
Heru pun dipersilahkan keluar oleh dokter, ketika Kenan kembali di periksa. Hal itu membuat Inggrid cemas, dan tak berdaya. Terlebih tuan Saputra datang mengambil jatah aset, yang tak bisa ia gunakan lagi.
"Nyonya! Saya berharap anda bisa menjaga tuan Kenan, ketika saya tidak bisa, bersamanya."
"Ga usah merintah, saya lebih tahu sebagai seorang ibu." ketus Inggrid.
"Baik nyonya! saya permisi."
"Tu-tunggu Heru, bisakah kau tarik tunai buatkan check dua miliar. Atas nama Kenan? saya mohon!"
"Maaf nyonya! saya memang sahabat dari Kenan, tapi saya bekerja dibawah kepemimpinan pak Saputra, jika menarik uang tidaklah mudah! bukankah Nyonya bisa tarik dari kartu hitam nyonya?"
"Ah, kau ini menyebalkan. Pergilah." ketus Inggrid, ia mendekat ke arah ruangan putranya itu, ketika dokter telah memeriksa.
Inggrid sendiri sudah tak punya apa apa, hanya menyisakan uang di dompet dan rekeningnya saja, hanya tersisa dua juta rupiah, bahkan perhiasan hanya melilit di tubuhnya saja. Menyebalkan rasanya, jika harus ia jual.
'Tidak bisa dibiarkan, aku harus cari cara. Ah! aku tahu, Shela. Dia pasti bisa bantu aku, untuk bicara pada ayahnya. Mengembalikan kartu hitam.' gumamnya membatin.
Shela sendiri terlihat bahagia, ia jalan ke arah Inggrid. Namun ketika ibu tua itu melihat ke arahnya, ia kembali berwajah sedih.
"Tante, kenapa disini?" tanya Shela.
"Tante tadi habis ke ruang administrasi, bayar biaya tagihan rumah sakit. Tapi, tadi papamu .." terdiam.
"Papa datang, untuk apa?"
"Shela, tolong bantu jelaskan sama papamu ya! minta waktu untuk sampai Kenan sembuh, kartu black tadi di ambil. Semua karena perusahaan bulan ini tidak seimbang. Please! tante ga bisa hidup jika tanpa uang."
Shela sendiri hanya menatap hempas, ketika melihat wanita tua di depannya ini. Bahkan ia hanya mengulir waktu, jika wanita tua ini bisa ia jadikan tameng, atau sebuah ide menyakiti Mila, tanpa mengotori tangannya sendiri.
'Inggrid si wanita tua, aku sih berharap putramu itu tidak sadar, sekalipun dia mati. Bahkan aku masih menikmati hartaku yang tidak dibagi.' gumamnya entah pada siapa.
"Shela, kamu kok senyum senyum. Dengar tidak yang tante ucapkan?"
"Heumh. Gimana ya tante, udah keputusan papi sih, menurut aku. Aku bisa bantu tante, kalau Tante dekatkan Kenan dengan aku. Bilang padanya, memori indahnya sama aku. Tapi, ada perjanjian khusus. Yang pasti, buat tante inginkan selalu menguntungkan. Satu lagi, jelek jelekan nama Mila, kalau dia yang membuat Kenan kecelakaan, dan hampir dibunuh."
Deg.
__ADS_1
"Gimana, tante bisa turuti permintaan Shela?"
"Bi-bisa dong. Gampang itu mah." senyum manis, membuat Inggrid happy. Tanpa melihat intrik Shela yang menyebalkan.
Sementara Di Beda Tempat.
Sudah sepekan Mila dan kedua anak anaknya, menjalani kebahagiaan tanpa adanya Kenan. Akan tetapi pagi pagi sekali sebuah mobil datang, membuat Mila tampak bingung, apakah ada pembeli yang ingin memborong kue nya lagi.
"Biar bibi aja non, non Mila bukannya mau bersiap buat anak anak sekolah."
"Ah! iya bi, makasih ya. Kebetulan Mila hari ini harus antar ke sekolah, karena jemputan bus, lagi off."
Mila pun masuk ke dalam rumah, memanggil Bima dan Kanya yang saat itu berada, di samping telepon.
"Sayang, kalian lagi apa? belum pakai sepatu?"
Bima dan Kanya berbalik arah, sambil menggenggam telepon rumah tanpa kabel, lalu Mila menunduk sejajar ke arah kedua anaknya itu.
"Kenapa sayang, ada yang mau kamu bilang sama bunda?"
"Boleh ya bunda. Boleh ya bunda .." tambah Kanya, merengek.
Mila sendiri bingung, ingin rasanya ia berbicara tidak. Tapi apa pantas, dia menjenguk Kenan, dimana Mila tidak ingin kedua anak anaknya semakin dekat.
"Nanti kita atur jadwal sama paman Heru ya, bunda tanyain dulu. Karena kalau di rumah sakit, ga bisa sembarang orang jenguk sayang. Oke?"
"Iya bunda." riang kedua anak itu.
Kanya dan Bima pun bersiap ke sekolah, dimana saat di luar ia melihat pria paruh baya, sedang berdiri di telepon. Tak lupa Mila hampiri bibi Roh, dan kedua anak anak Mila pamit pada asistennya.
"Bi.. Bima dan Kanya, pamit sekolah dulu ya."
"Iya den ganteng dan cantik, yang pinter biar sukses ya."
Mila juga ikut pamit, sehingga terlihat supir paruh baya itu menatap Mila tanpa kedip, dan senyum. Hingga Mila pun masuk ke dalam mobil, dan ia berlalu menuju sekolah.
"Bu, itu anak sama cucunya ya?"
__ADS_1
"Ah, yang tadi itu nyonya saya. Anak dari majikan saya yang dulu, dia anggap saya kaya ibu. Ah! kalau di ceritain mah panjang."
"Loh, emang bibi ga punya anak?" tanya supir.
"Punya atuh Jang! tapi, meninggal dari kecil. Kalau kata dokter, ada kembarannya. Tapi waktu dulu karena kami susah, ga bisa nebus. Dibawa sama dinas sosial, saya kerja rantau sama suami sama orangtua nyonya tadi, demi bisa nebus anak saya. Eh, katanya udah di rawat sama orang." jelas bibi Roh.
"Owalah, turut prihatin saya bu. Sama tuh kayak majikan saya, majikan saya unlimited loyal. Tuh di depan, dia aja anaknya ilang dibawa sama istri pertama, ah rumit emang kalau orang kaya mah kehidupannya, mending saya jadi supir tanpa beban." cetusnya sambil mengunyah risol.
"Semoga di mudahin ketemu ya Jang! totalnya, 350 ribu." ujar bibi Roh.
"Baik makasih ya bi, nanti kalau ada acara saya pesen lagi kesini." ucapnya.
Panglaris! lirih bibi Roh, yang kala itu senyum mendapat panglaris kue di pagi hari.
Sementara Mila, saat menuju pulang dari sekolah. Tak sengaja, mobilnya mogok. Mila pun keluar di tepi jalan, dimana ia melihat mobil yang ia lihat, ikut berhenti dan membuka kaca.
"Non, yang di rumah kue si kembar ya?"
"Ah, iya. Maaf bikin macet Kang! ban nya kempes." ujar Mila, terlihat dari belakang sudah membunyikan klakson.
Supir itu pun, di minta segera lanjut perjalanan. Karena sudah hampir terlambat.
"Ujang, cepat jalan!" ujar pak Saputra.
"Baik Tuan. Itu loh, yang tadi saya tegur. Pemilik kue yang baru saja, kita beli kue setengah jam lalu, mobilnya mogok tuan. Kasian kan, cantik cantik di tengah jalan, kebingungan. Dia juga katanya anak majikan yang dibuang, aku denger dari ibu sono yang layani kue ini."
"Kamu ini Ujang, gosip terus. Ayo cepat jalan! udah terlambat saya."
"Siap Tuan."
Sementara Tuan Saputra, terlihat membuka hordeng, akan tetapi. Sudah ada banyak yang membantu, sehingga tidak kelihatan jelas. Hal itu membuat Saputra sesak, andai ia bertemu Rini, dan menanyakan putri satu satunya dimana, menyesal jika ia ingat kejadian masa lalu, dimana ia sukses tapi tak seorang pun anak kandung yang ia miliki.
TBC.
Terimakasih atas dukungan Mila, tunggu crazy Up nya ya all. Yuks jejak like, komen lagi, kira kira ada yang bisa nebak ga nih?
Happy Reading, sampai ketemu di next bab.
__ADS_1