
Bola mata dua raja dan ratu, menghiasi senyuman lebar pada siapa yang datang, dia adalah seorang ibu yang dirindukan kedua bocah itu.
Bunda ... Kanya kangen berat.
Bunda ... Jangan hilang dari kami ya bunda! Bima janji, kalau udah besar bakal jagain bunda dari orang jahat, terutama kalau ayah tinggalin bunda, Bima bakalan tegas.
Gleuk.
Mila mendongak, sedikit ditertawai oleh Saputra dan Rini, apalagi aksi Heru yang seolah melihat Kenan, di ancam oleh bocah berusia 5, 5 tahun itu.
"Hey, sayang. Kenapa seperti itu sama ayah, Ayah enggak ninggalin bunda loh." bisik Kenan, ia sedikit berjongkok, mengimbangi jajaran putranya.
"Bunda .. Ayah bohong, soalnya Ayah udah tinggalin Bima, waktu cari bunda. Kata Ayah Bima kalau mau ikut makan dulu, eh pas nenek ambil makanan, Bima mau makan Ayah udah pergi." bisik nya yang suaranya sedikit nyaring, terdengar Kenan.
"Iya bunda, ayah tinggalin kita. Pokoknya Kanya juga mau ikut marah kaya kak Bima." cetusnya dengan wajah menggemaskan.
Oh .. Astaga!! marah kok bilang sayang. Tertawa Rini menatap tingkah kedua cucunya.
"Sayang, Bima dan Kanya. Maaf, Ayah panik. Sehingga melupakan kalian, lagi pula saat tadi Ayah pergi, ada banyak yang Ayah pikirkan. Maafkan ayah ya!" Kenan mengulurkan kelingkingnya, nampak kedua bocah itu masih merajuk.
"No."
Saputra menggeleng kepala, dimana Rini datang berbicara, jika kedua anak anak tidak mau makan sampai bertemu bundanya.
"Mila, syukurlah kami semua mencemaskan kamu. Beristirahatlah sekarang! biar anak anak ibu yang jaga sampai kamu benar benar pulih, dan anak anak. Janji sama nenek, Bunda udah kembali, sekarang makan ya nenek temani."
__ADS_1
"Iya Nek."
Kanya dan Bima memeluk Mila, masih mode mengacuhkan Kenan, yang mengusap kepala dua bocah itu bergantian, tapi terlihat enggan dipegang, rupanya masih marah.
"Anak anakku, kenapa kalia lama sekali merajuknya. Ayah minta maaf nak!" teriak Kenan, kala kedua anak anak pergi dengan bu Rini ke arah dapur menghiraukan Kenan yang meminta maaf.
"Kamu harus bersemangat meminta maaf Kenan, karena kamu melupakannya dan janji, anak anak jadi menandai kamu pembohong."
"Sayang, kamu tahu. Aku tidak membuat janji, ah maksudku pasti karena pikiran dan pikiranku saat itu tidak sinkron, jadi salah ucap. Lagi pula mencarimu membawa mereka, itu adalah hal tidak baik."
"Apapun alasannya, kamu tetap harus meminta maaf, dan berjuang lagi. Aku punya ide." bisik Mila, membuat Kenan mengerti dan menurut.
Setelah itu, Saputra terlihat menghubungi seseorang, yang sepertinya memesan makanan untuk mereka makan bersama, dimana Mila saat ini berada di kamar, yang di minta Saputra untuk merawat Mila dan mengganti perbannya.
Heru yang membantu sang tuan, ia nampak terkejut ketika pesanan tuan Saputra banyak sekali. Dimana beberapa puluh menit, sudah ada pizza, burger, minuman starbuck dan coffe dari Americano dengan menu premium secret recipe yang banyak sekali. Kue kering, roti lapis dan lengkap sekali membuat Heru menelan saliva, seperti akan pesta saja.
"Kenapa, apa yang salah?"
"Pesanan ini banyak sekali, apa akan kedatangan tamu?"
"Yah, jam sembilan kita akan makan malam. Setelah itu pak Kriens dan ajudannya akan hadir terkait kasus Mila. Sebagian untuk para tamu, tolong bantu saya menata Heru. Sebab di kediaman ini tidak ada asisten rumah tangga."
"Baik Tuan, tapi kita bisa memesan asisten harian, saya punya kontak yang .." terdiam Heru, ketika sorot mata tajam Saputra ke arahnya.
"Tidak ada asisten asing disini, putriku sudah celaka satu kali, bagaimana jika asisten itu orang suruhan dan berbahaya, yang akhirnya akan ada tragedi Mila dan kedua cucuku, putriku dan kedua cucuku harus mempunyai ajudan masing masing untuk menjaga mereka 24 jam." cetus Saputra membuat Heru terdiam.
__ADS_1
"Baik Tuan."
Heru mencoba menarik nafas, dimana pekerjaannya adalah asisten kantor bak tangan kanan, kini harus menata makanan di bagian dapur!
'Hah, nasib pekerja seperti ini. Mengenaskan sekali nasibku.' gerutu Heru, dalam batinnya.
***
Esok Harinya.
Sementara di berbeda tempat, keadaan Shela kini semakin mengenaskan, entah dimana nasibnya kini. Yang jelas, ia saat ini berada di sebuah tempat, yang bukan lagi alu lalang dedaunan yang rindang, dan duri duri liar yang bisa saja menancap pada area kaki dan tubuh lainnya.
"Ah, dimana a- aku?" rintih Shela.
"Apa kamu baik baik saja putriku?"
Suara keras, membuat Shela menoleh, mengerjapkan manik manik matanya saat ini. Dimana ingin senyum tetapi sulit karena luka perih pada area wajah sampingnya itu.
"Apa itu pa-pa?"
"Papa, tolong aku pah! wajahku pasti mengerikan, bagaimana dengan reputasi papa kelak, jika aku saat ini seperti ini?" lirihnya, dimana Saputra terlihat mendekat ke arah Shela dengan intens.
TBC.
Sambil tunggu Up! yuks mampir ke novel temen litersi author jika berkenan.
__ADS_1