Baby Genius Sang Pilot

Baby Genius Sang Pilot
DI SABOTASE KENAN


__ADS_3

"Rey itu siapa Mila?"


"Itu bukan urusan bapak! Jadi saya minta bapak pulang."


"Tunggu Mila, lagi pula saya datang hanya menitip ini." Mila terdiam, lalu mengambilnya. Ia tidak ingin kedua anak anaknya terlihat oleh Kenan, apalagi sosok Kenan bisa dekat dengan anaknya.


Kenan pun pergi, setelah memberikan sebuah undangan, dan Mila masuk menutup pintu. Ia berdiri mengingat semua kejadian masa paitnya sebelum terusir orangtuanya.


"Apa maksud ibu, aku nikah sama dia?"


"Iy nak, dia baik kok." ucap ibu.


“Menikah dengan Rey?”


“Iya Mil, itu adalah wasiat terakhir kakekmu sebelum dia berpulang.”


Mila termangu dalam beberapa detik wanita manis dengan kulit seputih susu itu terkejut bukan kepalang mendengar perkataan ibunya.


Menikah? dan desusnya itu dengan Rey, cucu sahabat sang kakek, oh tidak! Mila bahkan tak pernah membayangkan hal ini sebelumnya.


Bahkan Mila saja tidak cukup mengenal bagaimana Rey yang Mila ketahui, lelaki itu hanyalah seseorang yang dekat dengan ayahnya sewaktu sakit dahulu, selebihnya Mila tak tahu apapun tentang dia, lalu bagaimana bisa saat ini Mila harus menikah dengannya? sementara ia menutup diri, karena patah hati, selepas party dan kehamilannya yang ingin sekali Mila gugurkan.


“Tidak bu, aku tidak mau!”


Sang ibu menghela nafas, wanita parubaya itu sudah menduga bahwa putrinya pasti tidak akan mudah setuju dengan perjodohan ini.


“Mila, jika kamu tidak menuruti wasiat terakhir kakekmu, kasihan ayah nak, keluarga mereka sudah banyak membantu "


“Bu, Mila tidak terlalu mengenal Rey itu kan disukai teman Mila. Mila tidak bisa menikah dengannya, karena ..!”


“Mila, Rey itu lelaki yang baik, selama dua tahun belakangan ini dia yang telah membantu ayahmu, mana bisa di katakan tidak baik. Ibu yakin dia bisa menjadi suami yang baik untuk kamu nak. Apalagi ia saat ini berprofesi intel hukum selain membuka banyak klinik apoteker.


Mila mengusap kasar wajahnya dengan kedua telapak tangan, Mila bingung dan dilema, apa yang harus dia lakukan menyetujui perjodohan ini sama saja akan membuat hidup Mila hancur, dan kehamilannya akan diketahui jika Rey tahu, dia sudah hamil duluan, karena party dan cinta nya yang tulus di samakan oleh wanita lainnya.


Sampai akhirnya, derup suara langkah kaki terdengar mendekati Mila dan juga ibunya yang saat ini berada di ruang tengah.


Mila mendongak, saat itu pula ia melihat kehadiran Rey, pria yang baru saja mereka bicarakan.

__ADS_1


“Nak Rey sudah datang,” sapa ibu, membari beranjak dari tempat duduknya.


Rey mengulas senyum pada wanita parubaya itu.


“Ya tante, baru saja.”


“Tante sudah bicara sama Mila, sekarang tinggal kamu yang meyakinkannya, kalau begitu tante tinggalkan kalian berdua dulu ya,” sambungnya.


Yang berhasil membuat Mila terperanjat.


“Ibu mau kemana, di sini saja!” cegah Mila.


“Mila, kamu perlu bicara berdua dengan nak Rey, ibu permisi dulu,”


Di saat yang bersamaan, Rey terlihat mencari posisi nyaman untuk duduk tepat di samping Mila


Entah kenapa, Mila mendadak menjadi sangat canggung dan begitu gelisah terlebih lagi tatapan Rey yang begitu intens padanya, membuat darah Mila, rasanya seperti naik turun.


“Saya tahu kamu pasti merasa terkejut dengan wasiat terakhir kakekmu tapi memang itu lah kenyataannya, mendiang Kakek Dani ingin saya menikahi kamu Mila, saat melihat fotomu aku juga kagum akan wajah dan sifat baik penurut mu, aku tahu kamu dekat dengan Elin temanmu, tapi kita tidak bisa menolak perjodohan ini kan.” ingatan Rey, beberapa tahun lalu.


"Tidak mungkin, ka-karena aku sedang ha .." dan itulah awal Mila terusir.


Lamunan Mila, saat di belakang pintu. Membuat ia tersadar, ketika Bibi Roh, dan kedua anak anaknya menghampiri.


"Bunda, ayo kita udah ciaap nih." ujar Kanya.


"Iya, ayo bunda. Bunda aku dah bawain tas Bunda." senyum Bima.


Sementara bibi Roh, ia mendekat dan tahu apa yang dialami majikannya itu. Bibir Roh sebatang kara, sehingga ia ikut kemanapun Mila tinggal, bahkan Mila menganggap bibi Roh seperti ibunya sendiri.


"Non, kalau kurang sehat kita batalin aja, bibi bisa handle kok."


"Gpp bi, Mila hanya syok. Boleh Mila pinjam bahu bibi?"


"Bo-Boleh non." tersipu bibi.


Mila memeluk dan ingin rasanya ia menumpahkan segala kesedihan di bahu ibunya, akan tetapi kali ini bibi Roh sudah pasti tahu apa yang terjadi dengannya. Karena bibi Roh lah, saksi kehidupan Mila sejak ia kecil, hingga di usir karena memalukan membuat aib.

__ADS_1


"Dia datang lagi ya non? Den Rey, pasti menyesal. Andai dia dulu mau bekerjasama menutupi semuanya, mungkin luka non tidak akan seperti ini."


"Makasih ya bi! bukan itu saja, tapi dia .. Mila ingin dia tidak tahu, jika kedua anak anak Mila adalah miliknya." sendu Mila, menatap bibi Roh, sementara kedua anak anak Mila mengambil mainan berlari larian.


Deg.


Perkataan Mila, membuat bibi Roh berpikir. Apakah pria yang meminta ganti rugi soal mobilnya di lukis Bima, dan saat ini menjadi bosnya Mila.


"Ayo bi, aku bersiap sebentar ya. Kasian anak anak di sofa bermain dengan mainannya. Mila pasti bisa hadapi kok."


"Iy non, non pasti bisa. Bibi akan di garda depan, jika ada sesuatu dengan non Mila."


Mereka tersenyum, lalu Mila memeluk kedua anak anaknya, ketika asik bercanda. Dalam beberapa puluh menit.


Dan Mila pun menyetir beberapa kali ke toko makanan, kue dan minuman. Ia berencana ingin ke taman wisata di daerah puncak.


"Bunda, aku ceneng deh." ujar Kanya.


"Iy sayang! Kanya dan Bima, kalau butuh sesuatu minta sama bibi ya. Bunda fokus nyetir dulu."


"Iya, siap bunda."


Hingga Mila berhenti, memesan karcis. Tapi saat itu ia terkejut ketika salah satu orang membuat pandangannya tak berkedip.


"Ibu, jika sudah memesan. Anda bisa pindah dan memarkir mobilnya di ruang private khusus. Kali ini ada mobil jeep! di antarkan oleh driver khusus kami."


"Loh pak, saya ga perlu pake driver."


"Mohon maaf, karcis kedatangan ibu telah terpilih."


Mau tidak mau, Mila tidak bisa memutar balik karena kedua anak anaknya sudah menunggu. Akan tetapi, pria pemandu dan driver itu adalah ....?!


'Pak Kenan .. anda?' batin deru Mila.


"Silahkan ibu pindah, ke mobil jeep khusus kami. Saya sudah tahu, kedatangan ibu dan keluarga, saya pasti akan memberi perlindungan pada anda. Jangan lupa beri rate lima." bisik Kenan, seolah membuat Mila ingin pergi dan muntah saja.


"Kau mulai menguntit seperti dulu Kenan?" lirihnya, tapi Kenan hanya terulas senyuman apalagi menyambut kedua anak anak Mila, entah apa yang ada dipikiran Kenan saat melihat Kanya dan Bima.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2