnya ia masih takut keluar rumah akan kejadian tadi sore yang ia lihat sendiri, bahkan jika bertemu Shela atau inggrid, ia tidak ingin kedua anak anaknya terlibat di celakai, hanya karena menemui Kenan.
Sementara Di Rumah Sakit.
"Bagaimana di angkat?"
Heru menggeleng, ia meletakan ponsel dan melemparnya ke sofa. Heru ingin menahan tawa melihat bosnya itu yang sadar meminta Mila segera datang. Rupanya wanita yang membuat hatinya gundah wanita keras kepala yang sulit menerima cinta itu benar adanya.
Heru sebagai sahabat dan asisten yang sudah berpuluh tahun mengenal, baru kali ini ia selalu mendapat penolakan apalagi mendapat reject dari seorang wanita, sungguh sangat mustahil.
"Tutup mulutmu, Jika tidak ku potong gaji mu selama setahun!"
__ADS_1
"Tapi kenapa anda harus berpura pura amnesia, Kenan?" tawa Herman.
"Diamlah! kepalaku memang sakit, aku hanya ingin membuat Drama, dimana aku ingin menjebak seseorang dan mengungkap kejadian yang aku tahu." jelas Kenan saat itu.
Heru terdiam dan menutup rapat tak menertawakan. Tapi setelah Kenan menghilang mungkin ke toilet. Ia kembali membuka mulutnya untuk menertawakan. Tapi sebuah bantal kecil menyambar ke wajahnya.
Plaaagh.... Deal. Setahun tidak digaji!
Heru terdiam, ia membungkuk dan menoleh berkata, "Tapi itu perjanjian tidak seperti tadi Ken, lagi pula aku masih bisa mendapat gaji dari tuan Saputra." ledek Heru.
"No. sudah sepakat perjanjian berubah berapa detik lalu." balas Kenan meninggalkan ruangan, melewati Heru dengan gaya cool.
"Kembali berubah menjadi iblis pemotong Gaji," ketus Heru.
"Eh, kau mau kemana Kenan?" tambah Heru yang melihat Kenan keluar pintu.
"Mencari pop mie, di kantin dan cari makanan enak lainnya. Di rumah sakit ini apa tidak ada?"
"Jangan bodoh! jika Mila benar datang, dan kau berjalan jalan bagaimana?"
"Benar juga, ya sudah belikan aku hot pot spesial. Burger dan kentang! rasanya makanan rumah sakit ini sangat pahit!"
"Kenapa jadi aneh, bukannya tadi popmie?"
"Sudah berubah dua detik lalu." seringai jahil Kenan.
"Baiklah, akan aku beli sepahit perjalanan cintamu kan." ledek Heru, lagi lagi. Membuat Kenan menatap tajam.
"Oke! aku belikan." teriak Heru melambai tangan.
***
Esok Harinya.
Mila saat ini dan kedua anak anaknya sedang berada di taman, membawa satu paperbag yang entah apa isinya. Karena kedua anaknya mengajak dan katanya kejutan, sehingga Mila mengangguk tak menolak.
__ADS_1
"Mau kemana sih sayang, bunda mau di ajak kemani nih?" tanya Mila saat itu, mengejar kedua anak anaknya di taman.
"Tunggu sebentar bunda, kita menunggu seseorang lagi sedang dalam perjalanan."
Sontak membuat Mila menaikan alis, lalu menggelitik Bima. Dan bergantian Kanya.
"Memang masih menunggu siapa sih, bunda cuma ajak kalian main aja loh, kenapa harus surprise segala. Mau tunggu bibi ya dari pasar, Bima dan Kanya mau bantuin kantong plastiknya ya?"
"Hihihi .. enggak dong Bunda salah deh, Bunda tutup matanya sebentar!"
Mila menuruti kedua anak anaknya, sebenarnya ia juga bingung kenapa kedua anak anaknya bisa seperti ini.
'Apa Deva udah kembali, dari Singapore?' batin Mila saat itu.
"Tuh dia kak, mobilnya udah dateng. Kak Bima enggak lupa bawa hadiah kita kan, buat dikasihin." bisik Kanya, yang masih ditutup matanya oleh tangan mungil Kanya.
1 ..
2 ..
3 ...
"Surprise .. Bun! itu Om Heru, dah dateng jemput, Om ... Om, paman Kenan nya dimana?" teriak riang Bima.
Hah!
Mila terkesiap kaget, dimana kedua anak anaknya mulai dilibatkan masalah orang dewasa, padahal Mila sendiri belum menerima jawaban untuk datang ke rumah sakit.
"Maafkan saya bu Mila! saya menghubungi nomor rumah, dan Bima yang angkat. Lalu saya mencoba menjelaskan, apa bu Mila akan ikut ke rumah sakit sekarang?" tanya Heru, yang kala itu Bima dan Kanya sudah di depan mobil.
"Ayo bunda .." teriak Kanya.
Menarik nafas, apa yang sebenarnya terjadi, kala kedua anak anak Mila benar benar sudah akrab dengan Kenan.
TBC.
__ADS_1