Baby Genius Sang Pilot

Baby Genius Sang Pilot
KEDATANGAN SHELA


__ADS_3

Esok harinya, Mila masih libur di hari besar. Mila ingin sekali waktunya bermain dengan kedua putranya, tapi tiba saja ketukan pintu membuat lamunan Mila terusik.


Tok! Tok!


"Pak Kenan, ada apa ya. Apa saya lupa tidak menyalakan ponsel jika di akhir pekan. Saya akan melihatnya, apa ada dadakan pertemuan penting, sehingga saya harus lembur?"


"Tunggu Mila, bisa aku masuk kedalam?"


Masuk, kedalam rumah saya pak. Tapi di dalam ... dan Mila pun tak tega, hingga akhirnya ia mempersilahkan sang atasan ikut serta sarapan makan bersama. Mila sedikit canggung, kenapa akhir akhir ini Kenan sering ke rumahnya, apa dia punya tujuan sesuatu.


Pertama kalinya Kenan menatap dua anak yang begitu lucu, menatapnya membuat dirinya lupa akan dendam pada Tuan Eric terhadap Mila.


"Pak Kenan, mau minum apa?"


"Yang ada saja, cukup air mineral ini juga sudah cukup. Saya minta maaf kebetulan tadi lewat, dan melihat kamu di depan menyiram pot lalu masuk ke dalam rumah. Jadi saya berbicara seperti tadi, bukan mau memintamu bekerja di hari libur."


"Oh."


Meski Mila sedikit bingung. Ia tak berani menanyakan ada keperluan penting apa, hingga Kenan berada di komplek ini. Sungguh komplek ini sangat sederhana dan jauh dari kata mewah. Jika tamu penting tak mungkin juga ada disekitar rumah tak jauh dari tempatnya. Gumam Mila kala itu, ia sedikit menuangkan juice ke dalam gelas.


"Apa saya mengganggu weekand mu Mila?"


"Saya pak, Eehm ... " Mila memutar mata dan melirik aksi Kedua anaknya yang menatap pria asing, di atas tangga kamarnya.


"Bunda, kenapa paman ini datang lagi?" tanya Kanya.


"Bunda apa dia seperti Dady, yang tersesat belum pulang pulang?" tanya kembali Bima.


Eh ... Bunda ... ini .. sayang!


Kenan terdiam, Mila pun membulat dengan gugup.


"Bi Roh." teriak Mila memanggil sang bibi. Dan meminta kedua anaknya yang telah bangun, untuk segera mandi.

__ADS_1


"Sayang, mama akan segera ke kamar. Kita akan segera ketempat Kanya dan Bima suka. Oke sekarang masuk dulu ya! nanti mama jawab soal dady, dan paman ini atasan bunda. Bukan dady." senyum getir Mila.


Deg!


Rasa sakit hati Kenan, membuat makin penasaran. Karena Mila menyembunyikan serapat rapat ini untuk sendiri. 'Apakah benar suami kamu di hongkong Mila?' batin Kenan.


"Oce.. Mama dandie ya?" ucap Kanya sedikit cadel. Menjulurkan kelingking ke arah sang Bunda, sebagai tanda Mila harus menepati janjinya. Tak lupa Mila pun tersenyum dan mengangguk.


Selepas kedua anak anaknya pergi, ke atas tangga hingga tak terlihat. Kenan pun berdiri dan bertanya satu hal lagi.


"Mila, maaf Jika saya telah mengganggu. Tapi rumah sejuk ini. Dimana kedua orangtuamu, dan suamimu?"


"Mereka tidak tinggal denganku! Jika sudah selesai pergi lah pak."


"Ok baiklah, sekali lagi maaf. Terimakasih atas waktunya Mila."


Mila terdiam, dan tak menjawab. Sehingga Kenan pamit dan masuk kedalam mobilnya. Mila ingin sekali menjawab. Tapi, apa penting jika sang atasan tahu, jika ia cerdas pasti ia sudah tahu jawabannya. Karena lama kelamaan juga Kenan akan tau sendiri.


"Mila Miranda terimakasih!" senyum Kenan, setelah masuk ke dalam mobilnya.


Tanpa banyak kata, Kenan menghubungi seseorang. Meminta data seorang Mila, yang hilang lima tahun lalu.


[ Aku akan bayar tiga kali lipat, asalkan cari informasi Mila sedeptailnya! ] sambungan ponsel pun terputus.


***


Mall Citraland


Dalam Mall terbaik, Mila memesan tiket mobil balap yang menyambung pada bidak listrik.


Kanya dengan Mila. Bima dengan sang bibi. Mereka asik melewati permainan dan saling beradu. Tawa haru bahagia mereka pecah sehingga suasana sedih, derita yang Mila alami sirna. Mila berharap, hidupnya dengan kedua anak anaknya baik baik saja, dan Kenan tidak pernah lagi datang dalam ke kehidupannya.


Sesaat telah selesai, Mila yang menggandeng kedua anaknya masuk ke ruang toilet. Ia menemani dan terlihat bibi Roh menunggu di tepi ujung taman. Mila pun duduk bersandar dengan memegang kedua tas kecil susu.

__ADS_1


Akan tetapi Mila tak yakin, seseorang itu ingin menghampirinya. Bukan tanpa alasan, Mila yang acuh karena merasa bukan dirinya, dikejutkan oleh wanita yang berdiri di depannya.


Tug. Tug. Suara langkah heels.


"Ya! anda cari siapa?" tanya Mila, yang kala itu sedang membuka snack untuk Kanya.


"Kamu Mila kan, aku minta waktunya sebentar bisa?" wanita itu membuka kacamatanya dan menatap sinis.


"Bibi, bawa anak anak ke kidzona dulu ya. Bibi ikut masuk dan bantu awasi, Mila akan menyusul. Jangan kemana mana, sebelum Mila datang!"


"Iya non, ayo sayang ikut sama bibi."


Lagi lagi Mila merasa tinggal di kota ini, selalu saja tidak pernah mendapatkan ketenangan. Entah siapa lagi, sehingga ia bisa kenal dengannya, anehnya Mila tidak ingat dan benar tidak mengenalnya.


"Lihat foto ini, apa kau mengerti?"


Mila menatap foto pernikahan Kenan dan wanita di depannya ini. Mila baru sadar, ia pernah melihat Kenan menikah dan berjanji suci di depan pendeta untuk saling bahagia, dan bersama seumur hidup. Mila yang ada di gerbang, ia tak tahu di rumah Kenan akan ada hari pernikahan, membuat Mila menatap Kenan melingkarkan cincin, pantas Mila tak kenal karena saat itu ia hanya melihat dari balik punggung.


"Apa maksud kamu, untuk apa di perlihatkan padaku?"


"Jangan berpura pura bodoh Mila. Ingat, aku Shela .. istri sah Kenan. Jangan lagi datang dan mendekati Kenan. Jika kau tidak ingin kedua anak anak lucu mu terjadi sesuatu."


Braagh.


"Jangan sentuh dia! kau akan berhadapan denganku, jika kau berani. Dan aku tidak berniat menempel pada suami orang! bahkan aku membenci Kenan hingga mati." berdiri Mila seolah ingin beranjak.


"Hah! Jangan munafik Mila. Kau bisa ganti rugi uang sepuluh juta! ketimbang kau masih bekerja di kantor suamiku. Kau pikir aku bodoh, menemui kamu tapi aku tidak mencari tahu kamu sedetail ini. Oh ya! bagaimana jika nanti Kenan tahu, jika setiap bulan ayahnya memberikan cek seratus juta agar dirimu hilang dari pandangan Kenan, bukankah jika ayah mertuaku tahu, dia akan murka. Oooh! aku tahu, aset keluargamu akan di rampas pasti." gelak tawa Shela, membuat Mila merobek foto di depannya.


"Omong kosong! ingatlah kata kataku Shela, jika suamimu tidak hangat padamu, artinya dia bosan dan ingin menghempas wanita tidak berguna, wanita yang suka dengan harta, dan tidak mau melahirkan anak. Sehingga aku tahu, jika ayah mertuamu membiarkan dirimu di ceraikan oleh putranya." senyum Mila, seolah membalikan fakta, membuat Shela terdiam kaku dengan seringainya.


"Dasar ka-uu..."


Mila pun senyum melambai tangan, ia menunjuk wajah Shela untuk tidak macam macam pada kedua anak anaknya, apalagi berani datang mengancamnya.

__ADS_1


Mila segera mencari keberadaan kedua anak anaknya, membuat dirinya hampir runtuh dan memeluk tiba tiba Kanya, dan Bima. Seolah Mila yang ketakutan pada masa lalu, ia berusaha tegar dan berani melawan, untuk tidak lagi ditindas seperti dulu.


TBC


__ADS_2