
Mata elang Mila yang sendu, melihat seseorang yang tak asing. Lagi lagi Mila menelan saliva, ketika Dirga datang. Padahal Mila tidak begitu akrab dengan Dirga, yang hanya seorang karyawan bank. Melainkan Mila mengenalnya lewat Deva.
"Dirga, kamu kenapa disini?"
"Mila, aku datang. Mencoba hubungi Kenan, dia pastinya tidak dapat sinyal. Tapi bibi Roh menghubungiku, aku hanya amanat dari Deva yang kini di Singapore. Dia mengirimkan pengacara, agar dirimu bebas wajib lapor saja."
"Dir, ini berlebihan. Tapi aku benar enggak bersalah, ini fitnah."
"Mila, tenanglah. Aku bahkan percaya padamu. Ingat aku, Deva bantu karena kedua anak anakmu, tidak ingin sampai kamu menginap disini, kasian jika sampai kamu berada disini!"
Nyes!
Mila amat terharu, tapi lagi lagi di posisi seperti ini, Mas Deva dan Dirga lah yang selalu menolong Mila, bahkan kebaikan mereka saja, semenjak Mila terusir, hamil demi mendapatkan identitas kedua anak anaknya bisa sekolah, bisa dikatakan tidak akan ada yang sangka, jika Kedua anak anaknya, anak yang lahir di luar nikah, yang sewaktu waktu memerlukan apapun akan sulit.
"Dirga, aku benar benar tidak tahu. Bagaimana untuk membalas budi semua kebaikan .. huuu." Mila yang ingin menangis deras, pecah tertahan.
"Bersiaplah! duduklah dengan tenang. Setelah ini aku antar kamu pulang. Jika ingin berterimakasih, kamu hubungi Deva saja. Sebab aku hanya perantara, semua nya Deva yang atur." jelas Dirga.
Mila yang duduk menurut, rasanya berada di ruang pihak berwajib adalah hal tersulit dari dirinya menjalani kehidupan yang melahirkan kedua anak anaknya tanpa sosok pria, jika tidak ada Dirga dan Deva. Mungkin Mila akan selalu dihina oleh para warga, mungkin Mila akan selalu tertekan karena anak anaknya akan dibully sebagai anak haram.
Dirga tersenyum, baginya melihat Deva yang sedang menata hati, dirinya yang tidak menerima kenyataan jika dirinya benar benar tidak mendapat restu oleh ibunya memperjuangkan Mila untuk hidup bersama, seolah pupus. Sehingga baktinya pada ibundanya, ia fokus bekerja dan menetap di singapore. Sebagai gantinya adalah meminta Dirga untuk membantu kesulitan Mila.
Dirga dengan seorang pengacara pun berhasil membawa Mila bebas dengan uang jaminan. Meski begitu, tetap saja Mila harus wajib lapor, setidaknya Mila hanya berada di ruang interogasi selama beberapa jam, tidak sampai masuk ke jeruji besi.
"Ini surat pembebasan kamu Mila. Soal wanita bernama Shela, aku sudah hubungi Rey. Dia masih ipar kamu kan? kita akan buat perhitungan untuknya."
__ADS_1
"Dir, tapi aku tidak mau sampai kalian membalas, biarkan saja. Sudahi saja, hanya saja dia memang tidak suka karena .." terdiam Mila.
"Si kembar udah bilang sama aku, hebat ya. Anak anakmu itu genius, sejauh kamu pergi. Tapi takdir membawamu kembali Mil. Kedua anak anakmu yang membawamu beberapakali pada pria yang kamu anggap khianat. Percayalah, jika kamu tidak mencintainya. Pasti kamu memilih di arak, ketimbang menikah paksa kan?" goda Dirga.
Deg.
"I-itu .." gugup Mila.
"Ini surat dari Deva, aku hanya bisa antar sampai depan rumah. Di kartu nama itu ada nomor pengacara yang bakal bikin kamu bersih dari tuduhan wanita licik itu, jadi have fun. Tersenyum jangan lupa bahagia!" ujar Dirga.
Mila senyum, mengambil surat dari tangan Dirga. Hingga ia keluar dari mobil, dan tepat sampai pada gerbang pintu rumahnya yang menutup.
"Bye. Makasih Dirga."
"Sama sama. Salam buat anak anak ya Mil."
Mila merasa aneh saat ia menerima surat dari Deva, padahal dia adalah pria sosok yang berjasa dalam kehidupan terpuruk Mila.
"Astagfirullah." Mila mencoba sadar, dari lamunan yang harusnya tidak boleh. Jujur Mila statusnya sudah menjadi istri seorang pilot, sosok yang pernah ada dalam hatinya, meski pernah tergores.
Kenan, sedang apa dia disana. Maaf Kenan, aku belum bisa menjadi istri panutan yang jauh dari kata istri terbaik. Bahkan setiap ada masalah, Mila tak ingin melibatkan Kenan yang masuk menjadi rumit. Bahkan kali ini Mila merasa canggung, merasa pernikahan kemarin itu benar benar bukan nyata.
Kehidupan setelah pernikahan kemarin pun, masih sama saja tidak ada yang berubah.
Berbeda Dengan Kenan.
__ADS_1
Bandara internasional di Zürich.
Swiss dengan kode IATA ZRH dan kode ICAO LSZH, Pilot Id xx771 Kenan Athariq.
Kenan telah mendarat dan menuju hotel, di mana setelah selesai bertugas. Ia akan beristirahat.
Dimana hotel mereka, tidak jauh dari danau Jenawa.
Kenan sendiri menarik koper hitamnya, entah sudah beberapakali ia menelpon Mila, tidak mendapat jawaban. Hingga akhirnya ia menelepon rumah, tapi masih saja tidak terangkat.
'Angkat dong Mil, apa kalian sedang tidak ada di rumah?' deru batin Kenan, yang sudah tidak enak hati di saat ia lepas landas dan landing di tempat tujuan.
"Cih, lihat saja setelah aku pulang. Aku pastikan kamu aku bawa Mila. Bersama kedua anak anak kita, aku belikan rumah di dekat danau Jenawa impian kita, agar aku pulang. Aku akan disambut olehmu. Bisa bisanya sudah status menikah tapi kamu terus saja membuatku cemas, tidak fokus bekerja jika aku seperti ini." lirih Kenan, entah bicara pada siapa.
"Pak Kenan." panggil Sesil, seorang pramugari yang mengekor sejak tadi memperhatikan Kenan berjalan lurus.
Ya! Datar Kenan, dimana Sesil memberikan kode kartu isyarat nomor kamarnya.
"Ada waktu ngeteh bareng, kamar kita satu lantai. 0699." senyum Sesil menggoda, dan pergi melewati Kenan yang sejak tadi menaikan alis.
Cih.
Kenan pun acuh, setelah membuang kartu tanpa ia baca, dari rekan kerjanya. Dan ia kembali berhasil menghubungi Mila, namun saat itu bukan Mila yang mengangkatnya.
"Hallo .. Apa ..?!" sarkas syok Kenan, yang feeling tidak enaknya membuat Kenan berputar arah, dengan langkah kakinya ia segera cepat ingin pulang.
__ADS_1
TBC.